Minggu, 05 November 2017

Hanya Orang Sakit Jiwa yang Sebut Kiai NU Gila Kuasa ketika dekat dengan Pemerintah

MusliModerat.net - Dalam sejarah, pendekatan kiai NU itu memang tidak ada satupun yang konfrontatif dengan siapapun. Itu sebabnya kiai NU tidak mengenal kata pemberontakan, apalagi revolusi kepada penguasa seperti saat ini sering didengungkan kaum fundamentalis Islam.

Bahkan hingga kepada penguasa yang nyata nyata memusuhi NU dan mendholimi kiai NU seperti zaman Orde Baru dengan pak Harto dan partai Golkar-nya, NU tetap melakukan pendekatan persuasif tanpa konfrontasi sedikit pun.

Inilah pendekatan kiai NU yang cerdas dalam berdakwah untuk berpegang pada kaidah Jawa "menang tanpa ngasorake" agar misi dakwah NU sebagai ormas yang menjunjung tinggi sikap rahmah benar benar terwujud dan sampai pada tujuannya.

Hanya Orang Sakit Jiwa yang Sebut Oportunis Kiai NU Karena Kompromi Penguasa
Dalam bahasa kiai khos, jika ingin memukul maka lawan harus dirangkul agar tidak merasa terpukul. Sebab konfrontasi hanya akan melahirkan permusuhan. Dan permusuhan akan melahirkan disharmoni serta hilangnya kedamaian.

Begitupun ketika kiai NU panutan umat harus menerima delegasi utusan Bu Mega yang mengadakan safari ke Jatim, hakikatnya adalah sebagai ikhtiar untuk mengemban misi tersebut. Yakni misi agar kaum nasionalis tetap dalam koridor Islam, dan agar orang Islam tetap istiqomah berjiwa nasionalis. Karena NU dan nasionalisme adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah negeri ini sampai kapanpun juga.

Khususnya misi agar NU dengan amaliyah serta warganya di Jatim yang berjumlah jutaan jiwa itu tetap eksis, terjaga dan kondusif. Selain juga agar kaum nahdliyin dan nasionalis tetap bersatu untuk saling mengisi dan bersatu dalam rangka menjaga NKRI dan Pancasila sebagai kemaslahatan Indonesia sampai kapanpun juga.

Dalam bahasa kiai Marzuqi Mustamar, agar kaum nasionalis jangan sampai saking nasionalisnya sehingga meninggalkan shalat. Begitupun umat Islam jangan sampai saking cintanya pada Islam dan penegakan syariah akhirnya tidak nasionalis, anti NKRI dan anti Pancasila.
Slogan Bung Karno dengan Jas Merahnya (jangan sekali kali melupakan sejarah) memang seharusnya selalu beriring dengan slogan Jas Hijau (jangan sekali kali menghilangkan jasa ulama) milik NU.

Maka hanya orang sakit jiwa yang mengatakan bahwa Mbah Hasyim Asyari dan Mbah Wahab Hasbullah sebagai orang yang oportunis ketika harus selalu bermesra mesraan dengan pak Soekarno sebagai penguasa.

Hanya orang e**or kepala saja yang berani berkata bahwa Gus Dur adalah orang yang buta mata dan buta hati ketika beliau harus runtang runtung dengan Bu Mega.
Hanya pengikut bumi datar saja yang akan berkata bahwa Kiai Said Agil dan kiai PBNU sudah gila kuasa ketika harus harmonis dengan Pak Jokowi dan para penguasa.

Dan hanya manusia bersumbu pendek dan pecinta hoax saja yang akan berani menuduh kiai NU mata duitan dengan menerima politisi yang tengah menjaring aspirasi para kiai.

Karena nyatanya yang ada adalah kiai NU tengah bermanuver untuk menjaga umat Islam dari bahaya 'permainan' politik pihak tertentu yang nyata di depan mata, menjaga NKRI dari kelompok yang tidak memiliki kecintaan pada negeri, dan menjaga rakyat dari pihak yang tidak bertanggung jawab yang suka menggoreng issu apa saja untuk mengusik kedamaian di negeri tercinta ini.

Ini hanyalah nasihat untuk mereka yang selalu nyinyir dengan kedekatan kiai NU dengan siapa saja, khususnya para pejabat dan penguasa. Ini juga peringatan bagi mereka yang ingin mengusik keharmonisan negeri ini dengan mengadu domba 'kaum jas merah' dan 'kaum jas hijau' hanya demi melampiaskan nafsu kuasa mereka.

Karena mereka tahu, NU adalah pilarnya negara, dan nasionalisme adalah ruh setiap warga negaranya. Ibarat buah, Indonesia adalah semangka yang meski merah di dalam tetapi harus tetap hijau di luarnya. Sehingga untuk menghancurkan negeri ini, semangka harus dipisahkan dari kulitnya.
Terkhusus kepada mereka yang su'udzon kepada kiai Idris Hamid, kiai Marzuqi Mustamar dan kiai sepuh NU lainnya yang sedang berupaya untuk menjaga agar Jatim tetap kondusif, damai dan sejahtera. Karena issu apapun kini 'digoreng' oleh pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan nafsu birahi mereka yang ingin berkuasa. [KBAswaja]

KH. Abu Yazid AM, MA, Khadim Pondok Pesantren. Bayt al Hikmah
Advertisement

Advertisement