Selasa, 02 Januari 2018

Mengapa Mereka Membenci NU dan Kiai-kiai NU?

Oleh Amin Mudzakkir

MusliModerat.net - Pertanyaan ini terus menggelitik pikiran. Sependek yang saya tahu, Nahdlatul Ulama (NU) tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti caranya dalam beragama. Sejak awal NU justru cenderung lebih bertahan. Jadi, mengapa mereka benci?

Setidaknya kebencian itu saya lihat menguat sejak awal era Reformasi 20 tahun lalu. Ketika itu Gus Dur dihujat habis-habisan. Keterbatasan penglihatan beliau dijadikan olok-olokan.

Lalu Kiai Said Aqil Siradj dicaci tak karuan. Apalagi di era internet seperti sekarang, cacian tersebut viral melalui media sosial. Chat kebencian terhadap beliau melalui WhatsApp grup menyebar hingga ke pedesaan.

Melihat fenomena ini, sulit bagi kita menganggapnya sebagai fenomena alamiah semata. Tidak perlu intelejen untuk menyimak betapa kebencian terhadap NU dan kiai-kiai NU berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan massif. Pertanyaannya, siapa yang menggerakannya?

Secara ideologis, lawan NU telah kita ketahui. Kalangan Islam modernis yang pada masa lalu berafiliasi dengan Masyumi tidak pernah rela NU berpisah dari mereka. Kalangan yang selalu memimpikan terwujudnya persatuan Islam ini menganggap NU adalah kerikil dalam sepatu.

Padahal, diulang sekali lagi, NU tidak pernah menyerang cara keberagamaan kelompok di luar mereka. Yang terjadi justru sebaliknya. NU didirikan sebagai bentuk pertahanan karena serangan pihak luar terhadap tradisi mereka.

Pada masa lalu, corak tradisionalis NU dipoyok sebagai kampungan dan terbelakang. Istilah kaum sarungan pada awalnya berkonotasi merendahkan. Di dunia akademis, kesan ini masih terasa.

Sekarang NU mengalami transformasi luar biasa. Corak tradisionalis yang disematkan kepadanya justru menimbulkan kebanggaan. Dengan tradisionalismenya NU mampu merespons perubahan dengan elegan. Hal ini bisa disaksikan baik di lapangan keagamaan maupun kenegaraan.

Barangkali mereka yang membenci NU dan kiai-kiai NU tersebut iri. Sementara komunitas kaum sarungan itu terlihat rileks menanggapi perubahan zaman, mereka hanya bisa marah-marah di pojokan peradaban. Mereka benci karena NU dan kiai-kiai NU merintangi mimpi mereka untuk kembali ke Abad Pertengahan.[NU Online]

Penulis adalah Peneliti LIPI
Advertisement

Advertisement