Sabtu, 14 Oktober 2017

Teror Terhadap Ulama, Kyai dan Warga NU Berlangsung Sejak 1971

OLEH : H.A.Baidhawi  Adnan

MusliModerat.net - Pembunuhan terhadap KH Asmuni Ishak di Jatiroto Lumajang Jawa Timur pada hari hari idul fitri lalu masih menarik perhatian publik. Masyarakat masih menantikan hasil penyelidikan dan penyidikan polisi untuk meringkus siapa kelompok pelakunya. Meskipun belum ada tersangkanya, pihak polres Lumajang telah melanggar reka ulang rekonstruksi pembunuhan ketua Dewan Syuro PKB Kecamatan Jatiroto itu.


Mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid selaku ketua dewan Syuro DPP PKB mencurigai pembunuhan tersebut bermotif politik. Hal itu dibenarkan oleh ketua DPW PKB Chairul Anam dengan menguatkan bahwa harta kekayaan milik korban tidak ada yang hilang atau dibawa lari kawanan pembunuh. Ada juga pihal lain yang beranggapan pembunuhan tersebut kriminal murni.

Banyak yang mengaitkan kasus pembunuhan KH.Asmuni Ishak tersebut dengan kasus kasus pembunuhan terhadap kiai dan warga NU tahun 1998, dengan tuduhan dukun santet di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Ketika itu, sekitar 143 kiai/ulama local yang sebagian besar adalah ulama NU menjadi korban pembunuhan yang dilakukan kelompok kelompok  tertentu yang berpakaian ala ninja-jagoan dalam dunia perfileman versi Jepang. Dari jumlah tersebut, hanya beberapa puluh kasus yang diteruskan ke pengadilan dan selebihnya tidak terdengar ujung pangkalnya.

Sebagai negara hukum , apapun alasannya, masyarakat mengharapkan sangat agar kasus pembunuhan KH. Asmuni Ishak ini dituntaskan setuntas-tuntasnya. Polisi diminta segera menangkap para pelakunya sekaligus mengungkap latar belakang dan motivasi pembunuhan tersebut.

Sejak  Tahun 1971

Jika hendak merunut ke masa silam, pembunuhan terhadap para kiai dan ulama NU local sudah dimulai sejak 1971, saaat saat menjelang pemilihan umum pertama pada masa orde baru. Alasan pembunuhan juga nyaris sama hanya dengan istilah yang berbeda. Misalnya, ketika itu tidak digunakan istilah “dukun santet” melainkan “Bromocorah” atau penjahat kambuhan. Ada sejumlah nama di daerah kabupaten dan kota probolinggo menjadi korban pembunuhan tadi.

Banyak lagi kasus kasus lainnya yang terjadi di Jawa timur pada msa masa kampanye pemilihan umum 1971. meskipun angka pembunuhan tidak sebanyak tahun 1998, tindakan terror, intimidasi dan perusakan serta pembakaran rumah rumah warga NU yang tidak mau masuk golkar telah mengalami penderitaan yang memilukan.

Peristiwa peristiwa sejenis terjadi juga di wilayah Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah kabupaten bribes, ada seorang kiai yang dibunuh dan mayatnya dimasukkan ke dalam sumur. Kiai yang menjadi korban pembunuhan tersebut tetap bersikukuh mendukung partai NU dan tidak mau dibujuk masuk Golkar.

Di Jawa Barat Lebih Dahsyat

Meski tidak sampai terjadi pembunuhan, dij awa Barat intimidasi dan terror terhadap warga NU lebih dahsyat. Banyak rumah warga NU yang diberi tanda silang (X) dan malam harinya dirusak, dengan dilempari batu. Ini banyak terjadi di wilayah kabupaten cirebon dan kabupaten Indramayu Jawa Barat. Para pelakunya di cirri-I beratribut angkatan muda  Siliwangi atau AMS.

Di dua wilayah ini, tekanan terhadap NU dan warganya sangat luar biasa. Saat menjelang kampenye NU berlangsung, maka tiba tiba jembatan ambruk, lapangan yang akan dipergunakan rapat umum menjadi banjir karena tanggul sungai (saluran irigasi sekunder dan tersier) di jebol. Para santri di pondok pesantren dikejar kejar agar mau masuk Golkar, kalau tidak mereka di aniaya, di panggil ke Balai Desa dengan berbagai macam alas an.

Sepanjang pesisir pantai utara Jawa Barat dinyatakan sebagai daerah Golkar dan tidak boleh bagi yang lain. Pasuklan pasukan AMS di desa-desa memaksa setiap orang dan kendaraan yang melintas didepannya untuk ikut meneriakkan “hidup Golkar”. Kalau tidak mau mengikuti berarti bencana.

Dalam suatu perjalanan dari daerah Cirebon kembali ke Jakarta bersama Pak Ud (KH.M.Yusuf Hasyim-Sekjen PBNU), malam itu dijumpai rumah rumah warga NU di daerah Muntur Losarang dirusak oelh orang orang tak dikenal. Pemiliknya, para warga NU tidak berdaya menghadapai kenyataan itu. Petani petani lugu tanpa busana dengan tulang tulang rusuk yang menonjol, menerima kehadiran para wartawan, termasuk penulis dan sdr. Panda nababn dari harian sinar Harapan yang kini anggota DPR dari PDIP. Pemilu 1971 dan 1977 di jalur pantura Jawa Barat berarti musibah dan bencana. Pesta demokrasi menjadi pesta hidup atau mati.

Sumber: NU Online
Advertisement

Advertisement