Minggu, 01 Oktober 2017

Sekeping Kisah Humor Bersama KH Hasyim Muzadi dan Gus Dur

Oleh: Prof. Mahfud MD*

"Ya, mengenang Kyai Hasyim adalah mengenang humor-humor yang tidak menyakiti tapi masuk ke substansi." (Prof. Mahfud MD, 2017)
Saya pribadi mengenang Kiai Hasyim sebagai kawan yang selalu ceria dan menyenangkan. Pembawaannya tenang dan tampak tidak pernah gelisah.
Saya tidak pernah melihat Kiai Hasyim marah atau berbicara dengan nada tinggi. Cara bicaranya lembut, tidak menggelegar, dan bahkan lebih banyak melucu.
Almarhum memang mempunyai kesamaan dengan Gus Dur. Yakni, sangat suka berhumor ria. Dulu saya selalu menikmati humor berkelas jika Kiai Hasyim ngobrol dengan Gus Dur.
Tetapi, humor dua tokoh NU itu sama sekali tidak sarkastis. Tidak menyakiti siapa pun meskipun subjek dan objek humornya jelas.

Gus Dur maupun Kiai Hasyim bisa melontarkan humor-humor yang sangat kocak di kursi ruang tamu dengan jumlah orang terbatas maupun di podium saat berpidato di depan ribuan orang.
Kiai Hasyim itulah yang mengatakan bahwa di NU itu ada tradisi menyelesaikan masalah dengan gergeran (tertawa riuh) daripada dengan gegeran (ribut-ribut).
Sebagai tokoh NU yang ditempa melalui Gerakan Pemuda Ansor, Kiai Hasyim sering menjadikan Ansor dan NU sebagai materi humornya. Suatu kali dia berpidato bahwa kita harus bersyukur karena sekarang ini anak-anak Ansor sudah maju dan modern. Banyak yang mempunyai dua handphone dengan casing yang bagus-bagus. "Tapi, ya begitu, mereka tidak pernah menelepon dengan HP-nya karena tidak kuat membeli pulsa. Bolak-balik hanya missed call biar ditelepon balik,’’ katanya.

Kiai Hasyim juga mengatakan, kita harus bersyukur karena sekarang ini sudah banyak anak NU yang bisa bersekolah atau mondok ke Makkah dan Madinah. "Tapi sayangnya, setelah pulang, mereka tidak mendirikan pondok pesantren, melainkan perusahaan travel umrah. Tidak menjadi ulama, melainkan cukup menjadi guide haji dan umrah,’’ katanya.
Cerita lucu lainnya adalah ketika pada suatu hari Gus Dur ada acara di Malang dan dijemput Barisan Serbaguna Ansor (Banser) dengan seragam yang gagah dan komandannya mengendalikan anak buahnya dengan "handy talky" (HT).
Terjadi hal yang lucu ketika Gus Dur tiba dan sang komandan Banser memberi komando kepada anak buahnya. "Assalamualaikum, roger, roger. Kiai Abdurrahman Saleh sudah mendarat di lapangan terbang Abdurrahman Wahid. Semuanya siap? Ganti,’’ ujar sang komandan Banser.
Sambil terkekeh, Kiai Hasyim bilang bahwa Banser itu lucu, lugu, dan ndheso.

Semua orang dihalau oleh Banser agar tidak bersalaman dengan Gus Dur, tapi Banser sendiri saling berebut untuk menyalami bahkan berfoto-foto dengan Gus Dur sehingga perjalanan malah lebih terhambat.
Anak-anak Banser biasanya bertepuk riuh dan senang digoda seperti itu oleh Kiai Hasyim. Maklum, Kiai Hasyim dibesarkan dan pernah lama ikut memimpin Ansor. Namun, harus dicatat, dengan kesukaannya pada humor itu, tak berati Kiai Hasyim hanya suka berseloroh.
Humor-humornya selalu bernas, memuat atau mengantar ke pesan-pesan yang serius, terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesan Kiai Hasyim selalu serius, tetapi disampaikan dengan santai sehingga sering disebut pesan "sersan" (serius tapi santai).

Almarhum selalu berpesan agar Islam benar-benar menjadi rahmatan lil alamin. Islam harus ramah dan menjaga kekukuhan ikatan kebangsaan (nasionalisme) Indonesia tanpa boleh memaksa-maksa atau bersikap tidak toleran terhadap kelompok-kelompok lain.
Pada diri Kiai Hasyim ada integrasi ide antara keindonesiaan dan keislaman. Pada diri Kiai Hasyim juga ada contoh bagaimana menjadi warga negara yang mencintai kebersatuan dalam keberagaman bangsa Indonesia dan mengamalkan ajaran Islam sebagai prinsip penuntun hidup sebagai muslim.
Itulah sersannya KH Hasyim Muzadi. Selamat jalan, Cak. Sampaikan salam rindu saya kepada Gus Dur di alam sana. Allahumma ighfir li-Hasyim Muzadi. []

*Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU)

-------------------------
--Sumber Tulisan: JPNN & Madaniy.com (Jum'at, 17 Maret 2017)
--Foto: Dokumentasi saat Prof. Mahfud MD bersama KH. Hasyim Muzadi, Prof. Alwi Shihab, Gus Dur dan KH. Abdullah Faqih tahun 2002.
Advertisement

Advertisement