Sabtu, 11 November 2017

NU Sulawesi Utara, Penjaga Kerukunan Antara Berbagai Kelompok dan Agama

MusliModerat.net - Keberadaan Nahdlatul Ulama di Sulawesi Utara (Sulut) menjadi bagian penting dalam upaya menjaga harmoni di kawasan yang memiliki keragaman sangat tinggi ini. Beberapa waktu lalu, ketika beberapa daerah di sekitarnya seperti Ambon di timurnya, Poso di baratnya, dan Mindonao di utaranya mengalami konflik, provinsi yang beribukota di Manado ini tetap menjadi tempat yang aman dan damai.

Ketua PWNU Sulut Syaban Mauludin menjelaskan, perkembangan NU sangat signifikan karena mampu membangun sinergitas dengan beberapa pihak, terutama dalam menjadi keharmonisan dan kebersamaan, dan kerukunan antarumat beragama. Komposisi umat Islam di Sulut sendiri merupakan mayoritas kedua setelah agama Kristen.

“Di samping menjaga hubungan baik internal umat Islam, dengan agama lain, NU menjadi organisasi terdepan dalam membangun kebersamaan ini,” katanya di Manado (10/11).

Kunci keberhasilan dalam menjaga harmoni adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana semestinya hidup dalam kebinekaan di Sulawesi Utara. Salah satunya, jika ada umat lain yang sedang menyelenggarakan kegiatan perayaan agama, maka banom NU ikut menjaga. Demikian pula, jika ada kegiatan perayaan hari besar Islam, maka umat non-Muslim bergantian menjaga kegiatan tersebut. 

NU mengambil jalan di tengah-tengah, menjalin kebersamaan dengan siapa saja. Secara umum dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, tidak ada masalah. “Kita berpikir moderat. Kita kan berprinsip, lakum dinukum waliyadin. Sepanjang urusan nonritual, silakan saja. Kalau ritual, kan ada batasnya,” tandasnya. 

Selain itu, NU Sulut juga menjalin sinergi dengan pemerintah. Hubungan NU sangat baik dengan gubernur, bupati, atau walikota. Beberapa pemimpin daerah seperti di Bolongmongondow, sejumlah bupati menjadi anggota pengurus syuriyah atau mustasyar NU setempat.

Dengan keragaman yang sangat tinggi, tetapi terkelola dengan baik ini, PBNU memutuskan penyelenggarakan kegiatan pra-Munas dan Konbes di Manado sebagai sarana untuk belajar hal-hal yang sudah berjalan baik di wilayah tersebut. “Untuk kegiatan NU dan kebinekaan, kita sudah seringkali menyelengarakannya,” ujar Syaban. (Mukafi Niam/NU Online )
Advertisement

Advertisement