Kamis, 02 November 2017

Imam Syafii dan Imam Ghazali: Saat Jenggot Panjang, Otak jadi Berkurang

MusliModerat.net - Seperti mereka yang tidak pernah lelah mencaci, memfitnah Kyai kami, maka kamipun takan pernah lelah memberikan klarifikasi klarifikasi atas tuduhan tuduhan keji kepada Kyai kami !!!


Banyak fitnah mendera NU dan Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj di media abal-abal penuh fitnah. Masih banyak yang menanyakan kebenaran kabar tersebut. Dan berulangkali tidak terbukti.
Dulu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah berkata, "Pak Said, sampeyan besok akan menjadi Ketua Umum PBNU. Tapi pada saat kepemimpinan sampeyan, NU akan mengalami badai fitnah yang besar, bahkan dahsyat."

Gus Dur terdiam sambil memandang ke Pak Said yang juga terdiam mendengar wejangan Gus Dur tersebut yang sebelumnya tidak disangka sama sekali.
"Tapi sampeyan tidak usah khawatir karena fitnah itu cuman sebentar dan NU akan menemukan lagi kejayaannya," sambung Gus Dur yang disambut tawa keduanya.

Sekarang ini bisa kita lihat kebenaran dari ucapan-ucapan Gus Dur. Nyatanya, Pak Said jadi Ketua Umum PBNU dan juga terkena fitnah yang terus-menerus dilancarkan ke NU. Mulai dari tuduhan syirik, liberal, kafir, bid'ah, syiah, sampai sebutan setan.

Ada yang diutarakan secara nyata dan kasar, ada juga yang melalui kiasan-kiasan. Yang dahsyat adalah fitnah dan tuduhan keji dari dalam dalam tubuh NU sendiri, yakni orang-orang yang mengaku NU tapi sejatinya mereka merusak NU. Naudzubillah.

Pada zaman Kiai Said inilah, NU hidup dalam zaman yang disebut Nabi Muhammad sebagai katsural qalam (banyak pena) sehingga banyak juga kalam (ucapan) yang mudah ditulis dan disebar tanpa tanggungjawab.

Kiai dihina, orang tua kanjeng Nabi disebut masuk neraka, amalan ulama sholihin disebut syirik, orang NU kembali disebut ahli bid'ah dan quburiyyun.

IMAM SYAFI'I DAN HUJJATUL ISLAM IMAM GHAZALI SOAL JENGGOT.
كلّما طالت اللحية، تكوسج العقل
“Saat jenggot panjang, otak jadi pendek.”
Kitab diwan Imam al-Syafii “al-Wafi bi al-Wafayat” (tepatnya di jilid kedua halaman ke-123): kitab-biografi 29 jilid, ditulis lebih dari enam ratus tahun lalu oleh ulama-penulis Sunni bernama Shalahuddin al-Shafadi.

Sekitar 250 tahun sebelum al-Shafadi, Imam al-Ghazali sudah menukil kutipan serupa di kitab “Ihya Ulumiddin” di bagian bab “Asrar al-Thaharah”. Tepat di atas pasal “al-Lihyah” (Jenggot).
كلما طالت اللحية تشمر العقل
“Saat jenggot panjang, otak jadi berkurang.”


إحياء علوم الدين - (ج 1 / ص 143)

وقال النخعي عجبت لرجل عاقل طويل اللحية كيف لا يأخذ من لحيته ويجعلها بين لحيتين فإن التوسط في كل شيء حسن ولذلك قيل كلما طالت اللحية تشمر العقل

Kata-kata yang dikutip Imam al-Ghazali tersebut bermakna sama dengan kata-kata Imam Syafii. Hanya berbeda di satu kata saja.تكوسج dan تشمر. Beda kata, maksudnya sama.

Dalam “Ihya”, Imam al-Ghazali mengingatkan kita, ada sepuluh hal yang dibenci dalam berjenggot. Di antara sepuluh itu, dua hal sangat dibenci dan sebaiknya dihindari bagi kaum berjenggot.
Pertama; 
Berjenggot karena ingin pamer. Imam al-Ghazali menukil kutipan, “Ada dua syirik yang bisa tumbuh dalam jenggot: merawatnya karena ingin pamer dan membiarkannya awut-awutan karena ingin dianggap zuhud.”
Kedua;
Saat jenggot bikin Anda sombong. Saat Anda, misal, merasa jenggot menaikkan tingkat keislaman Anda, lalu memandang rendah keislaman orang lain karena tak berjenggot. Anda merasa sangat islami karena berjenggot, orang lain dianggap tak islami karena tak berjenggot.

(Perihal kesombongan, tentu saja ia tak hanya jadi godaan orang berjenggot. Orang tak berjenggot juga bisa terjangkiti kesombongan, semisal memandang orang-orang berjenggot dengan tatapan negatif. Sombong memang keburukan yang bisa menempel di apa dan siapa saja).

Yang jelas, kata-kata Imam al-Syafii atau kutipan yang dinukil Imam al-Ghazali di atas (atau pernyataan Kiai Said) bukan ungkapan negatif untuk memojokkan kaum berjenggot.
Konon, Imam al-Syafii sendiri memiliki jenggot yang bagus dan terawat. Masa, orang berjenggot mengucapkan kata-kata negatif perihal kejenggotannya? Kan nganu.


المزني يقول : ما رأيت وجها أحسن من وجه الشافعي ، ولا رأيت لحية أحسن من لحيته ، وكان ربما قبض عليها فلا تفضل عن قبضته
(تاريخ دمشق لابن عساكر)
Imam Al-Muzani, salah satu murid Imam Syafi’i mengatakan, “Saya belum pernah melihat wajah sebagus wajah Imam Syafi’i. Belum pernah pula kulihat jenggot seindah jenggotnya. Kadang-kadang beliau menggenggam jenggotnya dan tidak melebihi dari genggamannya.”

(Tarikh Dimasyq, Ibnu Asakir 51/28)

PENJELASAN KH AQIL SIRAJ SOAL JENGGOT.
“Memang Rasulullah itu berjenggot, tapi jenggotnya bukan aksesoris, bukan hanya pantas-pantas, bukan hanya lambang simbolis, simbol.
Tapi jenggot adalah merupakan lambang kerendahan hati, lambang kebijakan, kearifan. Lambang tawadhu’ bahasa arabnya, yang orang berakhlak tinggi.
Jadi orang yang berjenggot itu memang syaraf untuk mendukung kecerdasannya berkurang, ketarik oleh jenggot, tapi nanti kecerdasan otaknya akan menurun ke hati.

Jadi hatinya yang cerdas bukan otaknya. Yaitu hati yang bersih, hati yang mulia, hati yang penuh dengan makrifat, dengan akhlak yang mulia.”
“Jadi orang yang berjenggot seperti Imam Ghazali, atau Imam siapalah, atau para Wali Songo itu kan berjenggot juga, itu bukan hanya otaknya yang cerdas, tapi hatinya bersih, intuisinya tajam, jadi kecerdasannya pindah ke hatinya.

Oleh karena itu, oleh karena itu, orang yang berjenggot harus akhlaknya mulia, orang yang berjenggot harus hatinya mulia”

Dari keterangan Ketum PBNU Said Aqil Siradj di atas bisa kita dapatkan beberapa kesimpulan:
1. KH SAS mengakui kalau suara yang di duga melecehkan jenggot itu adalah suaranya.
2. Jenggot Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bukan aksesoris, bukan hanya pantas-pantas, bukan hanya lambang simbolis, simbol.
3. Jenggot adalah merupakan lambang tawadhu’, lambang kerendahan hati, lambang kebijakan, lambang kearifan, dan lambang orang yang berakhlak tinggi.
4. Orang berjenggot syaraf yang mendukung kecerdasannya berkurang, ketarik oleh jenggot, tapi nanti kecerdasan otaknya akan menurun ke hati.
5. Klaim pada poin ke 4 adalah klaim yang ilmiah.
6. Otak cerdas, hati bersih, serta intuisi tajam, memiliki hubungan yang erat dengan jenggot. Karena kecerdasan seseorang yang berjenggot bisa pindah ke hatinya.
7. Orang yang berjenggot harus berakhlak mulia, orang yang berjenggot harus berhati mulia.

[mm/ed]
Advertisement

Advertisement