Kamis, 23 November 2017

Ketika Kamu Merasa Lebih dari Seseorang, Allah Menurunkan Derajatmu Dibawahnya

MusliModerat.net - Ketika kamu merasa lebih dari seseorang, ketika itu juga Allah menurunkan derajatmu di bawahnya.

Kesombongan adalah selendangKu, kata Allah. Siapa pun yg merebutnya, akan ku siksa, Aku tak peduli. 
الكبرياء ردائي، والعظمة إزاري فمن نازعني منهما شيئاً أذقته عذابي ولا أبالي " أو " ألقيته في النار " أو " ألقيته في جهنم

Tak peduli, orang kaya merasa lebih tinggi dari miskin. Orang cantik merasa lebih layak dihormati. Orang bernasab dan berpangkat merasa lebih mulia dari rakyat. Orang alim rajin ibadah merasa layak dicium tangan dan lebih berhak masuk surga dari orang awam. Ini semua adalah dosa yg berat.

Apalagi orang miskin merasa lebih suci dari orang kaya. Orang biasa merasa lebih manusia dari dzurriyat. Orang awam tukang maksiyat merasa lebih hebat dari ulama ahli thoat. Ini jaaauh lebih berat dosanya.

ﻭاﻟﺘﻜﺒﺮ ﻓﻲ اﻟﺨﻠﻖ ﻛﻠﻬﻢ ﻗﺒﻴﺢ ﻭﻓﻲ اﻟﻔﻘﺮاء ﺃﻗﺒﺢ
Sombong itu buruk bagi semua makhluk, tapi bagi orang miskin lebih buruk lagi. Tulis Alghozali.

Sedihnya, nyinyir yg didasari kesombongan ini sudah mewabah apalagi sejak ada medsos. Orang awam sok menasehati ulama. Rakyat miskin menghujat pejabat. Dan masyallaah kita sama sama saksikan.

Beda, nasehat dan nyinyir itu beda. Nasehat muncul dari rasa kasih sayang ingin menyelamatkan. Nyinyir muncul dari kesombongan ingin menjatuhkan.

Terlepas bahwa menyombongi orang sombong itu sedekah, saya mengajak para penasehat untuk mengintip daleman hati masing masing. Nasehat yg kita tulis atau ucapkan apakah muncul dari keprihatinan dan rasa kasih sayang kepada sesama khususnya yg dinasehati, atau muncul dari ingin tampil paling bener dengan menjatuhkan kehormatan lawan?? 

Jika sebagai rakyat awam yg miskin saja kamu sulit menghindari sikap sombong, apa jadinya bila kamu menjadi orang alim pejabat kaya?

Saking sulitnya, Imam Ghozali sampai mendiktekan langkah langkah bagi orang alim ahli ibadah agar bisa merasa lebih hina dari orang awam penikmat maksiyat. Silahkan rujuk kitab kitab beliau.

Wal afwu minkum.
Dishare dari Ki Najih ibn abdil hamid.
Advertisement

Advertisement