Rabu, 14 Maret 2018

Alumni Suriah Meminta Pemerintah Awasi Penyaluran Donasi ke Wilayah Konflik

MusliModerat.net -  Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami), yang menghimpun eks pelajar dan mahasiswa Suriah asal Indonesia, telah menyelenggarakan silaturrahim nasional (Silatnas) ke-6, pada tanggal 9-11 Maret 2018, di hotel al-Munawwarah Asrama Haji Kota Medan, Sumatera Utara, diikuti oleh 250 alumni Suriah dari seluruh Indonesia, membahas isu-isu strategis keagamaan (diniyah), kebangsaan (wataniyah), dan kemanusiaan (insaniya).

Dalam Silatnas ke 6 tersebut, Alsyami mengeluarkan 9 rekomendasi  menyikapi perkembangan politik di Timur Tengah serta imbasnya buat perkembangan politik nasional.

Dalam pernyataan tertulis,  Alsyami mengajak tokoh-tokoh agama, utamanya yang pernah belajar di Timur Tengah, untuk meningkatkan dan mengokohkan gerakan moderasi agama yang rahmatan lil ‘alamin, dan secara bersama-sama memerangi pemikiran ekstrem dan radikal, termasuk segala tindak kriminal berbungkus atau mengatasnamakan agama, terutama ujaran kebencian dan hasutan melakukan kekerasan, yang mengkhianati nilai-nilai luhur keagamaan dan kemanusiaan.

Mereka juga menyerukan kepada masyarakat untuk selektif memilih guru atau mempersepsi ulama/ustadz dan bersikap hati-hati dalam menerima informasi keagamaan yang bersumber dari media sosial/internet. Karena pembelajaran agama yang sempurna adalah yang didapat dari guru yang bersanad secara talaqi, dan informasi keagamaan harus merujuk sumber-sumber yang otoritatif dengan memperhatikan konteks kultural masyarakat setempat.

Menyarankan ormas-ormas Islam untuk memperkuat jejaring Islam wasati (moderat) yang merupakan jalan "al-sawad al-a’zam" (mayoritas) umat Islam dunia, memperhatikan perkembangan aliran keagamaan dan mengembangkan sistem respon dini terhadap ideologi aliran keagamaan yang membahayakan akidah, persatuan dan kesatuan bangsa.

Para mantan pelajar dan mahasiswa Suriah asal Indonesia tersebut meminta kepada pemerintah untuk bersikap tegas mengatasi persoalan radikalisme dan tidak tunduk kepada tekanan kelompok radikal. Karena itu diperlukan langkah yang komprehensif, termasuk dengan memperkuat payung hukum penanganan radikalisme-terorisme, dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan.

Mengimbau praktisi politik untuk berhenti menggunakan sentimen agama dalam pertarungan politik praktis, karena dampaknya yang amat destruktif dan dapat mengoyak kelangsungan hidup bangsa.

Alsyami Meminta kepada pemerintah untuk proaktif dalam menyikapi dinamika geopolitik negara-negara mayoritas muslim, terutama krisis Yaman, selain Palestina, Rohingya, dan Suriah. Selain itu juga, mendukung Arab Saudi untuk kembali ke Islam moderat dan mengajaknya bekerjasama mewujudkan dialog yang sehat dengan aktor negara regional untuk perdamaian dan harmoni Timur Tengah.

Mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menyalurkan donasi ke lembaga yang mengaku akan menyalurkannya kepada masyarakat tertimpa krisis atau konflik. Teliti kredibilitas, reputasi dan prosedur penyalurannya. Penyaluran donasi ke lembaga yang salah hanya akan menguntungkan lembaga penerima dan berpotensi menjadi sumber pendanaan konflik.

Memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah melalui kemitraan dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus Suriah dan menegaskan posisi Alsyami sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun dan merawat umat dan bangsa.[kompas.com]
Advertisement

Advertisement