Massa Bakar Spanduk Logo Palu Arit PKI di Komnas HAM

Massa Bakar Spanduk Logo Palu Arit PKI di Komnas HAM

MusliModerat.net -  Puluhan orang yang tergabung dalam Keluarga Korban Kekejaman Partai Komunis Indonesia (KKKPKI) 1948 dan 1965 membakar spanduk bergambar palu arit. Mereka kecewa tak bisa bertemu komisioner Komnas HAM di kantornya.


Koordinator KKKPKI Arukat Djaswadi mengatakan pembakaran atribut itu sekaligus untuk mengingatkan tentang bahaya kebangkitan PKI.

"Jangan sampai PKI Bangkit lagi, cukup kita saja yang menjadi korban," kata Arukat saat berorasi di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/3).


Massa KKKPKI itu awalnya tiba di kantor Komnas HAM pukul 09.45 WIB. Mereka membawa atribut seperti poster dan spanduk anti-PKI. 

Arukat dan beberapa perwakilan KKKPKI langsung memasuki kantor Komnas HAM untuk meminta bertemu dengan para komisioner. 

Sekitar 15 menit kemudian, Arukat hanya diterima oleh staf Komnas HAM. Mereka tak berhasil menemui para komisioner lantaran sedang berada di luar kota.

"Para komisioner tak berada di tempat. Pokoknya kami ingin bertemu langsung dengan para komisioner," kata Arukat.


Kehadiran KKKPKI ke kantor Komnas HAM untuk menuntut pemerintah mencabut Surat Keterangan Korban Pelanggaran HAM (SKKPH). Surat itu telah diberikan Komnas HAM kepada para eksil Pulau Buru yang dituduh simpatisan PKI.

"Kami meminta presiden Jokowi tak memberikan permintaan maaf dan kompensasi berupa SKKPH kepada simpatisan PKI," kata Arukat.

Dia mengatakan pihaknya menolak segala bentuk kebangkitan PKI di Indonesia. Salah satu kebangkitan itu, menurut Arukat, terwujud dari permohonan SKKPH kepada Komnas HAM. 

"Itu akan dipakai oleh mereka sebagai peluang bahwa PKI bukanlah pelaku, tapi korban," kata dia.


Menurutnya, PKI merupakan dalang dari rentetan peristiwa tragedi yang terjadi pada 1945 dan 1965.

Akibat puluhan massa yang hadir di kantor komnas HAM tersebut, terlihat puluhan aparat kepolisian berjaga-jaga di sekitar gedung mengawal aksi tersebut. (pmg/cnnindonesia)

Baca juga:

Apa Komentar anda?