Senin, 04 Desember 2017

NU Tidak Mungkin Membenci Keturunan Rasulullah

MusliModerat.net - Baik Gus Dur maupun Kiai Said Aqil Siradj, sebelum maupun sesudah menjadi orang besar, bukan hal yang aneh keduanya mencium tangan para habaib dzurriyat Rasul Saw. 

Terlebih habib tersebut adalah yang alim lagi mulia akhlaknya, "pantas dicium bolak-balik hingga 7 kali," begitu mungkin kata Gus Dur. Karena dalam beberapa tulisan Gus Dur pun sering kita dapati tradisi itu hal yang lumrah di kalangan kiai-kiai dan warga Nahdliyin.

"Mencintai keluarga dan keturunan Nabi Saw. adalah wajib bagi Nahdlatul Ulama," tutur Kiai Said suatu ketika. Karena ternyata hubungan kiai-kiai NU -khususnya PBNU pusat, dengan para habaib terjalin dengan sangat baik. Diantaranya ada wadah silaturrahim rutinan PBNU dengan habaib DKI Jakarta.

Menelisik lebih dalam ke dunia pesantren, dimana suatu keharusan para kiai pengurus Nahdlatul Ulama ditempa matang di sana, akan didapati tak ada satupun kitab kuning yang diajarkan kepada para santri mengajarkan atau mengajak membenci keturunan Rasul Saw. Dosa besar, dan diancam su-ul khatimah orang yang meninggal dunia sedang dalam hatinya masih menyimpan rasa benci kepada keturunan Nabi Saw. Dan semua ajaran di pesantren NU validitasnya diakui dunia-akhirat, karena memiliki mata rantai sanad keilmuan yang menyambung tiada terputus hingga ke Rasul Saw.

Ajaran cinta, ajaran dakwah, cara amar ma'ruf, cara nahi munkar, saling menasihati, menghormati orang lain, dlsb. di dalam Nahdlatul Ulama adalah sebagaimana yang diajarkan dan diteladankan oleh Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Karena NU adalah miniatur dari Pesantren itu sendiri. Bagaimana mungkin NU akan membenci keturunan Rasulullah Saw. sedangkan semua amaliah dan keilmuannya berdasar dan bersandar kepada kakek moyang mereka yang mulia nan agung, Rasulullah Saw.?

Apalagi kita banyak yang tahu rahasia umumnya bahwa mayoritas kiai NU mereka juga adalah keturunan Nabi Saw. dari jalur Walisongo. Karena mereka menanamkan sifat "humul", sifat menutup diri, membenamkan diri dari keberpunyaan dan kesiapaan. Asy-syaraf bil adab la bin nasab, "kemuliaan hanya didapat dengan adab bukan sekadar kemuliaan nasab". Wallahu a'lam.

Ket. Foto: Ketum PBNU KH. Said Aqil Siradj bersama Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan ulama lainnya dalam acara peresmian Masjid Shodri ash-Shiddiq Cakung Jakarta Timur, 1 Des. 2017.

Dishare dari Ki Syaroni As-Samfuriy
Advertisement

Advertisement