Jumat, 17 November 2017

[Gus Muwafiq] Isu China dan Isu Syiah tak Mempan Karena ada NU

MusliModerat.net - Video youtube KH Ahmad Muwafiq, ulama nyentrik dari Yogyakarta yang ditanya soal NU Garis Lurus dan struktural liberal, sampai Rabu (15/11/2017) masih ditonton banyak orang.

Dalam video yang diupload Yayasan Jannur itu, Kiai Muwafiq menjelaskan pergeseran perang global. Dan, NU berhasil menghidar dari sasaran tembak.

Ditanya soal munculnya NU Garis Lurus, kiai berambut gondrong itu menjawab enteng. “Saya dengar namanya saja, sudah tidak suka. Sombongnya luar biasa, kayak yang lain itu, bengkok,” jelas Kiai Muwafiq.

Dia lalu bercerita, “Saya kemarin marah-marah karena ada organisasi namanya Nahdlatul Auliya. Nggak bener ini, dari namanya saja sudah nggak bener. Bukankah yang tahu wali itu, cuma wali. La ya’riful wali illa wali (tiada yang tahu tentang wali kecuali wali red.), lha ini kok ada orang masuk organisasinya para wali,” katanya dengan nada heran.

Masih menurut  Kiai Muwafiq, semua itu ada maqomnya. Kurikulumnya saja sudah berbeda. Kurikulum nabi itu laqad kaana lakum fii rasuulillaaHi uswatun hasanatun (Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu). Kalau kurikulum wali, beda lagi, lebih serem lagi. Alaa inna auliya Allah laa khoufun alaihim walaa humyahzanun (ketahuilah sesungguhnya wali Allah itu tidak akan pernah takut dan takkan pernah sedih).

“Istaqamunya saja berbeda. Syekh Abdul Qodir al–Jilani mampu 25 tahun bersimpuh, Sunan Kalijogo dengan ya hayyu ya qoyyum, 3 tahun bersimpuh. Nah, awak dewe (kita) tiga jam saja sudah sambat, maka, nggak akan muncul yang namanya wali. Kita ikut kurikulum ulama saja, masih perlu dibikin takut kepada Allah,” jelasnya.

Tak kalah menarik ketika Kiai Muwafiq menjelaskan soal tudingan syiah yang dialamatkan kepada KH Said Aqil Sirodj. “Kiai Said syiah? Syiah apanya. (Yang benar) Kiai Said itu mengerti tentang Syiah, apa kemudian disebut Syiah. Usil juga orang-orang ini,” tambahnya.

Kiai Muwafiq kemudian mewanti-wanti warga NU agar hati-hati. Diakui, posisi NU memang agak riskan, tetapi, bukan dalam konflik-konflik seperti tadi. Melainkan menghadapi pergeseran politik dunia.

“Dulu Eropa bisa bangkit karena mengambil kitab-kitabnya orang Islam lewat perang Salib. Setelah itu terjadilah revolusi industri di Eropa. Karena revolusi industri, maka, bahan bakarnya minyak.”

Bangsa Eropa sadar bahwa minyak saat itu dikuasai Tukri, sementara pusat minyak di Arab Saudi, maka memisahkan Arab dari Turki menjadi target mereka. “Lahirlah tradisi orientalism yang memaksa pergeseran politik Timur Tengah,” tegasnya.

Bagi negara yang tak mau patuh dengan Eropa, maka, Iran menjadi jujukan. Apalagi Iran berhasil membuat blok baru. Jangan heran kalau kemudian negara-negara  sumber minyak selain Arab itu, sekarang dihancurkan. Perang atas nama aliran agama, itu bohong semua. Yang benar dibuat perang seperti itu, semata-mata demi minyak.

Tahun 2012 perang teroris digalakkan, dan ini paling manjur bagi AS untuk obrak-abrik dunia Islam, di samping itu bisa dipakai alat untuk ngemplang utang. Indonesia menjadi target dengan modus syiah versus sunni. Modus itu dibawa ke Indonesia. Nahdlatul Ulama (NU) dibakar emosinya agar melawan syiah.

Faktanya? “NU tak mempan diapusi. Disuguhi isu syiah, NU tak marah. Disuguhi gerakan kembali ke Quran dan Sunnah, NU biasa-biasa saja. Disuguhi isu China, NU juga tidak emosi, karena NU mengedepankan kerukunan, nasionalisme yang tinggi, menjaga NKRI,” jelasnya.

Yang punya problem dengan tenaga kerja asal China, kata Kiai Muwafiq, bukan hanya Indonesia, semua negara, mungkin minus Arab, karena kalau ke Arab harus syahadat.

“Problem tenaga kerja asal China ini, bermula dari pergeseran digital. Yang tidak bisa mengikuti digitalisasi lari ke luar negeri semua, karena tidak bisa bekerja, percepatannya kalau hanya tenaga manual lama-lama tidak makan. Tetapi mereka tidak bisa ke Arab Saudi karena harus syahadat. Nah, kalau sekarang kita protes tenaga kerja asing asal China, sementara banyak dari kita sendiri menjadi TKI di luar negeri, kan repot. Itulah sebabnya, NU sangat hati-hati dalam menyikapi semua itu,” tegasnya. (mk/duta.co)
Advertisement

Advertisement