Kenapa Amerika Menciptakan Konflik di Suriah?

Kenapa Amerika Menciptakan Konflik di Suriah?


MusliModerat.net - Persoalan Suriah belakangan ini jadi perdebatan panas di Indonesia. Terjadi pro kontra terhadap Bashar Asad dan kaum pemberontak.

Mayoritas kaum muda NU mendukung upaya Bashar Asad menumpas gerombolan pemberontak.

Setelah Bashar Asad sukses menumpas kaum penyamun ISIS, kini fokusnya adalah menumpas kaum pemberontak.

Mengapa mayoritas anak muda NU pro Bashar Asad?

Perlu diketahui, siapapun yg berani menentang kekuatan Amerika dan Israel di Timur Tengah, pasti akan mengalami proses penghancuran.

Muammar Gaddafi dan Libya sdh hancur, Saddam Hussein dan Irak telah luluh lantak, Yordania pasca Raja Hussein pun telah tak berdaya. Kekuatan Hassan Nasrullah di Lebanon hanyalah kekuatan sporadis.

Mereka adalah kekuatan2 Timur Tengah yg selama ini dg kepala tegak berani menantang kekuatan Israel.

Apakah kita berharap ke Turki? Turki, tampaknya lbh nyaman sebagai Eropa daripada disebut bangsa Arab. Mesir? Negeri ini pun sdg sibuk dg dirinya sendiri.

Lalu bagaimana dg Arab Saudi? Ah, mengharap Saudi berani melawan kepentingan Israel dan Amerika, seperti pungguk merindukan bulan.

Alih-alih melawan, dinasti Saud justru menjadi sahabat paling karib bagi kepentingan Amerika dan Israel di Timur Tengah.

Bukankah lbh nyaman membombardir saudara muslim di Yaman daripada meluncurkan satu roket ke Tel Afif? Bukankah lbh enak mengembargo Qatar daripada mengembargo Israel? Bukankah lbh asyik duduk manis di pinggir laut merah sambil menikmati panorama senja nan indah, ketimbang mendengar desing mesiu dan roket Israel?

Lalu kepada siapa umat Islam berharap agar kekuatan timur tengah tdk terkonsentrasi pada satu poros Israrl-Amerika?

Tinggal Iran dan Suriah harapan itu muncul. Usaha penghancuran Iran sdh lama dilakukan. Tapi negeri para "mullah" itu selalu bisa bertahan.

Dan kini, melalui spionase konspirasi global yg pro Israel-Amerika, sasaran penghancuran dialihkan ke Suriah. Tapi Suriah hanyalah "sasaran antara" penghancuran. Target utamanya adalah Iran, yg hingga kini terus memperkaya daur ulang senjata nuklirnya.

Pada masa Presiden Hafedz Al-Asad (ayah Bashar Asad), negeri Damascus ini menjadi pilar penting poros kekuatan timur tengah yg berani menantang kesewenangan Israel. Hafedz Asad, dlm istilah M. Riza Sihbudi, dijuluki sbg "Sang Singa Gurun".

Pada era George W Bush, meski tdk memasukkan Suriah dlm "poros jahat", tapi Bush menyebut Suriah sbg "negeri para bandit".

Trah darah pemberani dan pejuang itu dilanjutkan oleh sang putra, Bashar Asad. Kendati tdk sekeras sang ayah, karena Bashar Asad lbh akomodatif dg dinamika politik Barat, tapi itu tdk menghapus stigma dasarnya. Anak singa tetaplah anak singa.

Suriah tetap menjalin poros kekuatan dg Iran, Hammas di Palestina, dan Hizbullah di bawah Hassan Nasrullah di Lebanon.

Ambisi Amerika utk "me-Libiya-kan" Suriah mmg tak semudah membalik telapak tangan. Putra Sang Singa Gurun itu melawan. Dan melalui konspirasi jahat, Amerika-Israel berhasil menciptakan situasi neraka di Suriah.

Pada saat ISIS menusuk jantung Suriah, kaum pemberontak di bawah sokongan Amerika dan sekutunya justru menjadi duri dalam daging, menggunting dalam lipatan.

Andai Bashar Asad tumbang, maka Iran akan tinggal sendirian menghadapi hegemoni Amerika-Israel.

Tapi sebuah ironi, di Indonesia, orang2 yg selalu berkoar-koar anti Israel dan merasa paling membela Palestina, justru melaknat perjuangan Bashar, sembari beridola pada Erdogan.

Siapakah para pelaknat Bashar Asad? Tak lain adalah H*i dan para simpatisannya. Mereka pro pemberontak. Dg berkiblat pada nformasi White Helmets pro Amerika, lalu diyakini sbg kebenaran tunggal.

Jadi, jangan heran jika penggalangan dana yg dilakukan oleh kelompok tertentu, seperti foto viral Seorang Ustad, bantuan justru dialirkan kepada kaum pemberontak..

White Helmets tak ubahnya MCA di Indonesia. Ia adalah budak konspirasi zionis utk melengserkan Bashar Asad. Mereka juga mengibarkan bendera pecah belah Sunni-Syiah, meniupkan isu lama yg dpt meretakkan persatuan umat.

Usaha persatuan itu, telah dirintis seorang Syekh Al-Azhar yg Sunni dg seorang ulama Syiah, bernama Sayid Syarafuddin al-Musawwi.

Para pelaknat Bashar Asad ini, di mulut meneriakkan persatuan umat, tapi dlm perilaku dan tindakannya justru berbicara lain.

Memupuk kekuatan yg berani menjadi martir melawan hegemoni amerika-israel, itu jauh lbh bermartabat daripada memupuk perbedaan Sunni-Syiah yg dpt memantik konflik baru di dlm tubuh umat.

Jika Bashar Asad tumbang, maka koleksi "boneka" Amerika di timur-tengah akan bertambah lagi satu.

Itukah yg antum-antum kehendaki?

Wallahu A'lam..

Dishare dari Parikesit

Baca juga:

Apa Komentar anda?