Gus Ulil Abshar Abdalla Taubat dari JIL (Jaringan Islam Liberal) Setelah Ngaji Ihya Ulumiddin

Gus Ulil Abshar Abdalla Taubat dari JIL (Jaringan Islam Liberal) Setelah Ngaji Ihya Ulumiddin

MusliModerat.net - Semalam ketemu Ulil Abshar Abdalla di Yogyakarta. Di Kafe Basabasi, aktifis Jaringan Islam Liberal itu ngobrol tentang aktifitasnya “Ngaji Ihya’ Ulumiddin” bersama sekitar 300-an anak muda yang memadati kafe milik penulis Edy Mulyono itu.

“Saat pertama saya ngaji Ihya’ online via facebook yang menyimak 20.000 orang lalu stabil di angka 300 orang hingga saat ini. Ini sama persis dengan jumlah murid al-Ghozali saat itu,” canda Ulil. “Kata al-Ghozali, pada tiap manusia ada kekuatan jahat yang mengalir pada darahnya. Kekuatan itu yang harus dijinakkan,”lanjutnya.

Kata al-Ghozali juga, syarat orang boleh melakukan nahi mungkar adalah tidak boleh menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. “Kitab Ihya’ mendorong kita untuk menjadi ‘FPI’ bagi diri kita sendiri,” tandas Ulil.

Ya benar, Ulil yang dimaksud di sini adalah orang yang pernah membuat gempar publik dengan tulisan dan gagasan-gagasannya tentang Islam yang kemudian dia beri label “Islam Liberal”. Sebuah gagasan yang bertumpu pada keyakinan bahwa teks-teks al-Quran harus direaktualisasi kembali melalui tafsir-tafsir yang lebih kontekstual.

Gagasan Ulil yang “membongkar” dan “mempertanyakan” kembali pemahaman mainstreem tentang dalil-dalil naqli itu mendapat reaksi keras umat Islam yang berpandangan pemahaman atas teks-teks itu “sudah selesai”. Mainstreem Muslim konservatif menilai, pemikiran Ulil berbahaya dan melenceng dari “pakem” keberislaman yang selama ini mereka anut. Celakanya, penolakan itu tidak hanya datang dari kalangan “Islam modern” yang cenderung tekstual dan skriptural, penganut “Islam tradisional” pun yang notabene adalah komunitas asal Ulil tak kalah keras menolaknya.

Penolakan-penolakan yang diantaranya malah diwarnai ancaman dan vonis yang membahayakan fisik Ulil itu lambat laun membentuk stigma yang mengalienasi dia. Meski Ulil sempat “melawan” dengan melakukan pelbagai klarifikasi kepada para “musuhnya” di banyak forum “tabayyun” tapi tak cukup bisa menolongnya dari pengucilan itu. Statusnya sebagai menantu KH. Mustofa Bisri pun tak cukup membantu.

Sebagai pemikir, Ulil bisa dikatakan punya bekal yang lengkap. Dia berada pada dua tradisi sekaligus: pesantren dan modern (Barat). Statusnya sebagai lulusan pesantren membekalinya dengan literatur klasik yang mumpuni sekaligus, tentu saja, penguasaan bahasa Arab yang bagus. Label “intelektual Muslim” dia dapat selepas menamatkan pendidikan di sebuah sekolah filsafat dan tulisan-tulisannya menghiasi banyak media. Ulil menguasai bahasa Inggris sama baiknya dengan penguasaannya terhadap bahasa Arab. Itu memungkinkannya melakukan penjelajahan literasi pada dua tradisi keilmuan itu dengan ruang jelajah lebih luas dibanding mereka yang hanya fokus pada salah satunya.

Tapi sehebat apapun Ulil, vonis sudah dijatuhkan. Stempel “liberal” pada keningnya tak hanya menjadi dinding yang membatasi dia dari komunitas “sasaran dakwahnya” tapi memantik resistensi luas dari kalangan Muslim bahkan sebelum mereka menyimak gagasan-gagasannya.

Maka Ulil yang 20 tahun lalu menyebut dirinya “calon pemimpin NU” mendapat sambutan dingin dari muktamirin saat maju sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar Makassar. Ruang edar Ulil pun terbatas pada komunitas “kecil” elit yang punya tradisi pemikiran serupa dengannya. Sebagai cendekiawan Muslim mungkin dia terpuaskan dengan pencarian-pencarian kebenaran versinya, tapi sebagai aktivis sosial, saya menduga, Ulil merasa kesepian. Setiap aktivis ingin apa yang dilakukan memberi dampak luas bagi lingkungannya. Dan Ulil terlalu besar bagi lingkungan “liberalnya” yang “sempit”.

Maka bermetamorfosalah Ulil. Jika kehadirannya sebagai pemikir Islam Liberal ditandai dengan tulisan “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” di Kompas, 18 Desember 2002, maka sosok Ulil yang “baru” dia tandai dengan serial kajian kitab “Ihya Ulumidiin” karya al-Gozali. Mengapa dia memilih “strategi” ini? Alasan sebenarnya tentu hanya dia dan Tuhan yang tahu. Saya menduga, Ulil ingin mengasosiasikan dirinya dengan al-Ghozali yang di kalangan Muslim kebanyakan diterima sebagai pemikir besar Islam. Ihya’ sendiri mendapat tempat terhormat di semua pesantren, institusi pendidikan yang memiliki legitimasi kuat di kalangan Islam tradisional. Dengan label “Ihya” Ulil ingin menghapus cap “Neo Muktazilah” yang kadung tersemat padanya.

“Setelah ngaji Ihya, ancaman-ancaman pada diri saya hilang dengan sendirinya,” aku Ulil semalam.

Muncul penilaian, perubahan pada diri Ulil ini merupakan bentuk “pertaubatan”, sebutan yang, lagi-lagi saya duga, cukup dinikmati Ulil. Dengan tak membantah istilah itu, Ulil ingin meruntuhkan tembok tebal yang selama ini memisahkan dia dari “umatnya”.

Bagi saya pribadi, ini hanya soal pilihan strategi dakwah saja. Pada sosok sekaliber Ulil sulit membayangkan terjadi pembelokan drastis pada paradigma berpikir. Bahwa dia menemukan yang salah pada pemikiran-pemikirannya di masa lalu kemudian mengoreksinya, itu sangat dimungkinkan. Tapi bukankah kritis kepada diri sendiri juga bagian dari tradisi pemikiran liberal?

Sebagai seorang intelektual tak ada yang berubah pada diri Ulil. Dia terlihat semakin matang dan nyaman dengan “manhajnya”. Tapi sebagai aktifis sosial dia mengubah strateginya. Dia ingin memberi dampak lebih besar pada aktifitasnya.

Yang tak boleh dilupakan, Ulil kini juga seorang politisi. Status baru ini menuntutnya untuk memperluas “ceruk” pengaruh karena mempertimbangkan faktor “likebilitas” dan “elektabilitas”. Apakah benar demikian Mas Ulil? Wallahu a’lam bisshawab. (Tulisan Abdul Arif dengan judul asli “Pertaubatan Ulil”)

Sumber: Pustakamuhibbin.club

Baca juga:

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Mereka yang mau memberontak negara tapi berlindung dibalik Kalimat tauhid, Khawarij namanya

Apa Komentar anda?