Selasa, 03 Oktober 2017

Gabung Nasakom, Cara Cerdik NU Selamatkan Indonesia dari Cengkeraman Komunis

Sadar kalau faham komunis sudah menyebarluas, NU pun mengusulkan pada Bung Karno agar tanggal 1 juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. *Ide ini dilontarkan untuk mengingatkan masyaraķat, dasar negara adalah pancasila dan jangan sampai tergantikan oleh faham komunis*, sekaligus menyatukan kaum nasionalis dengan Islam melawan ajaran komunis. Lalu ketika PKI sudah begitu besar dan sulit ditandingi, NU pula yang memancing banyak pihak untuk mengangkat Bung Karno sebagai presiden seumur hidup, bahkan PKI pun terpengaruh dan bahkan yang paling lantang menyuarakan ide tersebut.
Bila pemilu pasca dekrit presiden diselenggarakan, bisa dipastikan PKI akan memenangkannya. PKI tak menyadari bahwa ide menjadikan Bung Karno presiden seumur hidup sesungguhnya untuk meniadakan pemilu. Sebab buat apa ada pemilu bila presiden sudah ditetapkan, demikianlah logikanya. Pemilu akhirnya tak terselenggara, negara dan bangsa selamat dari bahaya kemenangan komunisme.
Melihat sudah demikian mengguritanya PKI di masyarakat, NU pun mengadakan perlawanan pada tingkat akar rumput dengan melahirkan berbagai ormas tandingan. Lesbumi lahir untuk menandingi Lekra, Pertanu untuk melawan BTI, dan Banser Ansor untuk melawan pemuda rakyat.Demikianlah sekelumit cerita disampaikan agar warga NU tak hanya hafal doa tahlil dan fasih membaca arab gundùl, tapi juga tau sejarah masa lalunya.

MusliModerat.net - Mengingat Bung Karno hanya memberikan waktu 3 hari pada NU untuk menolak atau menerima Nasakom, maka diputuskanlah oleh KH Wahab Chasbullah dan KH Idham Chalid untuk menerima nasakom tanpa harus menunggu persetujuan cabang - cabang NU yang ada di seluruh daerah, dengan pertimbangan sebagai berikut :



Pertama, tak mungkin mengumpulkan seluruh cabang NU yang tersebar di berbagai daerah dalam waktu sesingkat itu, sementara keputusan harus dibuat cepat mengingat PKI telah menghasut Bung Karno untuk membubarkan partai politik yang tak menerima nasakom.

Kedua, bila partai NU dibubarkan maka praktis tak ada lagi partai besar Islam yang bisa memperjuangkan aspirasi umat baik di pemerintahan maupun di parlemen, mengingat partai masyumi sudah dibekukan sebelumnya.
Selang beberapa bulan kemudian setelah menerima nasakom, dikumpulkanlah seluruh cabang untuk diberikan penjelasan mengapa NU menerima nasakom dengan alasan pertimbangan di atas. Seluruh cabang pun menerimanya. Pada pertemuan tersebut KH Wahab Chasbullah berpesan, "Kecuali terpaksa, jangan bertempur di luar gelanggang, karena hanya sedikit mendatangkan manfaat bagi umat". Kalimat tersebut menandai dimulainya pertempuran terbuka NU yang dikomandani politikus sangat cerdik KH Idham Chalid melawan PKI baik di pemerintahan, parlemen, sampai akhirnya pada tingkat akar rumput juga.

Sadar kalau faham komunis sudah menyebarluas, NU pun mengusulkan pada Bung Karno agar tanggal 1 juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. *Ide ini dilontarkan untuk mengingatkan masyaraķat, dasar negara adalah pancasila dan jangan sampai tergantikan oleh faham komunis*, sekaligus menyatukan kaum nasionalis dengan Islam melawan ajaran komunis. Lalu ketika PKI sudah begitu besar dan sulit ditandingi, NU pula yang memancing banyak pihak untuk mengangkat Bung Karno sebagai presiden seumur hidup, bahkan PKI pun terpengaruh dan bahkan yang paling lantang menyuarakan ide tersebut.

Bila pemilu pasca dekrit presiden diselenggarakan, bisa dipastikan PKI akan memenangkannya. PKI tak menyadari bahwa ide menjadikan Bung Karno presiden seumur hidup sesungguhnya untuk meniadakan pemilu. Sebab buat apa ada pemilu bila presiden sudah ditetapkan, demikianlah logikanya. Pemilu akhirnya tak terselenggara, negara dan bangsa selamat dari bahaya kemenangan komunisme.

Melihat sudah demikian mengguritanya PKI di masyarakat, NU pun mengadakan perlawanan pada tingkat akar rumput dengan melahirkan berbagai ormas tandingan. Lesbumi lahir untuk menandingi Lekra, Pertanu untuk melawan BTI, dan Banser Ansor untuk melawan pemuda rakyat.
Demikianlah sekelumit cerita disampaikan agar warga NU tak hanya hafal doa tahlil dan fasih membaca arab gundùl, tapi juga tau sejarah masa lalunya.

Oleh: M Djoko Yuwono, Wartawan Senior dan Budayawan.
Advertisement

Advertisement