Kyai NU Ini Bongkar Upaya Cuci Otak Kelompok Tukang Fitnah

Kyai NU Ini Bongkar Upaya Cuci Otak Kelompok Tukang Fitnah


HATI-HATI upaya “cuci otak” semakin gencar.

Seorang perempuan berjilbab duduk di sebelah saya di pesawat dan selama percakapan perempuan itu memanggil saya “kiai”, mungkin karena saya bersarung dan berkopiah. Setelah basa-basi tanya asal dan tujuan, perempuan itu mencoba men-“cuci otak” saya, yang tentu tak saya diamkan. Walhasil, perjalanan satu jam menjadi “panas”. Berikut rangkumannya:

Perempuan (P): Pemerintah sekarang anti Islam. Ulama’ dikriminalisasi.

Saya (S): Tidak benar pemerintah anti Islam; apa umat Islam dilarang beribadah dan menjalankan syariat Islam? Soal kriminalisasi ulama’, pemerintahan yang lalu juga memenjarakan ulama’, kok gak ada yang menudingnya sebagai kriminalisasi ulama’? Karena memang semata soal penegakan hukum.


P: Pemerintah ajak kiai jalan-jalan ke China untuk melemahkan iman para kiai.

S: Kalau saya diajak jalan-jalan untuk melemahkan iman, saya ambil jalan-jalannya tapi saya tolak pelemahannya.

P: LGBT akan disahkan oleh pemerintah dengan dukungan dari negara-negara barat. Sudah digelontorkan dana trilyunan untuk mensahkan UU yang membolehkan LGBT.

S: Sudah ada bantahan dari DPR bahwa tidak ada pembahasan RUU LGBT, pun tak ada RUU LGBT di prolegnas (program legislasi nasional). Negara mana yang menggelontorkan trilyunan untuk itu?

P: Reklamasi di Jakarta itu untuk menampung orang-orang yang didatangkan dari China, tidak tanggung-tanggung 200 juta orang. Ini untuk mengkomuniskan Indonesia. Ini sudah berjalan sejak 1997.

S: Kalau sudah berlangsung sejak 20 tahun yang lalu kenapa baru diributkan sekarang? Dari 1997 sampai sekarang presiden sudah ganti-berganti. Soal angka 200 juta orang coba kita itung; kalau setiap hari 10 ribu orang dimasukkan ke Indonesia maka akan butuh waktu 20.000 hari atau sekitar 55 tahun. Penerbangan yang diperlukan 20 penerbangan Boeing 747 yang berkapasitas 500 orang.

Ketika pesawat mendarat perempuan itu berkata;

“Cinta membabibuta Pak Kiai terhadap pemerintahan sekarang membuat Pak Kiai tak membuka mata terhadap kebobrokan pemerintahan sekarang!”

“Benci membabibuta Ibu terhadap pemerintahan sekarang membuat Ibu tak membuka mata terhadap kebaikan pemerintahan sekarang!”, kata saya tegas mengakhiri pembicaraan!

Sumber : Drs. K.H. Zainal Arifin Junaidi, M.B.A., Ketua PP LP Ma’arif NU

Baca juga:

Apa Komentar anda?