Selasa, 10 Oktober 2017

Hanya di era Gus Dur, Istana Negara Disulap jadi Istana Rakyat

MusliModerat.net - Di era Gus Dur, istana kepresidenan menjelma rumah rakyat. Seringkali, pada dinihari Gus Dur menerima kunjungan kyai dari Jawa Timur yang membuat Paspampres canggung.

Tamu Gus Dur yang ‘antik juga banyak, seperti pengembara yang minta ‘sangu’, para biksu, orang berpakaian kejawen berambut gondrong, Greg Barton, Indonesianis berbaju batik yang sopan, hingga seorang film maker asal Australia Mr. Curtis, yang diizinkan mendokumentasikan aktivitas Presiden Gus Dur secara bebas, selama 24 jam full, nyaris tanpa batasan dan tanpa sensor. Wartawan juga dibiarkan mengakses setiap sudut istana. Dengan kata lain, sejak awal menjadi presiden, Gus Dur membuka istana bagi siapapun.

Di era Gus Dur pula Open House idul fitri 2000 dilakukan di dalam istana hingga karpet terbaik di Cradential Room [tempat presiden menerima kepala negara dan duta besar asing] yang masih gres harus amburadul diinjak ribuan pasang kaki baik itu kakinya menteri, satpam, pasukan kuning, santri, hingga pengelana. Staf rumah tangga istana sempat menyampaikan keberatan kepada Gus Dur. Dan apa jawaban Gus Dur?
“Ya biarin aja rakyat menikmati karpet istana yang masih baru itu, toh karpet itu dibeli pakai uang rakyat,”.

Rombongan tuna netra juga hadir, tukang kebon dan pasukan kuning di Tugus Monas malah hadir dengan baju kebesaran berwarna oranye dan aroma yang khas sampah. Anak-anak jalanan juga datang diiringi orangtuanya. Semua diterima oleh Presiden Gus Dur.

Lucunya, Menteri Pertahanan Mahfud MD bersama istri yang datang telat memilih ikut antri, meski sebagai anggota kabinet ia bisa melewati jalur khusus. Pak Mahfud malah senyum-senyum meladeni rakyat yang ingin berjabat tangan dengannya.

Hari itu, istana megah benar-benar dikukuhkan Gus Dur sebagai istana rakyat dan mereka dijamu dengan spesial. Karpet istana yang mahal dan mewah, yang dibeli memakai uang rakyat, benar-benar dinikmati rakyat. Karpet berwarna biru tua dengan kembang-kembang kuning keemasan di sepanjang tepiannya itu telah kumal terinjak oleh kaki rakyat yang sebelumnya menjejak gerimis di tanah.
Hari itu, Istana Merdeka benar benar menjadi istana rakyat
Advertisement

Advertisement