Selasa, 10 Oktober 2017

Meneladani Akhlak Waliyullah Mbah Hamid Pasuruan, Pemaaf dan tak Pernah Marah

MusliModerat.net - Beliau sangat tawadlu’ (rendah hati) kepada siapa saja, bahkan kepada yg lebih muda sekalipun. Suaranya pelan dan sangat pelan. Ketika apa saja pelan, entah mengajar, membaca kitab, berdzikir, shalat maupun bercakap-cakap dengan tamu.

Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya, beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah.
“Angel dukane, gampang nyepurane”, kata Durrah, menantunya.
Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan sayangnya.

Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada waktu.
Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada tempat kosong di situ beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan karena tidak mau melangkahi tubuh orang.

Kiai Hamid juga dikenal sebagai orang yang dermawan. Biasanya, kebanyakan orang kalau memberi pengemis dengan uang recehan Rp. 100,-. Tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau kalau memberi tidak melihat berapa uang yang dipegangnya, langsung diserahkan.
Kalau tangannya kebetulan memegang uang lima ribuan, ya uang itu yang diserahkan kepada pengemis (th 70 an)Tak hanya bentuk uang, tapi juga barang. Dua kali setahun beliau selalu membagi sarung kepada masing-masing anggota keluarga.

Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secara langsung tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah beliau adalah:
1. Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang tidak terduga.
Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali,
Selepas shalat Dhuhur 25 kali,
Setelah Ashar 20 kali,
Setelah Maghrib 15 kali
Dan setelah Isya’ 10 kali.
2. Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
3. Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
4. Membaca kitab Dala’ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.

Dishare dari dr Pon-pes salafiyyah Pasuruan.
Advertisement

Advertisement