Kesal Dituduh PKI, Jokowi: : Awas Kalau Ketemu Saya Gebuk Betul

Kesal Dituduh PKI, Jokowi: : Awas Kalau Ketemu Saya Gebuk Betul

MusliModerat.net - Presiden Joko Widodo kesal dengan pihak yang menudingnya terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI). Dia menegaskan akan menggebuk pihak yang menyebarkan isu tersebut.


"Jengkel tapi cari orangnya enggak ketemu. Awas kalau ketemu tak gebuk betul itu," kata Jokowi dengan nada kesal di Serang, Banten, Rabu (14/3).

Ekspresi jengkel terlihat di wajah Jokowi. Ia bukan kali pertama ini dikaitkan dengan PKI. Sejak pemilihan presiden 2014, Jokowi juga dituding terlibat dengan PKI.

Untuk kesekian kalinya, mantan Wali Kota Solo ini menjelaskan bahwa dirinya lahir pada 1961, sementara PKI sudah dibubarkan pada 1966.

"Masa PKI Balita? Ngawur kan seperti itu? Logikanya enggak masuk tapi ada yang percaya," katanya dengan nada dongkol. 

Jokowi kembali menyatakan hal itu fitnah dan biasa muncul jelang pemilu. Ia meminta masyarakat berhati-hati terutama dalam menyaring informasi yang beredar sebelum pilkada dan pilpres.

"Pilihlah pemimpin yang baik. Jangan sampai keliru, kalau keliru yang dirugikan juga masyarakat semuanya," kata mantan Gubernur DKI Jakarta ini.


Jokowi heran masih saja ada kabar bohong yang beredar soal PKI dikait-kaitkan dengan dirinya. Selama ini Jokowi mengaku ingin marah jika ada isu tersebut, namun tidak tahu caranya.

"Kalau tidak marah ya, bagaimana. Serba salah. Tapi kalau tidak diingatkan, akan ada orang yang masih percaya," katanya.

Permainan Politik

Jokowi juga meminta masyarakat tidak terbawa permainan politik jelang pilkada serentak 2018 dan pilpres 2019. Menurutnya kondisi politik menghangat karena penyebaran kabar bohong saat pemilu akan dimulai.

"Saya titip jangan sampai masyarakat termakan fitnah, isu bohong karena politik seperti itu. Jangan gampang percaya," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan pemilu hanya terjadi lima tahun sekali. Masyarakat sesungguhnya hanya tinggal memilih pasangan calon kepala daerah atau presiden yang diyakini terbaik.

"Jangan sampai perbedaan pilihan membuat dengan tetangga tidak saling sapa. Kita semua saudara sebangsa setanah air. Jangan jadi tidak rukun," tutur mantan Wali Kota Solo ini.

Hal ini disampaikan setelah menyerahkan Program Keluarga Harapan (PKH) Kartu Indonesia Pintar, serta surat tunjangan profesi se-Provinsi Banten yang diwakilkan lebih dari 2.319 orang.

Serang menjadi satu dari 171 daerah peserta Pilkada Serentak pada 27 Juni mendatang. Sementara itu, pencalonan presiden wakil presiden dilakukan Agustus ini. (pmg/cnnindonesia)

Baca juga:

Apa Komentar anda?