Rabu, 07 Februari 2018

TGB Zainul Majdi: Khilafah Tidak Relevan di Indonesia

MusliModerat.net - Gubernur NTB, TGB. Zainul Majdi tegaskan Khilafah Tidak Relevan di Indonesia

Demikian  petikan isi Pidato Kebangsaan DR. KH. TGB. Zainul Majdi, Gubernur NTB, di Pesantren Bina Insan Mulia Ceribon, yang mengangkat tema Merangkai Simpul-simpul Keindonesiaan.


Acara yang digelar dari jam 21.30 sampai 23.00 pada Juma’at, 2 Februari 2018 kemarin, memang menempatkan TGB. Zainul Majdi, demikian beliau biasa dipanggil, sebagai narasumber tunggal.

Diskusi yang dihadiri peserta terbatas ini berlangsug sangat hangat. Pihak pesantren sengaja mengundang berbagai elemen masyarakat, seperti para kyai, para tokoh masyarakat, akademisi, LSM, mahasantri, mahasiswa, politikus lintas partai, dan professional di kota Cirebon.
Menurut Zainul Majdi, Gubernur NTB yang sudah terpilih dua kali ini, hasrat penerapan sistem khilafah di Indonesia tidak relevan.

Alasannya adalah NKRI ini lahir bukan hadiah dari penjajah, tapi justru sebagai alat untuk menggalang persatuan dalam rangka melawan dan mengusir penjajah.

Dalam cermahnya, beliau mengatakan bahwa NKRI ini lahir sebagai penyatuan dari keterpisahan wilayah di Indonesia. Maka, ketika NKRI ini berdiri, kita mendengar bagaimana sejarah mencatat para raja dan sultan menyerahkan kekuasaannya, seperti di Yogjakarta, Solo, di luar Jawa, dan lain-lain untuk memperkuat NKRI.

Hal ini, menurutnya, berbeda dengan apa yang terjadi negara-negara seperti Arab Saudi, Oman, atau Kuwait. Di sana, nation yang terbentuk adalah nation yang digagas oleh penjajah untuk memecah belah keutuhan.

Kita tahu bahwa Inggris dan Perancis telah memecah belah keutuhan mereka dengan aksi penjajahannya. Maka hadirnya wacana khilafah yang ditawarkan oleh para pemikir di sana mendapat sambutan di masyarakat.

“Jadi, dengan skenario dan pemecahan yang dilakukan para penjajah, maka tumbuhlah resistensi yang kemudian melahirkan kembali sistem kekhalifahan”, tegasnya.

Kita di Indonesia, menurut beliau, tidak punya pengalaman itu. Jika nation state yang ada di Jazirah Arab itu merupakan rekayasa dari penjajah Arab untuk pemecahan terhadap satu kesatuan, tapi kalau kita di Indonesia justru sebaliknya.

Zainul Majdi mengingatkan banyak di antara kita yang kerap gagal menerjemahkan pengalaman bangsa lain atau orang lain lalu menerapkannya mentah-mentah tanpa proses kontekstualisasi dengan realitas historis kita.

Misalnya ada seorang pejuang kemerdekaan yang ditangkap penjajah, lalu dijebloskan ke penjara, dan di dalamnya mengalam berbagai penyiksaan. Ketika pejuang tersebut menuliskan pengalamannya, pasti akan menyuarakan pergolakan dan perjuangan melawan penjajahan, namun tidak bisa ditangkap mentah-mentah untuk konteks kita. “Jadi, yang salah bukan mereka, tapi kitalah yang gagal menerjemahkan pengalaman orang lain dengan kontekstualisasi”, tandasnya.


Dalam Islam, kontekstualisasi ini penting. Menurutnya, Islam tidak hadir di wilayah yang kosong, tapi hadir untuk mengisi, menyelesaikan, dan mengharmoniskan realitas yang padat dengan segala perbedaan warna-warninya.

Membahas soal nasionalisme, beliau membedakan antara nasionalisme yang dimaknai sebagai hubbul wathon atau cinta negeri yang mewujud dalam kehendak untuk lepas dari segala penjajahan dengan nasionalisme yang digunakan untuk mengkokohkan hasrat kesombongan sebagai suatu bangsa. “ Nasionalisme dengan makna hubbul wathon yang berbentuk kehendak kuat untuk lepas dari segala penjajahan diakui oleh Islam”, tegasnya.


Advertisement

Advertisement