Senin, 06 November 2017

Jadi NU tak Cukup Hanya Religius, tapi Harus Religius dan Nasionalis

Dishare dari M. Imaduddin
Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU & Kader GP Ansor

MusliModerat.net - Ulama-ulama, kiyai-kiyai kami engga pernah memisahkan agama dengan nasionalisme (kecintaan kepada tanah air). Keduanya ibarat dua sisi mata uang, saling menguatkan.
Agama aja tanpa nasionalisme engga bisa merekatkan unsur-unsur yang beragam dalam sebuah negara. Nasionalisme aja tanpa agama akan kering nilai-nilai. Jadi sekuler abis, bro.

Kalo cuma untuk memperjuangkan ajaran aswaja aja, Hadrotusyekh Hasyim Asy'ari kaga perlu mendirikan organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama. Kalau hanya untuk tujuan itu, cukup mendirikan pesantren dan majlis ta'lim aja, tanpa perlu mendirikan organisasi. Jadi jelas, bahwa visi dasar didirikannya NU adalah untuk memperjuangkan ajaran aswaja dan visi kebangsaan. Sejarah telah membuktikan bagaimana kiprah nyata NU untuk negeri ini.

Karena itu, NU tidak mentolelir segala macam ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. NU tidak mentolelir ideologi seperti komunisme dan khilafahisme. Pancasila adalah hasil ijtihad para pendahulu bangsa ini, yang sebagian besar para ulama.

Hadrotussyekh Hasyim Asy'ari dan ulama-ulama lainnya bukan tak paham dengan khilafah. Sangat paham. Tapi kenapa beliau-beliau itu lebih memilih Pancasila daripada khilafah? Apa ente lebih alim dari Hadrotusyekh?
Bahkan para ulama kita dahulu rela 7 kata dalam sila pertama dihapuskan. Demi apa? Semata-mata demi persatuan. Beliau-beliau engga ingin negeri yang baru saja merdeka ini terkoyak-koyak kembali.

Bro, ente kudu paham, NU itu engga cuma ngurusin fiqh, halal-haram. Engga cuma ngurusin ibadah. Engga cuma ngurusin tahlil, maulid, yasinan, dll. Tapi lebih dari itu, NU bertanggungjawab atas keutuhan bangsa ini, karena NU ikut mendirikan republik ini.

Jangan kira kalo ente udah tahlilan, udah yasinan, udah ikut maulidan, ente udah jadi NU. Belum bos! Menjadi NU itu, berarti ente menjadi religius-nasionalis. Ente menjalankan amaliah aswaja, tapi bareng dengan itu ente senantiasa menjaga keutuhan bangsa ini dari perpecahan, menjaga perdamaian dan ketentraman, menghormati dan melestarikan tradisi dan budaya bangsa ini selama tidak bertentangan dengan ajaran agama, serta menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi.
Once more, bro. Ente sah menjadi NU kalau meyakini dan melaksanakan tri ukhuwah: ukhuwah islamiah, ukhuwah wathoniah, dan ukhuwah basyariah.

Ini semua ajaran kiyai-kiyai kami. Ajaran pendahulu-pendahulu kami. Bahkan ajaran leluhur NU, Walisongo. Jadi bukan ajaran baru atau paham baru, seperti yang sering ente koar-koarkan di berbagai kesempatan.

Jadi, kalau ada orang ngaku nahdliyin bilang: "NU sekarang beda dengan dengan NU jaman Hadrotussyekh, itu berarti ente tidak paham NU, mualaf NU, atau NU naturalisasi (bukan cuma pemain timnas aja yang naturalisasi)".

Terakhir nih, bro. Jadi, jangan bilang lagi Nasionalisme engga ada dalilnya, atau bilang kita mati engga ditanya ormasnya apa. Betul kita mati engga ditanya ormasnya apa? Tapi bakal ditannya amal ente apa selama di dunia. Bukankah menjaga kedamaian, ketentraman itu bagian dari ajaran agama? Bukankah provokasi, ujaran kebencian, menebarkan permusuhan kepada sesama manusia, memfitnah, bikin onar itu bukan ajaran agama kita yang mulia?

"Aswaja ibarat air, sementara wadahnya adalah Indonesia. Ketika wadahnya hancur, maka berserakan pula airnya. Maka, menjaga Indonesia dari perpecahan berarti menjaga Aswaja" (Maulana Al Habib Lutfi bin Yahya)

#sayabanser
#bansermilikkita
#kamibersamabanser
Advertisement

Advertisement