Selasa, 03 Oktober 2017

Guru Mulia Mbah Makshum Lasem: Siapa yang Benci NU, berarti Membenciku

MusliModerat.net - Berjalan Tanpa Henti, Menyeru Perlawanan Terhadap PKI
Salah satu pendiri utama Nadhlatul Ulama 1926 adalah Guru Mulia Simbah Kyai Haji Maksum Bin Ahmad Lasem, atau biasa kita sebut sebagai Mbah Maksum Lasem. Beliau lahir pada tahun 1868 dan wafat pada tahun 1972.

Berdasarkan nasab dari ayahandanya, beliau merupakan dzuriyah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dikenal sebagai pribadi yang jujur, mengayomi, dan senantiasa menjalin silaturahim, serta selalu menghormati tamu.

Ketika meletus pemberontakan PKI tahun 1965, ada salah satu anggota angkatan bersenjata yang berpihak pada pemberontak. Sehingga waktu itu menyebabkan pemerintahan Kota Lasem lumpuh total. Mbah Maksum segera bergerak. Beliau menyediakan pondok yang beliau asuh, Pondok Pesantren Al Hidayah menjadi pusat pemerintahan Kota Lasem.
Disulaplah kamar-kamar pondok dengan pintu tertutup dan jendela terbuka dengan senjata otomatis menghadap keluar, sebagai kewaspadaan jika setiap saat mendapat serangan dari pemberontak. Sehingga dengan demikian, beliau adalah orang yang paling ditarget untuk dibunuh oleh PKI.

Pada waktu itu, beliau sudah mencapai usia 97 tahun. Ketika kondisi semakin tidak menentu, beliau memaksa untuk ‘turun tangan’ langsung mengobarkan perang melawan PKI yang telah membunuh Ulama, Santri dan warga NU.
Dikisahkan, banyak santri yang berusaha mencegah beliau, mengingat usia beliau yang sudah mendekati satu abad, dan kondisinya tentu sudah tidak muda lagi. Namun, beliau bersikeras, sehingga akhirnya beliau keluar dari Lasem dikawal oleh beberapa santri pilihan sebagai pengayuh becak secara bergantian.

Tak tanggung-tanggung, perjalanan ini beliau tempuh dalam waktu dua bulan. Terus bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa berhenti hingga menembus beberapa wilayah di Jawa Timur. Alhamdulillah, beliau selalu dalam lindungan Gusti Allah SWT. Hingga akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan, dan kondisi bisa dipulihkan seperti sedia kala.


Kecintaan beliau kepada NU tertuang dalam maqolah beliau, “Jangan sekali-kali membenci NU. Siapapun yang membenci NU berarti membenci aku. Karena NU itu saya yang mendirikan bersama Ulama-ulama lainnya”.
Beliau wafat di usia 104 tahun. Banyak jiwa yang merasakan seperti langit akan runtuh. Wafatnya beliau tidak bisa digantikan perannya oleh ulama manapun juga, sebagaimana wafatnya Syaikh Abdul Qodir al Jilani atau wafatnya Hadlrotussyaikh KH. Hasyim Asy’arie.

Ila hadlroti ruhi Simbah KH. Maksum Lasem wa zawjatihi wadzurriyatihi wa furi'ihi wasilsilatihi wa muhibbihi syaiun lillahu lana walahum al fatihah...

Dishare dari Shuniyya Ruhama H
Advertisement

Advertisement