Senin, 02 Oktober 2017

Menolak Lupa, 13 Aktivis yang Diculik pada Masa Orba dan Belum Diketahui Rimbanya Hingga Kini

MusliModerat.net - Akhir-akhir ini, banyak masyarakat kita yang mengaku secara terang-terangan bahwa mereka merindukan rezim Orde Baru. Mereka merindukan masa dimana harga barang-barang yang murah walaupun mereka tidak bisa membelinya. Mereka juga katanya merindukan politik serta hukum yang stabil dan tidak ada kriminalisasi.
Orang-orang yang merindukan Orba adalah orang-orang yang saya kira memiliki penyakit lupa yang begitu parah. Bagaimana tidak, mereka bisa dengan mudahnya mengatakan rindu Orba tanpa pernah melihat apa yang terjadi pada saat mereka berkuasa.
Jika mereka berkata bahwa mereka merindukan Orba karena politik yang stabil, itu salah besar. Politik yang “stabil” itu tercipta dari pembungkaman kepada pihak-pihak yang kritis dan tidak sejalan dengan rezim Orde Baru. Siapa saja yang mengkritik pemerintah akan dipenjara atau bahkan redaksinya dibredel seperti yang terjadi kepada Tempo.
Aktivis yang aktif melawan otoriternya rezim Orba dijadikan buron dan diteror secara konsisten oleh militer ketika itu. Puncaknya terjadi menjelang jatuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998. Medio 1997/1998, aksi penculikan yang merupakan aksi penghilangan secara paksa terjadi. Penculikan itu dilakukan sebelum Pemilu 1997 dan sidang umum MPR setahun setelahnya.
Total ada 23 orang yang diculik ketika itu. Sembilan diantaranya berhasil kembali dan bahkan kini menjadi politisi dengan bergabung ke beberapa partai. Satu orang bernama Leonardus Gilang diculik dan ditemukan tewas beberapa hari kemudian. Dan 13 orang yang diculik belum ditemukan dan tidak diketahui nasibnya hingga kini. Mereka yang diculik dan tidak diketahui dimana rimbanya ini adalah:
  1. Petrus Bima Anugerah, mahasiswa Unair dan STF Driyakara, dan juga aktivis SMID. Hilang di Jakarta pada tanggal 30 Maret 1998.
  2. Herman Hendrawan, mahasiswa Unair. Hilang pada tanggal 12 Maret 1998 setelah menghadiri konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta.
  3. Suyat, aktivis SMID. Hilang di Solo pada tanggal 12 Februari 1998.
  4. Widji Thukul, seorang penyair yang juga aktivis JAKER. Thukul hilang di Jakarta pada tanggal 10 Januari 1998.
  5. Yani Afri, seorang sopir dan juga pendukung PDI Megawati serta mengikuti koalisi Mega Bintang pada Pemilu 1997. Sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara, dia hilang sejak tanggal 26 April 1997.
  6. Sonny, seorang sopir dan teman Yani Afri dan juga pendukung PDI Megawati. Hilang pada tanggal 26 April 1997.
  7. Dedi Hamdun, seorang pengusaha yang merupakan suami dari pemain film Eva Arnaz dan juga aktif di PPP. Dedi ikut dalam kampanye Mega Bintang dalam Pemilu 1997. Dia hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997.
  8. Noval Alkatiri, seorang pengusaha yang juga teman Dedi Hamdun. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997.
  9. Ismail, sopir Dedi Hamdun. Hilang di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1997.
  10. Ucok Mundandar Siahaan, mahasiswa Perbanas. Diculik saat kerusuhan tanggal 14 Mei 1998 di Jakarta
  11. Hendra Hambali, siswa SMA. Hilang saat terjadi kerusuhan di Glodok pada tanggal 15 Mei 1998.
  12. Yadin Muhidin, alumni sekolah pelayaran, sempat ditahan di Polres Jakarta Utara. Hilang pada tanggal 14 Mei 1998.
  13. Abdun Nasser, seorang kontraktor yang hilang saat kerusuhan pada tanggal 14 Mei 1998.
Keluarga mereka selalu menanti kepulangan mereka dengan sabar. Namun sayang kejelasan status mereka tidak diketahui sampai sekarang. Setiap tahun mengadakan aksi pun seolah sia-sia karena tidak ada keseriusan dari pemerintah sejak era reformasi untuk mengusut pelanggaran HAM berat ini
Dan sekarang ada sebagian masyarakat kita yang mengatakan bahwa mereka merindukan saat Orde Baru berkuasa. Saya tidak habis pikir mengapa mereka berkata seperti itu. Seolah-olah mereka lupa kekejaman yang pernah dilakukan oleh Orba saat mereka memegang kendali pemerintahan selama tiga dekade lebih.
Masyarakat kita begitu mudahnya melupakan. Maka dari itu, saya ingin mengingatkan sebagian masyarakat kita yang pelupa bahwa masih ada 13 rekan kita yang nasibnya tidak diketahui hingga kini. Mereka semua berjuang demi bebasnya kita mengutarakan pendapat pada saat ini. Mereka berjuang demi menyelamatkan bangsa ini saat dahulu monopoli bisnis selalu dilakukan oleh orang yang punya koneksi dengan penguasa. Saat ada rekan saya sesama generasi milenial mengatakan mereka merindukan Orba, saya ingin berkata kasar saja rasanya. Mereka betul-betul tidak memanfaatkan kemajuan teknologi dan mudahnya mendapatkan akses internet untuk membaca sejarah saat ini.
Apapun itu, kita harus tetap mengingat dan menuntut kejelasan mereka. Tidak ada kata lupa untuk terus mengingat apa yang terjadi pada masa lampau. Bukankah Bung Karno pernah berkata bahwa kita jangan pernah melupakan sejarah?
Salam satu tanah air Indonesia!
Dishare dari Seword
Advertisement

Advertisement