Selasa, 10 Oktober 2017

Kesederhanaan Mbah Ma'sum Lasem Dan Mbah Haroen, Tak Pernah Menyimpan Beras untuk Besok

MusliModerat.net - Kesederhanaan Mbah Ma'sum Lasem Dan Mbah Haroen; "Besok Ya Besok"..

Mbah Harun seorang nelayan dari Desa Karangmangu, Sarang. Ia punya sebuah perahu kecil yang biasa disebut “cukrik”. Tiap hari ba’da shubuh ia berangkat melaut, pulang sekitar waktu dluha.
Yang ia peroleh hari itu ya untuk nafkah hari itu.

Sore hari, Mbah Sintho’, isterinya, biasa berkunjung ke tetangga-tetangga, terutama yang kelihatan kurang berpunya.
Kalau ada rejeki yang lebih dari kebutuhan sampai esok pagi, kelebihan itu ia serahkan kepada yang membutuhkan. Mbah Sintho’ tidak suka menyimpan-nyimpan.

Semua anak-anak Mbah Harun dan Mbah Sinto’, yaitu Umar Harun, Kholil Harun (kakek Gus Mus), Fadlil Harun dan Shodiq Harun, di kemudian hari menjadi pengabdi ilmu-ilmu agama (Ulama Besar) dan menurunkan dzurriyyah yang mengabdi kepada ilmu-ilmu agama pula.
Di Pesantren Soditan, Lasem, Haflah Mauludiyyah adalah kegiatan rutin. Tanpa diminta, biasanya beberapa hari sebelum acara akan berdatangan macam-macam hantaran dari masyarakat sekitar, berupa beras, bumbu-bumbu, jajanan, bahkan kambing dan sapi.
Hanya saja, hari itu seseorang mengirimkan beras terlalu banyak dan terlalu dini, sehingga Nyai Nuriyah, isteri Kiyai Ma’shum, kerepotan menyimpannya.
Apalagi waktu itu pas Nyai Nuri hendak pergi untuk suatu keperluan, sedangkan Kiyai Ma’shum belum turun dari langgar, mengajar santri. Nyai Nuri pun menyuruh menumpuk begitu saja karung-karung beras itu didekat dapur, kemudian pergi meninggalkan rumah.
Turun dari langgar usai mengajar, Kiyai Ma’shum kaget melihat tumpukan karung-karung itu. Nyai Nuri belum pulang.

“Dari mana ini?”
“Tadi ada orang ngirim”, santri ndalem menjawab.
“Untuk apa?”
“Tidak tahu… Nyai tidak berpesan apa-apa…”
Kiyai Ma’shum kelihatan tidak senang.
“Bagi-bagikan ke tetangga sana! Semuanya!”

Tak ada yang membantah.
Semua karung habis, Kiyai Ma’shum belum puas. Beliau lihat di pojok dapur masih ada karung teronggok, meskipun hanya separoh isinya.
“Itu! Bagikan sekalian!” perintahnya.
Nyai Nuri yang baru pulang kemudian ganti kaget.
“Karung-karung beras tadi mana?”
“Kusuruh bagi-bagikan!” suara Kiyai Ma’shum ketus.
“Lho?”
“Numpuk beras banyak-banyak begitu buat apa?” Kiyai Ma’shum kentara gusarnya, “banyak orang lain yang butuh kok!”
Nyai geleng-geleng kepala.
“Bukannya numpuk, Pak”, ia menjelaskan, “itu sumbangan orang untuk muludan…”
Kiyai Ma’shum tercingak.
“Aku nggak tahu…”
Tak berkata apa-apa lagi, Nyai masuk dapur untuk menyimpan buntalan entah apa yang dibawanya.
“Lho?!” terdengar lagi seruan kagetnya, “karung yang di pojokan sini mana?”
“Kusuruh bagikan sekalian”.
Nyai bengong.
“Lha yang buat diliwet besok apa?”
“Ngliwetnya besok kok sekarang sudah nanya…” Kiyai Ma’shum tenang…

______________
Kiriman dari grup FB Galeri Foto Ulama dan Habaib
Advertisement

Advertisement