Rabu, 28 Februari 2018

Dosen Wanita UII Anggota MCA Sebar Hoax, Niat Jihad dengan cara Jahat


MusliModerat.net - Berbicara tentang maraknya aksi penyebaran hoax dan ujaran kebencian oleh orang-orang yang mengaku dirinya beragama dan menggunakan atribut agama, tentu merupakan sebuah pemandangan yang miris.

Melihat atribut agama yang digunakan, dengan tindakannya yang sangat bertolak belakang dengan ajaran agama manapun, mereka adalah sejatinya penista agama. 

Dosen tak tetap UII yang menjadi sasaran ciduk polisi pun merupakan anggota MCA yang ikut-ikutan menyebarkan hoax. Hoax yang ada, rasanya sengaja dilakukan untuk melemahkan bargaining position dari Pak De Joko Widodo.

Mereka dipesan oleh pemesan misterius, yang seharusnya mudah untuk diketahui. Partai-partai mana yang memesan, dan mendanai, dan bahkan menjadi sumber penyebaran kebencian, harus segera dibongkar dan diungkap ke publik.

"Kami sedang konfirmasi ke bagian SDM, punya data lengkap di sana. Karena ada 1.000 lebih dosen di UII kita tak hafal namanya… Saya baru dengar informasi ini dari media, kalau di grup dosen dan karyawan UII belum ada info itu… " ujar Direktur Humas UII, Karina Utami Dewi, SIP,MA kepada detikcom, Selasa (27/2/2018). Sumber ucapan Direktur Humas UII, Karina Utami Dewi, SIP, MA bisa diakses di sini.

Informasi dosen UII pun harus dicek kebenarannya. Dosen yang berjumlah ribuan itu, memang sulit untuk dilacak. Apalagi ia dosen yang dianggap sebagai penyusup ajaran radikal. Tidak mungkin jika orang-orang semacam ini, tidak menanamkan benih-benih radikalisme kepada para mahasiswanya.

TAW menulis di postingan Facebook-nya:

"SIAPA KEMAREN YANG KEPANASAN SUARA ADZAN ?? dan seorang Muadzin jadi korban (yang katanya) orang gila. Innalillahi wa innailahi Rojiun, nama beliau bpk Bahron seorang muadzin di desa sindang kec. Cikijing. Majalengka Jawa Barat. Modus perampokan disertai pembunuhan...Mungkin kah orang gila lagi pelakunya?

KEBENARAN AKAN MENEMUKAN JALANNYA DAN ITULAH KEPEDIHAN BAGI PARA PENCIPTA & PEMAIN SANDIWARA INI.. ALLAH MAHA MEMBALAS...aamiin," tulis TAW berdasarkan data Polres Majalengka."


Ternyata pemain sandiwara, sedang bermain sandiwara. Mereka membuat kondisi, sehingga seolah-olah mereka adalah orang yang terzalimi. Ajaran macam apa yang mengajarkan hal ini? Di agama manapun, rasanya tidak pernah kita diajarkan untuk menjadi penipu yang mencelakakan orang banyak.

Ini adalah sebuah bentuk penyalahgunaan agama secara akut dan harus segera diceramahi. Orang ini salah mengerti ajaran agama, sehingga dirinya terjebak dalam sebuah permainan politik orang-orang yang berkepentingan. Siapakah mereka? Sebut saja mereka Genderuwo, karena genderuwo itu setan. Jelas?


"Yang bersangkutan memang pernah mengajar di UII namun status beliau bukan sebagai dosen tetap, di forlapdikti tidak tercatat sebagai dosen tetap UII. Dan sepertinya yang bersangkutan juga mengajar di berbagai tempat lain… Karena juga sudah diproses secara hukum… Tercatat sejak 2005, dan sifatnya hanya diperbantukan saja. Jadi tidak seperti dosen tetap reguler statusnya. Karna tidak tetap maka dengan mudah bisa langsung diganti… Hal itu tidak berkaitan langsung dengan posisi profesional yang bersangkutan di UII" kata Direktur Humas UII, Karina Utami Dewi, saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (27/2/2018). Sumber.

Jika jihad yang kau lakukan adalah menyebarkan hoax, memberikan ujaran kebencian, memfitnah Presiden, dan merusak kedamaian, kalian tidak berbeda dengan binatang. Kalian itu bukan sedang melakukan jihad, melainkan kalian sedang melakukan hal yang jahat!

Jihad bertujuan untuk meninggalkan kemusyrikan, bukan malah mendatangkan mudharat! Apa yang dosen UII lakukan, bukan ajaran agama manapun. Apakah kalian sadar, bahwa kalian merusak agama? Kalian bukan Muslim Cyber Army, seorang muslim bukanlah yang suka sebar kebohongan dan bukan pembuat gaduh di masyarakat. 

Sudah lah Bu Dosen, saya heran, apa yang kamu ajarkan ke murid-murid, jika ternyata gurunya adalah anggota MCA. Kalian bukan sedang melakukan jihad, kalian sedang jahat!

Betul kan yang saya katakan?

Disunting dari Hysebastian via seword
Advertisement

Advertisement