Rabu, 18 Oktober 2017

Istilah "Pribumi Non-Pribumi" Diciptakan Penjajah untuk Adu Domba Rakyat Indonesia


Pada zaman penjajahan Belanda perbedaan pribumi dan non pribumi ini dibuat oleh Belanda kemudian disebarkan untuk mengadu domba. Ini merupakan strategi politik warisan Belanda. Divide et Impera. Politik adu domba ini diciptakan Belanda untuk memperlancar penjajahannya terhadap Indonesia.

MusliModerat.net -  Saya menanggapi akhir-akhir ini cukup banyak perdebatan mengenai isu yang sama persis pada zaman penjajahan Belanda dan zaman orde baru. Kalimat-kalimat pribumi dan non-pribumi terasa hidup kembali. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus cerdas dan bijaksana dalam berpolitik. Hal ini dilakukan agar apa yang kita miliki bermanfaat untuk kemajuan bangsa dan negara.

Mengenai masalah diatas, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan. Hal ini saya tujukan untuk mereka yang terhormat yang saat ini sedang gencar-gencarnya mengeluarkan isu tersebut. Apa sih sebenarnya manfaat isu tersebut dilontarkan? Jika memang diperlukan perbedaan tersebut, saya sebagai warga negara Indonesia yang merindukan kemakmuran dan kemajuan NKRI mendukung penuh hal tersebut.

Namun jika isu perbedaan tersebut sama sekali tidak bermanfaat dan hanya merusak persatuan dan kesatuan NKRI, maka saya menyarankan untuk berhenti melontarkan isu tersebut. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistiki (BPS) jumlah Penduduk Indonesia kurang lebih 255,9 juta jiwa. Terdiri dari 128,1 juta jiwa laki-laki dan 126,8 juta jiwa perempuan. Tidak hanya itu. Indonesia juga memiliki 1.340 suku dengan 728 bahasa daerah.

Lantas, bagaimana caranya kita mampu membedakan mana yang disebut pribumi dan non pribumi? Apakah kita mampu membuktikan hal tersebut dengan akurat? Apakah selama ini perbedaan tersebut yang merusak persatuan dan kesatuan kita? Saya yakin bukan itu jawaban atas permasalahan semuanya.

Pada zaman penjajahan Belanda perbedaan pribumi dan non pribumi ini dibuat oleh Belanda kemudian disebarkan untuk mengadu domba. Ini merupakan strategi politik warisan Belanda. Divide et Impera. Politik adu domba ini diciptakan Belanda untuk memperlancar penjajahannya terhadap Indonesia. Kemudian Istilah pribumi dan non pribumi subur lagi pada era orde baru. Karena pada zaman Orba jelas sekali masih adanya penanaman perbedaan.

Secara hukum dan undang-undang jelas sekali yang disebut warga negara Indonesia (WNI) adalah setiap orang yang lahir di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berkehidupan Indonesia. Dan diperaturan undang-undang pun jelas sudah tidak diperbolehkan menyebut kata pribumi dan non pribumi, sebab dengan menanamkan perbedaan itu sudah bertentangan dengan azas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dishare dan disunting dari Kan Hiung
Advertisement

Advertisement