Senin, 05 Februari 2018

Ini Alasan Mengharukan Gus Ipul Mencium Tangan Megawati

MusliModerat.net - Wagub Jatim yang juga Cawagub Jatim pada Pilgub Jatim 2018 Saifullah Yusuf, akhirnya buka suara seputar perempuan-perempuan yang paling dihormati karena memiliki jasa besar dalam kehidupannya.

Penjelasan itu disampaikan Gus Ipul sapaan akrab Saifullah Yusuf saat menghadiri Temu Kangen dan Bahtsul Masail IKSAAJ NUSANTARA (Ikatan Santri Alumni Al-Ikhsan, Jrangoan) Omben Sampang, Madura, di Surabaya Minggu (4/2/2018).

Awalnya ada beberapa peserta bahtsul masail melontarkan pertanyaan seputar cium tangan Gus Ipul kepada Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnopuri yang sempat ramai di media sosial maupun media sosoal. Menjawab pertanyaan tersebut,  Gus Ipul dengan santai mengatakan bahwa ada banyak orang yang telah berperan dalam kehidupannya selama ini sehingga dia merasa memiliki hutang budi.

Salah seorang yang dimaksud Gus Ipul itu adalah Megawati Soekarno Putri. Selain ibu kandungnya, Nyai Hj Sholehati, Gus Ipul juga pernah diasuh dan dibimbing oleh Nyai Hj Muchassonah Iskandar selama beberapa tahun. “Beliau itu ibundanya Muhaimin Iskandar. Saya mondok dan nginapnya di rumah beliau yang merupakan kakak kandung ibu saya,” ujar ketua PBNU ini.


“Lalu Nyai Hj Nuriyah Shinta Rahman, isteri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),” tambah Gus Ipul. Selama kuliah di Jakarta, dia tinggal bersama di keluarga Gus Dur.

Setelah itu, kata Gus Ipul dirinya bersama Muhaimin Iskandar oleh Gus Dur dititipkan kepada Megawati. “Beberapa tahun saya ikut Bu Mega. Sampai akhirnya beliau yang membantu pernikahan saya dengan isteri saya sekarang itu,” kenang Gus Ipul.


Jadi, lanjutnya, ada lima orang perempuan yang memiliki peran besar dalam perjalanan hidup Gus Ipul selama ini. Mereka adalah Ibu kandungnya, ibundanya Muhaimin Iskandar, isterinya Gus Dur, Megawati Soekarno Putri dan ibu mertuanya. “Masak cium tangan orang tua itu saya dibully,” kelakar Gus Ipul disambut tawa hadirin.

Menurut ketua PBNU ini, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial dan politik, menyebabkan munculnya beragam persoalan. Tetapi masyarakat pesantren sudah terbiasa bergumul dengan persoalan hidup. Untuk mencari jalan keluar dari problem tersebut, masyarakat bisa kembali meniru ke pesantren.

Dunia pesantren, sudah terbiasa melakukan kajian atas berbagai masalah yang biasa berkembang di tengah-tengah masyarakat. Sebab, kata Cagub Jatim yang berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno ini, pesantren memiliki banyak kitab-kitab kuning (klasik) karya para ulama besar dari berbagai belahan dunia yang membahas beragam ilmu keagamaan.

Para santri, jelas Gus Ipul, sudah terbiasa dengan kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan dalam penetapan hukum. Mereka belajar, membacanya berulang-ulang serta melakukan pengkajian. “Para santri seperti di Pesantren Al Ikhsan Omben Jragoan ini juga sudah bisa mengaji kitab dengan para ulama,” terang Gus Ipul disambut tepukan peserta bahtsul masail.

Dari kitab-kitab itulah, lanjut Gus Ipul, para ulama dan kiai mengambil referensi untuk memberi jalan keluar persoalan yang dihadapi masyarakat. “Persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, dibahas oleh para ulama lewat jalan musyawarah. Musyawarahnya itu lewat forum bahtsul masail,” jelas Gus Ipul.

Bahtsul Masail dilakukan dengan jalan mencari dalil agama, baik lewat nash Alquran maupun hadits nabi. Para ulama lalu berijmak. Kalau masih belum menemukan dalil yang tepat, maka para ulama akan menggunakan mekanisme qiyas. Jadi untuk sampai pada kesimpulan hukum, jalannya sangat panjang,” beber Gus Ipul.

Saat menutup acara pembukaan bahtsul masail, pengasug pondok, KH Mahrus Malik, mendoakan agar Gus Ipul sukses mengemban amanat memimpin Jawa Timur. Para peserta juga menyatakan siap membantu dan berharap Gus Ipul memenangkan kontestasi dalam Pilgub Jatim 27 Juni 2018 mendatang.  (ud/duta.co)
Advertisement

Advertisement