Syekh Nawawi al-Bantani: Ulama Masjidil Haram Asal Indonesia yang Mendunia

Syekh Nawawi al-Bantani: Ulama Masjidil Haram Asal Indonesia yang Mendunia

MusliModerat.net - Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal di mancanegara yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram. Dia bergelar al-Bantani karena  berasal dari Banten, Indonesia. Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi demikian nama sang ulama besar yang dilahirkan di Tanara, Serang, 1230 H/1813 M.

Nama Syekh Nawawi Banten sudah tidak asing lagi bagi umat Islam Indonesia. Bahkan sering terdengar disamakan kebesarannya dengan tokoh ulama klasik madzhab Syafi’i Imam Nawawi (676 Hijriah atau l277 Masehi). Melalui karya-karyanya yang tersebar di pesantren-pesantren tradisional yang sampai sekarang masih banyak dikaji. Diantara karya-karyanya adalah:

Muraqah As-Su’ud At-Tashdiq; komentar dari kitab Sulam At-Taufiq.
Nihayatuz Zain; komentar dari kitab Qurratul ‘Ain.
Tausiyah ‘Ala Ibn Qasim; komentar dari kitab Fathul Qarib.
Tijan Ad-Durari; komentar dari kitab Risalatul Baijuri.
Tafsir Al-Munir; yang dinamai Marahi Labidi Li Kasyfi Ma’ani Al-Qur’an Al-Majid.
Sulamul Munajat; komentar dari kitab Safinatus Sholat.
Nurudz Dzalam; komentar dari kitab Aqidatul Awam.
Kasyfatus Saja; komentar dari kitab Safinah An-Naja.
Muraqil Ubudiyyah; komentar dari kitab Bidayatul Hidayah.
Uqudul Lujjain fi Bayaniz Zaujain; sebuah kitab yang berisikan tuntutan membangun rumah tangga.
Bahjatul Wasa’il; komentar dari kitab Risalatul Jami’ah.
Madarij as-Shu’ud; komentar dari kitab Maulid Barjanzi.
Salalimul Fudlala’; yang dinilai dengan, Hidayatul Adzkiya.
Ats-Tsamarul Yani’ah; komentar dari kitab Riyadhul Badi’ah.
Nashailul ‘Ibad; kitab yang berisi nasehat-nasehat para ahli ibadah.
Syekh Nawawi diketahui merupakan salah satu keturunan Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Dia merupakan buyut dari KH Ma’ruf Amin, Ketua Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Semenjak kecil dia memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun.

Pada usia 8 tahun sang ayah mengirimkannya ke berbagai pesantren di Jawa. Dia mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kiai Sahal, Banten; setelah itu mengaji kepada Kiai Yusuf, Purwakarta.



Di usia dia yang belum lagi mencapai 15 tahun, Nawawi telah mengajar banyak orang. Kemudian pada usia 15 tahun dia menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekkah. Diantaranya Syekh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syekh Junaid Al-Betawi,  Syekh Ahmad Dimyati,  Syekh Muhammad Khatib dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Setelah tiga tahun belajar di Mekkah Syekh Nawawi sempat kembali ke tanah air untuk mengajarkan ilmu agama yang telah dia kuasai.

Karomahnya mulai terlihat yaitu saat dia mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan.

Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah SAW Sayyid Utsman bin Agil bin Yahya al-Alawi, ulama dan Mufti Betawi ini ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat masjid itu adalah Sayyid Utsman sendiri.

Tak ayal , saat seorang anak remaja (Muhammad Nawawi) yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsman.

Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsman tetap berpendirian kiblat Masjid Pekojan sudah benar.

Sementara Nawawi yang saat itu masih remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsman. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.

“Lihatlah Sayyid! Itulah Kakbah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Kakbah itu terlihat amat jelas. Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Kakbah,” ujar Nawawi ketika itu.

Sayyid Utsman termangu. Kakbah yang dia lihat dengan mengikuti telunjuk Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsman merasa takjub dan menyadari, remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah.[sindonews.com]

Baca juga:

Apa Komentar anda?