Rabu, 01 November 2017

GP Ansor Datangi Anak SD yang Disiksa dan Dibully "Dasar Ahok" Oleh Temannya



Hak atas foto Ansor


MusliModerat.net - Seorang anak Sekolah Dasar di Jakarta Timur yang dibully dengan kata-kata 'dasar Ahok' karena fisiknya disebut kuasa hukum dari LBH Ansor sebagai ekses Pilkada DKI Jakarta.
Josep Sebastian Zebua, sempat tak masuk sekolah selama dua minggu karena takut untuk datang ke sekolah setelah telapak tangannya ditusuk oleh rekannya.
sebastian
Sebastian (tengah) telah dibawa ke Polsek dan pihak keluarga ingin diselesaikan secara kekeluargaan.
Unggahan pamannya di Facebook yang menulis, keponakannnya "satu satunya anak yang beragama Kristen Katolik di kelasnya, Allah menciptakan dia dengan mata yang sipit dan putih, hingga dia mengalami bully, kekerasan, yang sangat keji oleh teman temannya," menjadi viral.


Namun Achmad Budi Prayoga dari LBH Ansor, badan bantuan hukum Gerakan Pemuda Ansor, gerakan kemasyarakatan pemuda yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, menyatakan kasus ini tak bernuansa SARA dan murni kenakalan anak-anak.
"Bullying ini murni dilakukan oleh anak yang memang masih polos, tidak ada sentimen SARA, jadi tidak ada unsur agama tak ada unsur kesukuan, ini kenakalan biasa anak-anak SD. Tapi yang perlu diperhatikan adalah pelaku pendidikan dan Kementerian Pendidikan harus menekankan edukasi tentang nilai-nilai kebhinekaan nilai nilai toleransi sejak sekolah dasar sampai menengah," kata Achmad kepada BBC Indonesia.



Keragaman di sekolah


sebastianHak atas fotoLBH ANSOR
Image captionSebastian sering dibully sejak kelas 1 SD.

"Ini kan ekses dari media sosial di bidang politik di mana anak-anak SD sudah melek sosial media, jadi ekses politik Pilkada (DKI Jakarta) lalu jadi punya pengaruh anak-anak sekarang. Tapi tak ada sentimen agama," tambahnya.
Sebastian, menurut informasi yang digali oleh LBH Ansor dan KPAI, sering dipanggil Ahok sejak dia kelas satu SD karena bentuk fisiknya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI - yang telah mengunjungi sekolah di Jakarta Timur- juga menyerukan evaluasi di sekolah-sekolah.
"Ahok pada saat itu (dua tahun lalu) secara pemberitaan adalah gubernur yang positif, diidolakan. Ketika pasca-Pilkada, panggilan Ahok sepertinya bergeser makna, jadi anak ini dipanggil Ahok kalau dia iseng. Nah kalau dia jahil dia dipanggil 'Dasar Ahok'. Tampaknya bully yang dimaksud ini," kata Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.
"Kasus ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi sekolah maupun Dinas Pendidikan untuk evaluasi menyeluruh, tidak hanya di sekolah tempat ananda SB bersekolah tapi seluruh sekolah di semua jenjang pendidikan untuk membangun Sekolah Ramah Anak (SRA) dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta menyemai keragaman," tambahnya.
Retno mengatakan ia melihat ada unsur keragaman di sekolah dasar dan kasus Sebastian tidak menyangkut agama dan etnis.
Sementara Achmad mengatakan pihak keluarga memilih untuk menyelesaikan masalah bully ini secara kekeluargaan namun Sebastian memilih untuk pindah sekolah karena trauma.
"Sebastian mengalami bullying sejak kelas 1 SD. Bullying sering dipanggil Ahok Ahok Ahok karena secara fisik mirip orang Cina, padahal keluarga Bastian berasal dari Nias bukan orang Tionghoa harusnya bullying dalam bentuk apapun terhadap suku apapun kan tidak diperbolehkan," kata Achmad.
Namun bullying ini berlanjut setelah Pilkada DKI Jakarta dengan petahana saat itu Basuki Tjahaja Purnama, dijerat dengan pasal penghujatan agama.[bbc.com]
Advertisement

Advertisement