Rabu, 08 November 2017

HTI Mencatut Logo dan Nama NU Pada Muktamar Khilafah 2013

MusliModerat.net ~ Pada acara “konser” Muktamar Khilafah HTI 2013 di Senayan pada hari Ahad, 2 Juni 2013, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dinilai telah melakukan aksi pemalsuan dengan memasang spanduk salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU), Pagar Nusa. Spanduk yang menempel di tribun stadion Gelora Bung Karno tersebut memampang logo resmi organisasi pencak silat NU dan bertuliskan jargon dalam bahasa Sunda ”Cadu Mundur Pantang Mulang” yang artinya “Tidak akan mundur tidak akan pulang”.  Di bawahnya tertulis jelas ”Pagar Nusa Wilayah Tanjungsari-Sumedang”, diikuti teks ”Siap Mengawal Tegaknya Syariah dan Khilafah”.


Aksi tipu menipu yang dilakukan HTI sebenarnya sudah lama terjadi. Pada tahun 2007 lalu, HTI juga mencatut logo resmi NU dengan memasang spanduk palsu dalam acara Konferensi Khilafah HTI 2007 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Dengan jelas dalam spanduk palsu tersebut terpampang logo NU dan bertuliskan “Warga Nahdliyin Rindu Khilafah”. Kebohongan-kebohongan dan aksi pemalsuan/ penipuan yang dilakukan HTI akan menjadi sejarah kelam bagi HTI. 

KEBOHONGAN DI MUKTAMAR KHILAFAH HTI 2013
Pertama, HTI membentangkan spanduk PAGAR NUSA di acara Muktamar Khilafah-HTI 2013 di Gelorang Bung Karno – Jakarta. HTI sebagai biang keladi masalah, melakukan tindakan ilegal dan menjadi provokator utama.

Kedua, NU kemudian mengecam tindakan tidak beradab HTI karena dinilai HTI melakukan pemalsuan. Baca “NU Kecam Spanduk Palsu Pagar Nusa di Muktamar Khilafah HTI“:
NU Kecam Spanduk Palsu Pagar Nusa di Muktamar Khilafah HTI

Jakarta, NU Online
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dinilai telah melakukan aksi pemalsuan dengan memasang spanduk salah satu badan otonom NU, Pagar Nusa, pada Muktamar Khilafah 2013 HTI di Jakarta, Ahad (2/6), sebagai tanda dukungan terhadap berdirinya negara khilafah.

Spanduk yang menempel di tribun stadion Gelora Bung Karno tersebut memampang logo resmi organisasi pencak silat NU itu dengan jargon berbahasa Sunda ”Cadu Mundur Pantang Mulang” atau tidak akan mundur tidak akan pulang. Di bawahnya tertulis jelas ”Pagar Nusa Wilayah Tanjungsari-Sumedang”, diikuti teks ”Siap Mengawal Tegaknya Syariah dan Khilafah”.

Sekretaris Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Aceng Muhyi, mengaku kaget dan prihatin dengan informasi tersebut. Pihaknya kecewa karena selama ini Pagar Nusa di Sumedang hanya ada di tingkat pimpinan cabang alias kabupaten, belum ada di tingkat kecamatan.

”Kami mengecam aksi ini,” katanya kepada NU Online lewat telepon, Jumat (7/6).

Tanjungsari merupakan salah satu kecamatan di Sumedang, berbatasan di sisi barat daya dengan Kecamatan Jatinangor. Secara resmi NU menggunakan istilah ”Pimpinan Anak Cabang (PAC)” untuk merujuk badan otonomnya, seperti Pagar Nusa, di tingkat kecamatan, dan bukan ”wilayah”.

”HTI di Tanjungsari dan Jatinangor sekarang memang cukup gencar. Mulai banyak aktivis-aktivis mahasiswa (HTI) yang masuk kantong-kantong NU di sana. Ini mungkin juga mempengaruhi kejadian ini,” katanya.

Aceng berencana akan memanggil Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat untuk mengklarifikasi peristiwa ini. Dia menegaskan, spanduk yang dipasang berderet dengan spanduk-spanduk milik HTI tersebut adalah bentuk pemalsuan yang sama sekali tak terkait dengan PCNU Sumedang.  



Ketiga, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Aizzuddin Abdurrahman (Gus Aiz) pun angkat bicara dan menasehati HTI agar sadar diri akan keberadaannya, bahwa mereka kelompok baru, tidak memahami dengan bijak dan baik beberapa dasar pendirian bangsa. Sekaligus menegaskan bahwa tidak ada agenda Pagar Nusa yang terkait HTI. (Baca Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri /
PEMALSUAN SPANDUK PAGAR NUSA
Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa Aizzuddin Abdurrahman (Gus Aiz) mengaku sangat menyayangkan pemasangan spanduk atas nama Pagar Nusa pada Muktamar Khilafah 2013 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Ia menegaskan, Pencak Silat NU Pagar Nusa tidak punya hubungan dengan HTI.

“Pagar Nusa sangat menyayangkan yang dilakukan HTI itu. Saya tegaskan, Pagar Nusa sama sekali tidak terlibat dan melibatkan diri dengan HTI baik terkait upaya atau amaliyah yang mereka lakukan,” kata Gus Aiz kepada NU Online pertelepon, Sabtu (8/6).

“Tidak ada agenda Pagar Nusa yang terkait HTI. Saya harap mereka tahu diri, bahwa yang diurusi Pagar Nusa adalah NU, ulama dan NKRI,” tegasnya lagi.

Ditambahkan, Indonesia memang menjadi lahan subur bagi siapapun bagi berkembangnya berbagai pemikiran, dan bahkan ideologi baru. Namun Gus Aiz mengingatkan semua pihak untuk tidak melakukan aksi merorongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Saya harap HTI sadar diri dan tahu betul keberadaannya. Mereka adalah kelompok baru dan tidak memahami dengan bijak dan baik beberapa dasar pendirian bangsa ini,” katanya terkait pelaksanaan muktamar khilafah.

Terkait kasus pemalsuan spanduk, dikatakannya, sampai saat ini belum ada agenda pertemuan dengan pihak HTI. “Belum ada agenda pertemuan dengan mereka. Tapi kami siap berkomunikasi dengan segala pihak,” katanya.

Namun ia tetap mengimbau para kader Pagar Nusa untuk tetap menahan diri dan tetap berkoordinasi sebelum melakukan tindakan apapun. “Pelajari dulu, jangan terburu-buru agar tidak berdampak pada ekses yang tidak baik,” tambahnya.

Seperti diwartakan PCNU Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, telah menegaskan spanduk yang menempel di tribun stadion Gelora Bung Karno yang mencatut nama “Pagar Nusa NU Wilayah Tanjungsari-Sumedang” itu adalah bentuk pemalsuan.

Kepada NU Online, Gus Aiz menyatakan Pagar Nusa mendukung PCNU Sumedang dan berharap warga nahdliyin lebih berhati-hati dan mencermati propaganda yang dilakukan HTI dan sejenisnya. “Bagi NU, Pancasila adalah harga mati. Dan Pagar Nusa adalah pagarnya NU dan Bangsa,” pungkasnya.

Penulis: A. Khoirul Anan




Setelah mendapat nasihat mulia dari Ketua Umum Pagar Nusa, ternyata HTI tetep bersikukuh tidak mau meminta maaf dan bahkan malah mengelak yang hanya menimbulkan kebohongan-kebohongan baru.

KeempatHTI berusaha membela diri. Setelah sempat tidak berkutik dengan berita diatas, mereka seolah mendapat angin segar dengan mengelak melalui Tweet/klarifikasi tidak resmi dari seorang bernama Rizqi Awal – Syabab HTI Jatinangor (@rizqiawal1). https://www.facebook.com/photo.php?fbid=535962366462189&set=a.124056407652789.20268.100001452903487&type=1&ref=nf
Klarifikasi tentang Pagar Nusa di Muktamar
Posted by Hisyam Ad dien Muktamar Khilafah 2013 7:17 AM

Berikut ini kultwit akhi Rizqi Awal (@rizqiawal1) beliau syabab Jatinangor yang berkicau mengenai spanduk pagar nusa yang berada di Muktamar Khilafah, silakan disimak :

1. Alhamdulillah acara #MuktamarKhilafah telah usai. Semarak umat di penjru nusantara berjuang utk khilafah semakin terasa.

2. Banyak tokoh pun dtg, utk mndukung acara. Adhyaksa dault, Permadi, Herman Ibrahim, Abah hideung, Hj Irena Handono dtg #MuktamarKhilafah

3. Elemen masyarakat jg datang. Terbilang ratusan ribu. Terlihat dari spanduk yg ada. Dari dalam bahasa indonesia hingga bahasa inggris

4. Diantara spanduk2 itu, ada spanduk special yg jd perbincangan. Spanduk sahabat2 #PagarNusa dari Tanjungsari,Sumedang.

5. Tatkala situs www.nu.or.id mereportase spanduk #PagarNusa l mulai mengalir pro dan kontra. Bahkan diantarany mgatakan itu palsu

6. Kisah mula, acara #MuktamarKhilafah ini utk umat, shg sahabat2 HTI di seluruh jabar jg mengundang banyak elemen. Termasuk #PagarNusa

7. Sampailah wacana ini datang k sahabat #PagarNusa wilayah tanjungsari. Respon positif datang, tangan terbuka menerima.

8. Bak gayung bersambut, ketua #PagarNusa mempersilakan teman2 utk menyampaikannya. Alhamdulillah, beberapa diantara mereka tertarik

9. Mereka sedia datang k #MuktamarKhilafah l bahkan dng dana sendiri l semangat yg tinggi brsama umat l menyeru datangnya khilafah

10. Mereka pun meminta spanduk #PagarNusa terpasang, itupun sblmnya mengabarkan kpd ketua stempat. Diteruskan kpd pengurus jabar.

11. Kata2 yg terpasang d spanduk l bukanlah sim salabim l tetapi itu spengetahuan mereka l dan sungguh Allah Yang Maha Tahu urusan hamba

12. Bahkan utk terpasang di stadion GBK l sepengetahuan sahabat2 #PagarNusa yg datang l bahkan hingga berakhirnya acara l spanduk ttp ada

13. Diantara mereka #PagarNusa tanjungsari yg dtg, terdiri atas beberapa ikhwan dan akhwat.

14. Seruan syariah dan khilafah bukanlah milik HTI l tetapi harus jd milik ummat l shg kedatangan rekan2 #PagarNusa bisa juga ikut menyeru

15. Spanduk #PagarNusa itu, pasti tidak akan diikutkan bila memang bermasalah di awal l kita tidak ingin asal klaim l itu bukan kbiasaan HTI

16. Simpang siur informasi membuat byk berita datang l ini benarkah atau tidak? l pastinya kita kelak tahu bahwa Allah itu Maha Adil

17. Bukan cari-cari ksalahan l krn sifat dengki dan benci kan membuat kita hasud dan sombong l mari #PagarNusa dan HTI, bersatu pd bgun umat

18. Drs. Asep Wahyu,M.Si selaku ketua #PagarNusa siap membantu utk menyelesaikan masalah ini. Sikap beliau merupakan kebaikan utk NU-HTI.
[www.globalmuslim.web.id]







Untuk melengkapinya, klarifikasi juga mereka muat di situs resmi HTI: http://hizbut-tahrir.or.id/2013/06/10/ketua-pagar-nusa-tanjungsari-berharap-tidak-ada-gejolak-nu-dan-hti/ dan situs tabloid Media Umat mereka: http://mediaumat.com/headline-news/4613-ketua-pagar-nusa-tanjungsari-berharap-tidak-ada-gejolak-nu-dan-hti-.html sekaligus tabloid Media Umat yang dicetak.
Ketua Pagar Nusa Tanjungsari Berharap Tidak Ada Gejolak NU dan HTI

Ketua Pagar Nusa Tanjungsari menyatakan bahwa spanduk Pagar Nusa Tanjungsari yang berisi dukungan untuk tegaknya Khilafah dalam Muktamar Khilafah memang asli buatannya.

“Bukan bentuk tindakan pemalsuan oleh HTI serta bukan pula bentuk generalisasi sikap untuk Pagar Nusa secara keseluruhan,” sanggah Asep Wahyu, Ketua Pagar Nusa Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat kepada mediaumat.com, Senin (10/6) melalui telepon.

Menurutnya, spanduk yang berlogo “Pagar Nusa” dan tulisan “Cadu Mundur Pantang Mulang, Pagar Nusa Wilayah Tanjung Sari Sumedang, Siap Mengawal Tegaknya Syariah dan Khilafah” merupakan spanduk buatannya.

“Bahwa spanduk yang kami buat dan kami pasang dalam acara Muktamar Khilafah HTI, adalah benar-benar mewakili aspirasi kami,” ungkapnya.

Asep Wahyu mengaku, dirinya beserta 25 anggota Pagar Nusa Tanjungsari dengan ikhlas dan sukarela mengikuti Muktamar Khilafah HTI di Gelora Bung Karno, pada Ahad, 2 Juni 2013 sebagai bukti dukungan terhadap kewajiban perjuangan menegakkan Syariah dan Khilafah.

Terkait kehadiran Pagar Nusa Tanjungsari pada muktamar tersebut juga atas sepengetahuan dan terlebih dahulu berkoordinasi dengan pengurus Pagar Nusa Kabupaten Sumedang dan Jawa Barat.

“Teu kunanaon da sarua Islam keneh (tidak apa-apa, karena sama-sama Islam,red)” ungkap Asep Wahyu menirukan jawaban wakil sekretaris Pagar Nusa Jawa Barat, ketika dirinya meminta izin untuk ikut Muktamar Khilafah dengan atribut Pagar Nusa.

Asep Wahyu juga menginginkan setelah pemberitaan ini, tidak ada gejolak antara NU dan HTI. “Ulah aya gejolak nu teu pararuguh (Jangan ada gejolak yang tidak berguna, red),” pungkasnya.

Sebelumnya, salah satu situs mengunggah berita dengan judul NU Kecam Spanduk Palsu Pagar Nusa di Muktamar Khilafah HTI (Jum’at, 7/6) dan Pemalsuan Spanduk Pagar Nusa, Ketua Umum Pagar Nusa: HTI Harus Sadar Diri (Sabtu, 8/6). (Mediaumat.com, 10/6/2013)





Didalam media HTI tersebut, seorang bernama Asep Wahyu yang MENGAKU sebagai Ketua Pagar Nusa Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat melakukan klarifikasi bahwa spanduk itu bukan pemalsuan melainkan aspirasi Pagar Nusa. Ia juga meminta agar tidak ada gejoak antara NU dan HTI.

Lihatlah watak HTI, setelah melakukan provokasi, HTI meminta agar tidak ada gejolak, dan ketahuilah bahwa HTI adalah pihak yang memulai adanya gejolak itu sendiri.

Kelima, PCNU Sumendang dan Pagar Nusa Sumedang kemudian memastikan bahwa spanduk Pagar Nusa yang dibentangkan HTI adalah ILEGAL alias PALSU.
 
Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Sumedang Sumpena Saripudin mengatakan BELUM PERNAH mengeluarkan SK (surat keputusan) atau melantik PAC (Pimpinan Anak Cabang) di kecamatan manapun di Kabupaten Sumedang. 

Asep Wahyu “yang diklaim HTI sebagai ketua Pagar Nusa Tanjungsari” adalah orang yang  TIDAK DIKENAL. Nama Asep Wahyu TIDAK ADA dalam daftar kepengurusan NU di posisi atau tingkatan manapun. 

Penulisannya pun juga SALAH yaitu ’wilayah Tanjungsari’ padahal harusnya ’PAC Pagar Nusa Tanjungsari’. Ini menunjukkan bahwa ia tidak paham mengenai Pagar Nusa. Kebohongan HTI semakin terbongkar. 


PEMALSUAN SPANDUK
Pagar Nusa Tak Pernah Keluarkan SK Pagar Nusa Tanjungsari


Jakarta, NU Online
Pengurus Cabang NU (PCNU) dan organisasi pencak silat NU, Pagar Nusa Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memastikan pemasangan spanduk yang mengatasnamakan Pagar Nusa pada Muktamar Khilafah 2013 Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah praktik ilegal.

”Kami belum pernah mengeluarkan SK (surat keputusan) atau melantik PAC (Pimpinan Anak Cabang) di kecamatan manapun di Kabupaten Sumedang,” kata Ketua Pimpinan Cabang Pagar Nusa Sumedang Sumpena Saripudin saat dihubungi NU Online Selasa (11/6).

Seperti dikutip mediaumat.com, seseorang bernama Asep Wahyu mengaku sebagai Ketua Pagar Nusa Kecamatan Tanjungsari dan secara sengaja memasang spanduk bertuliskan ”Cadu Mundur Pantang Mulang, Pagar Nusa, Wilayah Tanjungsari-Sumedang, Siap Mengawal Tegaknya Syariah dan Khilafah”. Asep mengklaim kehadirannya bersama spanduk berlogo resmi Pagar Nusa itu atas sepengetahuan dan melalui koordinasi dengan pengurus Pagar Nusa Sumedang dan Jawa Barat.

Saat dikonfirmasi, Sumpena mengatakan sama sekali tak mengenal Asep Wahyu. Dia menegaskan nama tersebut tak ada dalam daftar kepengurusan NU di posisi atau tingkatan manapun. ”Nulisnya saja pakai kata ’wilayah Tanjungsari’ padahal harusnya ’PAC Pagar Nusa Tanjungsari’. Berarti dia enggak paham,” imbuhnya.

Sumpena berjanji akan membubarkan organisasi yang mengatasnamakan Pagar Nusa itu jika ada, karena dianggap telah melakuan pelanggaran berat asas organisasi.

Menurut Ketua PCNU Sumedang Sa’dullah, sejumlah aktivis HTI di tingkat kabupaten, bahkan Jawa Barat, memang banyak di kawasan Tanjungsari dan kecamatan sebelahnya, Jatinangor. Nama Asep Wahyu dinilai asing dan tak pernah ia jumpai, baik dalam kepengurusan atau kegiatan-kegiatan NU.

Sa’dullah mengimbau seluruh pengurus NU di lembaga, lajnah, dan badan otonom, di semua tingkatan dapat berkoordinasi secara solid agar kasus pemalsuan serupa tidak terulang kembali. Sebagai langkah klarifikasi, sambungnya, PCNU Sumedang akan mengeluaran pernyataan resmi di sejumlah koran lokal.

Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Barat KH Ubaidillah Ruhiyat juga mengaku tidak tahu-menahu soal pencatutan nama Pagar Nusa pada spanduk yang dipasang di tribun stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 2 Juni lalu itu. Spanduk tersebut juga tertangkap kamera dalam siaran tunda Muktamar Khilafah 2013 oleh TVRI pada 6 Juni, 07.00-08.00 WIB.

Penulis: Mahbib Khoiron



NASEHAT UNTUK SYABAB HTI

“Dakwah Bukanlah Ajang Penipuan dan Pemalsuan !”.
Sumber: Binaaswaja.com
Advertisement

Advertisement