Selasa, 03 Oktober 2017

Banyak yang Sebar Hoax, Gus Nadir: Smartphone Tidak Membuat Semua Orang Jadi Smart

Prof KH Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI NU Australia New Zealand.
MusliModerat.net - Rais Syuriyah PCINU Australia dan Selandia Baru Prof Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) menyatakan, kepesatan perkembangan teknologi informasi tidak mengubah pola pikir orang fundamentalis menjadi modern.
“Era teknologi ini, tidak mengubah orang fundamentalis jadi modern. Orang-orang yang memiliki smartphone tidak lantas menjadi smart, jadi pintar,” kata Gus Nadir disambut riuh tawa hadirin pada acara diskusi bertajuk Mengaji dan Mengkaji Islam, Medsos, dan Generasi Milenial di kantor Pengurus Pusat GP Ansor, Jakarta Pusat, Senin (25/9) malam.
Gus Nadir menjelaskan bahwa hal tersebut dibuktikan dengan menyeruaknya hoax dan hate speech. Banyak orang tidak pintar dan tidak memerhatikan etika bermedsos.
“Era teknologi ini, tidak mengubah orang fundamentalis jadi modern. Orang-orang yang memiliki smartphone tidak lantas menjadi smart, jadi pintar,” kata Gus Nadir 
“Ketika seorang pemuda menghina Gus Mus atau ketika Profesor M Quraish Shihab disuruh membaca syahadat oleh seorang netizen, mereka-mereka itu tidak menggunakan etika dalam bermedia. Mereka tidak paham siapa yang mereka hina,” tutur Gus Nadir.
PP GP Ansor, Etika Bermedsos, Nadirsyah Hosen, PWNU Jabar, Jawa Barat
Dari kiri ke kanan: Tsamara Amany, Nuruzzaman, Nadirsyah Hosen, dan Haidar Bagir.
Generasi milenial memang lebih banyak berkomunikasi lewat layar ketimbang tatap muka langsung. “Mungkin, mereka pikir, yang dihadapi bukan siapa-siapa melainkan hanyalah sebuah layar,” kata dosen hukum di Monash Law School Australia itu.
Ia mengharapkan, etika bermedsos perlu dikaji dan juga menjadi tugas Ansor untuk menyebarkannya; untuk menebarkan bahwa Islam itu santun dan ramah.
“Ini menjadi tugas sahabat-sahabat Ansor. Acara (diskusi) ini tidak boleh berhenti sampai di sini,” imbuhnya.

Selain Gus Nadir, ada beberapa pemateri lain yang hadir pada diskusi malam itu, yakni Haidar Bagir dan Nuruzzaman (Kabid Hubungan dan Kajian Strategis GP Ansor), dengan moderator Tsamara Amany, yang sering disebut sebagai politisi milenial.
(Wahyu Noerhadi/Alhafiz K/NU Online)
Advertisement

Advertisement