Sabtu, 06 Januari 2018

Perbedaan Pendapat Para Ulama itu Hal yang Wajar

MusliModerat.net - Kalau ada para Kiai saling beda pendapat itu ya lumrah, biasa, memang dari dulu ya seperti itu, mulai jaman 'asu ra enak' hingga era 'kids zaman now' ya memang begitu. Ulama dahulu juga saling beda pendapat, hingga muncul lah berbagai madzhab.

Bahkan para Sahabat Radhiyallahu Anhum ketika masih ada Rasulullah saw. di sisi mereka saja juga biasa berbeda pendapat. Kog Sahabat, lha wong dalam Al Qur'an sendiri, Allah swt. juga telah menjelaskan dengan firman-Nya, bahwa ketika dalam satu masa ada tidak hanya satu Nabi juga mereka biasa beda pendapat.

Seperti antara Nabi Ibrahim dan Nabi Luth alaihimas salam yang berbeda dalam cara menyambut tamu. Antara Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimas salam dalam cara berdakwah. Atau antara Nabi Dawud dan putranya sendiri, Nabi Sulaiman alaihimas salam, yang jelas-jelas beda pendapat dalam hal mengambil keputusan peradilan. Namun semua, mulai dari Kiai hingga Para Nabi, inti dakwah mereka pastilah sama, Rahmatan Lil 'Alamin.

Jadi ya ngga perlu ngotot ngotot 'mbelani' satu Kiai hingga merendahkan Kiai lainnya, lha wong beliau beliau yang saling beda pendapat dan menyalahkan pendapat lainnya itu saja ngga ngotot kog.

Bukankah Para Kiai NU sudah banyak mencontohkan. Seperti antara Mbah Hasyim Asy'ari yang terkenal lebih memilih hukum yang berat-berat demi ihtiyath, seperti mengharamkan kentongan, yang berhadapan dengan Mbah Faqih Maskumambang, yang terkenal lebih memilih hukum yang ringan, beliau memperbolehkan kentongan, tapi keduanya saling menghormati.

Antara Mbah Zubair Dahlan, abahnya Mbah Maimoen Zubair, yang karakternya persis Mbah Hasyim, suka ihtiyath dalam memilih hukum, beliau mengharamkan kepiting. Berbeda dengan Mbah Muhammadun Pati, yang menghalalkan makan kepiting. Tapi beliau berdua juga ngga ngotot ngototan, buktinya beliau berdua malah besanan, menyatukan Mbah Aniq Muhammadun dan Putri Mbah Zubair.

Luhumul Ulama masmumah, jangan main-main dengan kehormatan dan kemuliaan para Ulama dan Kiai.
Advertisement

Advertisement