Sabtu, 18 November 2017

Bikin Kaget, Ternyata Sugi Nur itu Murid Cak Nun, Pesannya: Teruskan Perjalananmu!

MusliModerat.net -  Sugi Nur Raharja atau yang sering dipanggil simpatisannya dengan Gus Nur, yang suka mencaci Banser ini ternyata Murid Caknun.

Video youtube bertitel ‘Kaget!! Gus Nur Ternyata Muridnya Cak Nun’ sudah ditonton 130 ribu orang dan 669 klik jempol, sampai Jumat (17/11/2017) pagi. Isinya begitu lugas, polos, penuh pesan moral.



Dalam video berdurasi 3 menit itu, Cak Nun juga sempat menjawab pertanyaan orang Mabes Polri soal gaya Gus Nur yang nantang-nantang Presiden Jokowi. Saat itu, Gus Nur dan Cak Nun bertemu satu panggung.



“Kita pernah ketemu. Suatu hari aku dikirimi wong (orang red) Mabes Polri di mana dalam video itu dia (Gus Nur) nantang-nantang Jokowi. Saya ditanya yok opo iki (Bagaimana ini) Cak? Saya jawab, gak popo tenang ae (tidak apa-apa, tetang saja red.) iku muridku,” jawab Cak Nun disambut ger hadirin dalam video yang masih terus menyebar luas.

Gus Nur kemudian diberi kesempatan untuk berbicara.  “Saya dulu gondrong, saya pernah pertama kali hadir di acara (pengajian) Padhang Bulan, Sumobito, Jombang, saya saat itu terselib di ribuan jamaah Cak Nun,” kata Gus Nur.

Dia mengisahkan perjalanan dari Probolinggo menuju Jombang (saat itu) dengan bekal uang utang, sarung nglinting, dan tidak mengira kalau hari ini bisa sepanggung dengan Cak Nun.

“Cak Nun, saya lahir di Bantul 1974. Lalu pindah ke Probolinggo dan, jadi orang Probolinggo. Tahun 1998 aba saya wafat, lalu saya memulai dakwah dalam kubur, ini dunia dakwah saya. Dulu, saya cuma dipanggil Nur, lalu saya membangun image bagaimana supaya diceluk (dipanggil) Gus Nur. Nah, awal diceluk Gus, kuping (telinga) ini rasanya wes wes wes,” jelasnya.

Selama 1 tahun kenal Cak Nun, Gus Nur berjumpa dengan buku ‘Selilit Sang Kiai’ karya Cak Nun. Dari situ, seolah-olah ilham melbu (masuk). “Saya ikuti terus, walaupun dia belum kenal saya. Di mana Cak Nun berada, saya ikuti terus. Lama-lama  masuklah ilmu Cak Nun dalam ragaku,” tambahnya.

Gus Nur kemudian cerita perjalannya ke Bali. Di Bali ada persatuan orang Minang, yang notabene para pengusaha depot nasi Padang. Saat itu mereka ingin menghadirkan atau mengundang Cak Nun, tetapi tidak bisa. Berkali-kali, sampai 6 tahun gagal terus. Nah, orang-orang ini kemudian minta tolong ke Gus Nur.

“Saya sendiri mikir, tahun segitu mengundang Cak Nun dalam hitungan bulan sulit, mana bisa, setahun saja sudah penuh. Tetapi saya tetap telepon, eh jadi, del. Acara di Denpasar Cak Nun datang, orang Minang senang sekali, ini dianggap ajaib. Undang sendiri gak bisa, lewat saya tembus, inilah kalau sudah jodoh,” jelasnya.

Diakui, sebelum Cak Nun datang, Gus Nur seperti raja, orang sangat menghormatinya, mereka juga takut gagal acaranya. “Semua panita perhatian ke saya, saya seperti raja. Saat itu gak duwe wedi blas (tidak ada rasa takut sama sekali). Sampai sekarang mau dicekel (ditangkap) Pak Tito, gak dicekel-cekel. Allah swt melindungi saya lewat doa Cak Nun.”

Gus Nur juga mengaku emoh politik. “Ratusan juta saya tolak, walaupun getune (kecewanya) sampai sekarang,” katanya memancing tawa hadirin.

Nah, lima tahun lalu, jelas Gus Nur, saya dapat undangan ke Palu. Tidak ada keinginan jadi orang Palu. “Tetapi, lagi-lagi Allah selipkan saya di sana. Ada tanah di Jl Zebra diwakafkan ke saya, saya bangun pondok tahfidz tiga lantai. Ada 200 santri gratis. Pesantren 3 lantai sepeserpun tidak ada bantuan pemerintah, dari RT, RT sapai Jokowi tidak ada yang bantu. Setiap bulan Rp 11 jt untuk bayar tenaga pengajar juga saya sendiri. Dari mana duitnya? Ilmunya Cak Nun. Kalau kurang tiga hari, sudah minta, Ya Allah kurang telung dino (tiga hari) harus bayar guru, ini otak kanan, ilmu gendeng.”

Sementara Cak Nun sendiri memberikan dukungan penuh terhadap dakwah Gus Nur. ”Jadi, Indonesia ini berbeda dengan negara lain. Ada fadlilah khusus. Negara koyo opo ae (seperti apa saja), Allah swt telah menitipkan kepada bangsa kita, orang-orang yang berada di bawah kendali Allah swt dan malaikat berikut fasilitasnya, tuntutan dan hidayah, dan pusatnya (Indonesia) itu di Jatim,” kata Cak Nun.

Nyawanya Indonesia itu di Jawa Timur. “Tidak usah banding-bandingno (tidak perlu membandingkan). “Aku dewe gak pingin nginiki (saya sendiri tidak ingin seperti ini red.). Aku pingin mlaku gak ketok wong (saya sendiri kepingin jalan tidak kelihatan orang), tetapi masih dikonangi (dilihat), Tidak bisa ke mana-mana, dititipi Allah swt. fadlilah. Tidak ada pertandingan, yang ada pertandingan ridhollah,” tambahnya.

Sekarang Gus Nur disayang wong (muridnya) 200 orang. “Salahe kenal aku. Ini sudah nasibku, 40 tahun sopo sing gregani (menghargai) aku, apakah PBNU pernah berterima kasih kepada saya karena ikut ngramut nahdliyin. Aku gak jaluk, gak ngentine, gak ngersolo gak mangkel, tujuanku ngancani menungso, kebetulan sampaean nahdliyin senang salawatan, tahlilan, perkoro negaro urusan ain, PBNU urusan lain,” jelas Cak Nun.

Suatu hari ada amanah lebih keras, kita siap-siap saja. Nak Nun pun berpesan kepada Gus Nur agar memperhatikan generasi muda, yang masih berumur belasan tahun. “Jadikan mereka ini pendekar-pendekar baru, rijaluddin rijulullah, perwiranya umat, wani gak mangan, wani ngelih, wani gak didelok wong. Gus Nur sampean teruskan perjalanannmu, bergembiralah menjadi halifatullah,” demikian Cak Nun. (mk/duta.co)
Advertisement

Advertisement