Gus Dur Beri Gelar Kiai Said Sebagai Doktor Muda NU dengan Disertasi Lebih 1000 Referensi

Gus Dur Beri Gelar Kiai Said Sebagai Doktor Muda NU dengan Disertasi Lebih 1000 Referensi

MusliModerat.net - KH. Said Aqil Siroj dikenal luas sebagai pemimpin agama maupun sebagai tokoh bangsa yang nasionalis, figur pengayom serta pemersatu.

Kiai Said merupakan tokoh pembaharu dengan ide dan pemikiran progresif yang berpengaruh kuat terhadap kalangan elit maupun masyarakat awam, dan menginspirasi generasi muda.

Kiai Said adalah garda depan dalam membangun titik temu antara keislaman dan keindonesiaan. Kiai Said juga pelopor toleransi dan kerja sama lintas identitas; suku, ras, keyakinan politik maupun agama.

Kiai Said tak kenal lelah mendorong dan menfasilitasi gerakan pemberdayaan masyarakat baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, pengorganisasian kelompok dan pengembangan ekonomi rakyat.

Sebagai tokoh panutan, Kiai Said tidak ragu, lugas dan blak-blakan dalam menyampaikan kritik kepada legislator dan pemerintah terkait dengan kebijakan yang tidak tepat atau tidak adil.

Saat ini Kiai Said Aqil Siroj adalah ketua umum ormas Islam terbesar di dunia Nahdlatul Ulama (NU). Beliau terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dua periode; 2010-2015 dan 2015-2020.

Kiai Said juga menjabat sebagai ketua umum Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) yang menghimpun 14 ormas Islam; Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Persis, Ittihadiyah, Mat’laul Anwar, Ai-Robitoh Al-Alawiyah, Al-Wasliyah, Syarikat Islam Indonesia, Perti, Dewan Dakwah Himpunan Bina Muallaf, Ikadi, Azzikra, dan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Kiai yang mengasuh Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga penasehat di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan penasehat Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).

Selain itu, Kiai Said juga penasihat pada Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) dan ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB). Di kancah internasional, tokoh muslim paling berpengaruh di dunia peringkat 18 ini adalah presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) dan ketua Multaqa Sufi Al-Alamy (Konferensi Sufi Internasional).

Peran Kiai Said Aqil dalam kancah nasional juga panjang dari dakwah, pendidikan, politik hingga hak asasi manusia. Di dunia dakwah, semenjak pulang dari belajar di Mekah, Kiai Said telah aktif berdakwah di seluruh pelosok di Indonesia, baik sebagai kiai maupun sebagai pengurus PBNU.

Dalam dunia pendidikan dan akademik, Kiai Said mengajar sebagai dosen maupun sebagai pimpinan di berbagai perguruan tinggi termasuk menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI).

Dalam bidang politik, Kiai Said adalah salah satu tokoh penting di balik Gerakan Reformasi 1998, pendiri PKB, dan menjabat sebagai anggota MPR (1999-2004). Di bidang HAM, Kiai Said adalah Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998) dan Ketua TGPF Kasus Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998).

Tokoh yang dinobatkan oleh Republikasebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan NKRI dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah ini, merupakan produk pendidikan pesantren.

Tumbuh dalam tradisi, kultur dan keluarga pesantren. Kiai Siroj, ayahnya adalah cucu Kiai Muhammad Said Gedongan seorang kiai sekaigus pejuang melawan penjajah Belanda. Kiai Said kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar kepada KH. Mahrus Ali, KH. Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti Lirboyo, lalu pindah Yogyakarta, belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak berguru kepada KH. Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984) dan kuliah di IAIN Sunan Kalijaga.

Tak lama setelah itu Kiai Said belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra Mekah, dari tingkat sarjana, magister, hingga doktoral.

Di Mekah, Kiai Said menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama:Mengupas tentang Kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus dan disertasi S-3 di bidang tasawuf dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf Filosofis). Ia meraih predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sering bersama-sama ke kediaman para ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

Setelah Kiai Said pulang pada 1994, Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU. Bersama Gus Dur, Kiai Said melakukan gerakan pencerahan di NU khususnya anak-anak muda pesantren.

Kalangan intelektual muda NU hampir seluruhnya terinspirasi bahkan hutang ilmu kepada dua sosok ini; Gus Dur dan Kang Said. Saat itu Gus Dur “mempromosikan” Kiai Said sebagai: “doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi”.

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini aktif terlibat dalam dialog forum-forum Internasional di berbagai negara, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata, hubungan antar agama dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan 11 September 2001.

Ia juga kerapkali menginisiasi konferensi internasional di Indonesia dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama mempromosikan Islam yang maju, damai dan moderat, serta membahas problematika Islam kontemporer dan masalah kemanusiaan.

Kiai yang lahir pada 3 Juli 1953 di Kempek, Cirebon ini bermukim di Ciganjur Jakarta dan menikah dengan Hj. Nur Hayati Abdul Qodir serta dikaruniai putera-puteri: Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil dan Aqil Said Aqil. (*Pustaka M2HM Ensiklopedia Islam Aswaja)

Baca juga:

Apa Komentar anda?