Rabu, 29 November 2017

Aksi Cepat Tanggap Banser Evakuasi Korban Banjir Pacitan

MusliModerat.net - Banjir dan longsor yang terjadi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, pada Selasa, 28 November 2017, terhitung parah. Empat kecamatan terendam sekira 50-200 sentimeter. Tiga desa di Kecamatan Kebonagung dilanda longsor. Data sementara, sepuluh orang jadi korban jiwa.

"Korban sepuluh orang, dua orang ditemukan meninggal dunia, yang lainnya belum ditemukan," kata petugas dari Pusat Pengendalian Operasional Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pacitan, Muhammad Rosyid, dihubungi wartawan melalui sambungan telepon selulernya.

Petugas gabungan dari Basarnas, BPBD, Kemensos, TNI/Polri, dan elemen dari organisasi kemasyarakatan kabupaten setempat berjibaku melakukan penanganan, di antaranya mengevakuasi warga terdampak dan melakukan pencarian korban hilang. Warga diungsikan ke desa lain yang selamat dari banjir.

Lima Tertimbun Longsor dan Lima Terhanyut Banjir di Pacitan


Pengurus Gerakan Pemuda Ansor/Banser Kecamatan Pacitan, Septian Dwi Cahyo, menuturkan bahwa empat kecamatan beberapa desanya dilanda banjir dan satu tiga desa satu kecamatan di antaranya juga dilanda longsor. "Informasi dari BPBD, tadi siang lima orang tertimbun longsor, lima orang hilang karena banjir, katanya dihubungi VIVA.

Dua korban banjir sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, yakni Sodikin, warga Kayen; dan Mujiono, warga Sukoharjo. Dua desa itu berada di Kecamatan Kota Pacitan. "Desa Kayen, Sukoharjo, Senoboyo, itu lumpuh total," ujarnya.

Tiga kecamatan lain yang dilanda banjir ialah di tiga kecamatan, yakni Kebonagung, Ngadirejo, dan Arjosari. Di Kecamatan Kebongagung tiga desa terdampak. "Kebonagung bawah terdampak banjir, sedangkan Kebonagung bawah di Desa Klasem terjadi longsor. Yang lima korban tertimbung longsor di Klasem," ujar Septian.

Dia menceritakan, air mulai menggenangi kawasan permukiman sejak Selasa dini hari. Debit air di Sungai Gindilu meninggi karena hujan yang mengguyur Pacitan sejak kemarin. Air dari Sungai Gindilu tidak mampu ditampung sungai kecil di desa-desa terdampak lalu meluap ke permukiman. "Sungai-sungai kecil ada yang bendungannya jebol," katanya.

Petugas gabungan membuat posko dan tenda pengungsian di desa-desa tetangga yang selamat dari bencana. Dapur-dapur umum juga didirikan untuk menangani ribuan warga terdampak. Dia bersama anggota Banser Tanggap Bencana atau Tagana membantu penanganan warga terdampak di Kecamatan Kota.

"Tadi sore, Sungai Gindilu meluap dan airnya masuk kota," kata Septian.[viva.co.id]

Advertisement

Advertisement