Jangan Pernah Remehkan Nyali Presiden Jokowi!

Jangan Pernah Remehkan Nyali Presiden Jokowi!

MusliModerat.net - Republik Islam Afghanistan adalah sebuah negara yang tercabik-cabik akibat teror. Ada banyak kelompok Islam ekstrim yang berkembang di sana, mulai Taliban, Al Qaeda, hingga ISIS. Taliban sering menggerebek kota-kota dan mengambil alih pusat atau tempat yang berada di bawah kontrol pemerintah, melakukan pembunuhan, dan secara acak melakukan serangan bom. Setelah mengambil alih sebuah wilayah, Taliban akan merekrut pendukung, melatih pasukan, mengumpulkan pajak, dan bahkan menetapkan gubernur untuk wilayah tersebut.

Di tahun 2017 saja, lebih dari 200.000 warga Afghanistan yang terpaksa menjadi pengungsi di dalam negeri (meninggalkan desa/kota pindah ke wilayah lain) karena konflik internal. Dalam kondisi seperti ini, tak heran bila kemiskinan terus meningkat di sana. Saat ini, GDP per kapita mereka hanya 560-an USD, jauh di bawah Indonesia 3600-an USD. Indeks pembangunan manusia (HDI) Afghanistan pun rendah, yaitu 0,479 (rangking 169 dari 193 negara anggota PBB).

Sementara, tentara Afghanistan yang berjumlah 350.000 personil hanya mampu mengontrol 50% wilayahnya. Dengan alasan membantu tentara Afghanistan melawan teroris, ratusan ribu tentara NATO (saat ini sudah berkurang jadi belasan ribu) bercokol di negeri itu.

NATO, yang dipimpin AS, berlagak jadi pahlawan di Afghanistan. Padahal justru AS-lah yang membuat buku-buku pendidikan ‘jihad’ yang disebarkan di Afghanistan via USAID dengan menghabiskan 51 juta dollar pada tahun 1980-an. Buku-buku yang penuh dengan gambar-gambar kekerasan dan ajaran Islam ekstrim ini disuplai ke anak-anak sekolah di Afghan, dan bahkan Taliban menggunakan buku produksi Amerika ini. Hillary Clinton pun pernah terbuka mengakui bahwa memang AS-lah yang mendanai para “mujahidin” (Taliban/Al Qaida) itu.


Afghanistan seolah ‘laboratorium’ bagi dunia, bagaimana hasilnya bila sebuah negara dicekoki paham ‘jihad’ yang sebenarnya bukan berasal dari Islam yang hakiki (Islam rahmatan lil alamin), yang perkembangannya direkayasa oleh kekuatan imperialis dunia.

Meski tengah dilanda ‘badai’, Afghanistan tetaplah sahabat Indonesia. Afghanistan-lah satu di antara beberapa negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia. Dulu, di masa damai, ketika Afghanistan masih berbentuk kerajaan, Presiden Sukarno datang ke Afghanistan dan disambut hangat oleh Raja Zahir Shah (1961). Kini, sebagai sahabat, Presiden Indonesia pun berkunjung meski Afghanistan tengah dalam kondisi sulit.

Kunjungan Pak Jokowi adalah kunjungan dengan nyali besar. Delapan hari, lima hari, dua hari, bahkan dua jam sebelum kedatangan Pakde, serangan bom dari teroris terjadi di Kabul (ibu kota) dan Jalalabad. Pelakunya adalah Taliban dan ISIS.

Karena Indonesia dan Afghanistan sama-sama menghadapi masalah akibat radikalisme/ ekstrimisme (tentu, Afghanistan jauh lebih parah), kedua presiden pun saling bertukar pesan yang terkait dengan isu ini.

Dulu, saat Presiden Ashraf Gani berkunjung ke Indonesia, dia berpesan kepada Pakde supaya “menjaga negara Indonesia yang sangat besar agar jangan sampai ada pertikaian, jangan ada perpecahan.”

Sebaliknya, Pakde di Afghanistan berpesan bahwa “perdamaian bukan situasi yang datang dari langit. Perdamaian harus diupayakan” dan “Indonesia siap membantu Afghanistan mewujudkan perdamaian.”

Sayangnya, ada saja yang suka salah fokus dengan sengaja. Ada yang setinggi langit muji-muji paspampres hanya untuk pamer pernah naik pesawat nganu. Ada pula yang sibuk ngurusin, kok ada 2 foto berbeda, yang satu Pakde jadi Imam, yang satu Pakde jadi makmum, lalu sibuk mengarang cerita tentang apa yang terjadi. Akibatnya pesan pentingnya malah terabaikan.

Jadi, mari kita kembali fokus pada pesan penting dari kisah kunjungan Pakde ke Afghanistan: perdamaian harus diperjuangkan. Caranya, tentu dengan melawan radikalisme/esktrimisme dan jangan lupakan, siapa sponsor di belakang kelompok-kelompok radikal/ekstrim itu, supaya tidak salah arah saat berjuang melawannya; juga tidak salah kubu: mau melawan ekstrimisme eh malah kejeblos ke kubu ZSM. Angkat jempol untuk nyali Pakde (dan bu Menlu, dan segenap tim yang mendampingi, termasuk Paspampres). (ARN)

Sumber: Akun Facebook Dina Sulaeman

Baca juga:

Apa Komentar anda?