KH Masduqie Machfudz, Demi Nafkah Halal, Rela Menjadi Sopir Bemo

KH Masduqie Machfudz, Demi Nafkah Halal, Rela Menjadi Sopir Bemo

MusliModerat.net - Malang adalah gudangnya Kiai Nahdlatul Ulama. Sejarah mencatat, tak sedikit pergerakan NU di awal masa-masa kemerdekaan yang dipelopori dari Malang. Diantara tokoh yang membesarkan bendera NU dari Malang tersebutlah Rais Syuriyah PBNU 2010-2015, KH Masduqie Machfudz. Beliau yang akrab disapa Abah Duqi itu tercatat dalam sejarah sebagai salah satu kiai yang memperkenalkan penggunaan laptop sebagai sarana pengajian dan bahtsul masail. Termasuk pula, pelopor penggunaan file e-book untuk kitab-kitab kuning.

Kiai Masduqi lahir di di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. Sejak masa belia, Kiai Masduqi lahir dan tumbuh dalam keluarga yang mandiri dan sangat fanatik terhadap agama.Hal tersebut pernah disampaikan secara mendetail kepada penulis semasa beliau masih aktif memberikan pengajian di kompleks Masjid Sabilal Muhtadin, Poncokusumo yang terletak berdampingan dengan kediaman penulis. Setiap Jumat Pahing, Abah Duqi memang memiliki agenda rutin untuk memberikan khutbah Jumat dan pengajian disana.

Kemandirian dan kedermawanan adalah dua hal yang melekat dalam sosok Kiai Masduqi sejak kecil. Hal tersebut tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Dari jalur nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, Jogoboyo dari kerajaan Mataram. Dalam sebuah riwayat diceritakan, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau selalu menjadi pemberi peringatan dengan memukul bedug. Suara bedug yang dipukul Syaikh Abdullah secara ajaib dapat diperdengarkan sampai ke seluruh wilayah kerajaan Mataram yang cukup luas. Sebuah karomah yang hanya dimiliki oleh orang-orang terpilih.

Sejak lulus dari Pesantren Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Berbagai sumber menyebutkan, selain dermawan, Kiai Masduqi termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh memegang syariat Islam. Bahkan, dikisahkan, ketika menjadi dosen, pendiri pesantren Nurul Huda, Mergosono itu juga sempat menjadi supir bemo. Itu dilakukan, lantaran ketika itu Kiai berpendapat bahwa gaji PNS termasuk syubhat sehingga untuk menafkahi keluarganya, Kiai memilih untuk bekerja yang jelas halalnya. ’’Kalau ada mahasiswanya yang kebetulan naik bemonya, sama beliau sering tidak boleh bayar. Sungguh sebuah teladan haya hidup waro’ yang harus dikenang oleh kami para pengurus NU dan jamiyyahnya ini,’’ ujar KH Saiful Effendi, Wakil Katib PCNU Kabupaten Malang yang pernah menjadi santri beliau.

Karena dibesarkan dalam lingkungan religius sikap dan pandangan hidupnya ala santri melekat dalam gaya hidup sehari-harinya. Kiai Masduqi ketika kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri. Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga  saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.



Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah.

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya). (*)

*) Zulham A Mubarrok, berbagai sumber, diolah.

Source: Nukita.id

Baca juga:

Bagaimana Menyikapi Habib Bahar?

Bagaimana Menyikapi Habib Bahar?

Apa Komentar anda?