Kamis, 05 Oktober 2017

Non Muslim Kulit Putih jadi Mayoritas Teroris di AS, Bukan Muslim atau Kulit Hitam

MusliModerat.net - Alasan Donald Trump melarang kaum muslim dari tujuh negara memasuki wilayah Amerika Serikat adalah untuk melindungi negeri itu dari ancaman terorisme. Setelah delapan bulan berkuasa di Gedung Putih, Trump selayaknya merevisi atau mencabut aturan tersebut.
Faktanya, bukan kaum muslim atau imigran dari negara-negara berpenduduk Islam yang telah meneror sesama warga Amerika. Aksi penembakan massal oleh Stephen Paddock, 64 tahun, di Las Vegas pada Senin (2/10) dini hari mengukuhkan bahwa orang-orang kulit putih yang terbanyak melakukan teror.
"Sejak 1982, pelaku penembakan di Amerika terbanyak (54 persen) adalah orang kulit putih dan berikutnya kulit hitam," tulis John Haltiwanger di Newsweek.

Sebelum aksi Paddock, empat aksi penembakan sepanjang 2017 ini dilakukan oleh pria kulit putih. Pada Agustus lalu James Alex Fields Jr (20) menabrakkan mobil Dodge Challenger-nya ke kerumunan massa aksi anti-rasis dan anti-fasis di Kota Charlottesville, Virginia. Akibat aksinya itu 3 orang tewas dan 35 orang luka-luka. Sebelumnya, Mei, Jeremy Joseph Christian (35) menikam Taliesin Myrddin Namkai-Meche dan Ricky John Best di sebuah kereta pada Jumat (26/5/2017) di Portland. Keduanya tewas. Kepada mereka tentu tak ada label teroris disematkan oleh aparat terkait maupun media.
Hasil riset Mothers Jones, media non profit Amerika, menyebutkan penembakan massal yang terjadi di negara itu dalam rentang 1982-2017 dilakukan oleh pelaku kulit putih. Jumlah korban penembakan dalam rentang 1982-2012 mencapai 750 ribu korban, termasuk 320 korban meninggal.
Mother Jones mengungkap telah memperbarui data penembakan masal yang telah mereka rakit hingga 2012. Total kasus penembakan masal di AS mencapai 91 kasus, dan 50 diantaranya dilakukan oleh pelaku kulit putih.
"Lebih dari separuh lokasi penembakan massal adalah sekolah dan tempat kerja, selebihnya pusat perbelanjaan, restoran, tempat keagamaan, dan kantor pemerintah," tulis Mother Jones.
Sedangkan pelaku kulit hitam mencapai 15 pelaku, 7 pelaku keturunan Asia, 7 keturunan latin, 3 penduduk asli Amerika, dan 3 dari ras lain.
Riset Mother Jones pada periode sebelumnya, 1982-2012 menunjukkan korban penembakan di AS mencapai 750 ribu orang, 320 diantaranya meninggal. Perhitungan ini menunjukkan 11 ribu orang meninggal karena kasus senjata api tiap tahun dan 20 ribu jiwa melakukan bunuh diri menggunakan senjata api.

Beragam jenis senjata api, dari senapan serbu sampai pistol dan revolver digunakan oleh pelaku penembakan. Bebasnya kepemilikan senjata di AS diperkirakan pemicu tingginya kasus penembakan massal ini. Editor CNN, Naaz Modan, menuliskan kebebasan kepemilikan senjata didukung dengan rasa patriotik dengan kepemilikan senjata ini kian meningkatkan budaya kekerasan di AS.
"Budaya perang seperti digambarkan Paman Sam, tertanam dalam jiwa Amerika Serikat," tulisnya dalam opini editor di CNN.


(jat/jat/Detikcom)
Advertisement

Advertisement