Mahasiswi Bercadar Jangan Dilarang, tapi Dibina dengan Penuh Keadilan

Mahasiswi Bercadar Jangan Dilarang, tapi Dibina dengan Penuh Keadilan

MusliModerat.net - Pembinaan mahasiswi bercadar dari ideologi radikal itu bagus, tetapi pembinaan tersebut juga harus dilakukan terhadap para mahasiswa secara keseluruhan untuk memenuhi rasa keadilan. Karena radikal itu dari cara berpikirnya yang keliru kemudian sikapnya yang bertentangan.

Hal itu disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin saat ditemui NU Online, Selasa (6/3) di Jakarta.

“Kalau radikal dalam artian kita harus bepikir mendasar dan mendalam memang kita harus melakukannya, tetapi jangan radikal dalam artian terlalu sempit dalam memahami agama, melakukan pemboman, dan perilaku tidak berperikemanusiaan lainnya,” urai Kiai Ishom.

Kalau memungkinkan para mahsiswi tersebut bisa diterima, sambungnya, tetap harus diterima. Lalu kemudian kampus melakukan penyembuhan terhadap para mahasiswi yang terindikasi radikal dari ideologi dan sikap radikalnya. 

“Jangan kemudian serta merta ditolak, lalu mereka kembali bergabung dengan kelompok radikal sehingga menyebabkan mereka semakin radikal,” terang kiai yang juga dosen UIN Raden Intan Lampung ini.

Ia tidak memungkiri, bercadar merupakan hak asasi para mahasiswi di sebuah perguruan tinggi. Tapi persoalannya seringkali mereka terlalu eksklusif (tertutup). Kelompok bercadar ini juga kerap membuat sekat terhadap kelompok yang tidak bercadar.

“Sekat-sekat inilah yang menimbulkan perpecahan dan bahayanya lebih besar daripada bercadar itu sendiri. Jadi perlu bijak menangani mereka yang bercadar maupun yang tidak bercadar,” jelasnya.

Kiai Ishom menyatakan, kebijakan peninjauan kembali terhadap mahasiswi bercadar perlu dilakukan. Di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta banyak para akademisi, ilmuwan, tidak sedikit lulusan pesantren, bahkan keilmuannya sekelas para kiai. 

Apakah mahasiswi boleh bercadar atau tidak, lanjutnya, tentu mereka sudah melalui berbagai pertimbangan. Ia menegaskan, jangan sampai perguruan tinggi di Indonesia menjadi sarang dari kegiatan radikalisme.

“Meskipun belum tentu semua orang yang bercadar itu radikal,” tandas Kiai Ishom. (Fathoni/NU Online)

Baca juga:

Apa Komentar anda?