Sabtu, 17 Februari 2018

Beragama Hanya Mengedepankan Simbol, Hakikat Kemanusiaan Ditinggalkan

MusliModerat.net - Ketika berbicara mengenai toleransi, banyak yang salah kaprah dalam  memaknainya. Di antara kesalahan tersebut adalah adanya golongan yang masih mengedepankan simbol daripada  substansinya.

“Saat ini tak sedikit umat Islam yang beragama hanya sebatas mengedepankan simbol, sehingga melupakan hakikat dari kemanusiaan,” kata Ustadz Muhson Nawawi, Jumat (15/2).

Pada pengajian Tafsir Al-Wasith yang rutin digelar di Pesantren Nur Medina, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Mukhson Nawawi menceritakan isu-isu toleransi yang berkembang pada masa Nabi.

Pada suatu ketika terdapat seorang Muslim yang mencuri barang milik orang Yahudi. Mengetahui hal tersebut, orang-orang Madinah membujuk Nabi untuk memakluminya demi menjaga nama baik Islam, namun apa yang terjadi?

Nabi ternyata tidak menuruti permintaan orang-orang Madinah dan berupaya untuk tetap menegakkan keadilan.

“Dalam hal ini, Nabi lebih mengedepankan keadilan ketimbang simbol (Islam), karena orang yang mencuri meskipun simbolnya Islam, tapi apakah benar dia beriman? Sebab orang yang beriman tidak mungkin mencuri,” kisah dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah mengutip Tafsir Al-Wasith.

Ia menjelaskan, dalam menghadapi hal yang sifatnya universal, seseorang harus melihat dari sisi substansinya, jangan hanya menimbang dengan apakah terdapat kesamaan simbol atau tidak.

“Jangan sampai ketika ada seseorang yang butuh bantuan, kita tanyakan dulu apakah dia Islam atau tidak, jika Islam dibantu kalau bukan,ya tidak dibantu,” sindirnya.

Dalam hal kemanusiaan tidak ada batasan, semua memiliki hak yang sama, tidak peduli apakah dia Muslim atau non-Muslim. “Yang tidak boleh itu ketika sudah menyangkut hal akidah,” terangnya.

Inilah mengapa orang yang mendalami ushul fiqih akan sangat arif bijaksana dalam menghadapi hal-hal tersebut, karena ia mengerti betul apa yang dimaksud dengan maqashidus syariah. (Nuri Farikhatin/Fathoni/NU Online)
Advertisement

Advertisement