Minggu, 22 Oktober 2017

Berkat Santri, Indonesia Kondusif, tidak Konflik Seperti Timur Tengah

Tulisan : M. Imaduddin (Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah Pbnu)

MusliModerat.net - Negeri ini telah beberapa kali dilanda konflik berlatarbelakang agama dan beberapa persoalan yang bisa memancing konflik agama. Kita ingat beberapa tahun yang konflik Ambon, Poso. Bahkan tahun-tahun sebelumnya terjadi peristiwa Tanjung Priok, Pembakaran Gereja di Tasikmalaya dan Situbondo. Terbaru, pembakaran Wihara di Tanjung Balai Sumatera Utara dan penyerangan jama'ah shalat idul fitri di Tolikara, Papua, serta pengusiran penganut Syiah di Sampang Madura. Dan masih banyak peristiwa lainnya.

Namun, konflik lokal dan letupan itu tak sampai menjadi konflik berskala nasional hingga menjadi perang antaragama dan antargolongan dan tak berlarut-larut seperti negara-negara Timur Tengah yang kini porak poranda akibat konflik antar golongan dalam Islam.

Apa sebab Indonesia hingga kini tetap kondusif? Padahal negeri ini sangat majemuk, terdiri dari berbagai suku, agama, dan golongan yang rentan terjadi gesekan.

Ulama-ulama di Indonesia adalah ulama yang nasionalis dan nasionalis yang ulama. Ulama yang tak memisahkan antara agama dan kecintaan terhadap bangsa (nasionalisme). Sebagai ulama mereka bertugas menyampaikan ajaran agama Islam kepada masyarakat, tapi pada saat yang sama ia sebagai nasionalis yang mengutamakan kepentingan bangsa dan keutuhan NKRI. Mereka tak hanya memperjuangkan Islam tapi juga berusaha agar bangsa ini tak terpecah belah ke dalam konflik berkepanjangan.

Meminjam pengandaian Habib Lutfi bin Yahya, ibarat sebuah botol yang terisi air. Aswaja adalah isinya sementara botolnya adalah Indonesia. Jika botolnya pecah maka akan berserakan airnya. Jadi, yang harus kita jaga adalah botolnya.

Ini pula yang melandasi lahirnya Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 oleh Hadrotussyekh KH. Hasyim Asy'ari. Bahwa membela tanah air dari penjajahan belanda hukumnya adalah fardhu 'ain dan bagi yang mati mempertahankan tanah air hukumnya mati syahid.

Pola pendidikan pesantren, sebuah sistem pendidikan yang genuine lahir dari kultur Indonesia, memadukan antara ajaran agama Islam yang berasal dari Arab dengan tradisi nusantara, telah melahirkan ulama pejuang dan pejuang ulama yang mencintai bangsanya seperti agamanya. Maka lahirnya kemudian istilah "hubbul wathon minal iman" cinta tanah air sebagian dari iman.
Santri dan pesantren adalah bagian dari kebudayaan bangsa ini, maka sangat tepat Gus Dur mengatakan, "pesantren adalah sub kultur". Karena itu, Islam di Indonesia itu unik dan berbeda dengan karakter Islam di belahan dunia lainnya.

Yang mengerti tentang permasalahan dan karakter bangsa Indonesia adalah ulama-ulama Indonesia sendiri. Premis ini bukan berarti merendahkan ulama-ulama Timur Tengah saat ini. Ulama-ulama Timur Tengah diakui keilmuannya dan kealimannya, dan layak secara keilmuan kita belajar kesana. Namun cara pandang seseorang tak lepas dari kultur, serta setting sosial dan politik tempat dimana ia tumbuh. So, ini bukan soal sumber ilmu, tapi ini soal metode pendekatan dalam menanagani konflik sosial.

Selamat Hari Santri 2017
Saya bangga menjadi santri dan selamanya tetap santri
Santri Mandiri NKRI Hebat..!
Advertisement

Advertisement