Rabu, 13 September 2017

Tiga Tokoh yang Berjasa Besar Tanamkan Keindonesiaan dan Keislaman

Oleh Aswab Mahasin

MusliModerat.net - Dalam panggung sejarah Indonesia, kita mengenal tiga Ulama kharismtik; KH Hasyim Asy'ari, KH Wahid Hasyim, dan KH Abdurahman Wahid (Gus Dur). Ketiga tokoh tersebut satu sama lain mempunyai keterikatan darah dantidak bisa dipungkiri, jasa mereka luar biasa, khususnya dalam merajut kualitas bangsa.

Mbah Hasyim sebagai pendiri NU sumbangsih pemikirannya, kinerjanya, dan manfaatnya terus mengakar hingga kini. Sedangkan Kiai Wahid adalah tokoh terpenting dalam pembentukan kesatuan  hidup berbangsa dan bernegara, ini beliau lalui pada saat Indonesia sedang genting-gentingnya menentukan arah hidup ide dan ideologi.

Kemudian Gus Dur tidak kalah dengan Kakek dan Bapaknya, Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia, pemikirannya sempat menghentak jagad Indonesia, apalagi pada saat menjadi Presiden Republik Indonesia, beliau sering dianggap kontroversial. Namun, banyak orang mengatakan, Gus Dur melampaui zamannya. Dan Gus Dur selalu mengatakan, “Sejarah akan membuktikannya.”

Tulisan ini akan menyampaikan pemahaman terdalam para Kiai yang mempunyai jiwa mulia terhadap Indonesia. Meminjam Istilah yang dipopulerkan Gus Mus, “Kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Kita bukan orang Islam yang kebetulan dilahirkan di Indonesia”.

Berangkat dari hal tersebut, saya ingin membaca eksmplar demi eksmplar apa yang telah ditularkan tiga generasi hebat itu, sehingga harumnya mewangi hingga kini.

Keindonesiaan KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari lahir dengan nama lengkap Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd Al-Wahid ibn ‘Abd Al-Halim (mempunyai gelar Pangeran Bona) ibn ‘Abd Al-Rahman (dikenal dengan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya) Ibn ‘Abd Allah ibn ‘Abd Al-‘Aziz ibn ‘Abd Al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden ‘Ain Al-Yaqin (yang disebut Sunan Giri). Beliau lahir di Gedang, desa di daerah Jombang, Jawa Timur, hari Selasa Kliwon 24 Dzu Al-Qa’idah 1287 H. Bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871. KH. Hasyim Asy’ari wafat pada jam 03.45 Dinihari tanggal 25 Juli 1947 bertepatan dengan 7 Ramdhan tahun 1366 H dalam usia 79 tahun. (Lihat buku Intelektualisme Pesantren, Seri 2: 2003, hlm. 319)

Di awali dari mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), bersama dengan ulama besar di Jawa lainnya, KH. Abdul Wahab dan KH Bishri Syansuri. Mbah Hasyim memulai kiprahnya dalam aktifitas gerakan sosial-keagamaan. Bahkan beberapa pandangan mengatakan, getolnya Mbah Hasyim melawan dominasi penjajah di era kolonial Belanda dan Jepang, beliauseringkali terjebak dengan maslah-masalah sosial-politik.

Akan tetapi, bagi beliau hal tersebut lumrah dan beliau melakoninya tanpa menyerah, dengan tujuanagar Indonesia terbebas dari hegemoni penjajahan yang mengusik kedamaian bangsa. Saya pernah membaca buku biografi Gus Dur yang ditulis Greg Barton, ada hal menarik tentang salah satu perlawanan dan pengorbanan yang dilakukan oleh Mbah Hasyim untuk menjaga harkat martabat bangsa dan agama, bahwa Mbah Hasyim yang dianggap makar dari perintah Jepang, kemudian ditangkap, dengan alasan beliau menolak membungkuk hormat ke arah matahari terbit/memuja kaisar Jepang.

Dari membelotnya Mbah Hasyim tersebut, beliau dipukuli tentara Jepang, sampai lengan kanan Mbah Hasyim tidak lagi berfungsi normal. Namun, tidak lama kemudian, Jepang sadar—menangkap Mbah Hasyim seorang kiai kharismatik sama saja membuat malapetakanya sendiri, akhirnya Jepang melepaskan Mbah Hasyim.
 
Kejadian ini tidak saja menggambarkan Mbah Hasyim dari sisi religiusitasnya, melainkan gambaran besarnya adalah kecintaan beliau terhadap Indonesia. Mematuhi perintah Jepang dengan “menyembah” Jepang sama saja dengan meng-“amini” kedaulatan Jepang di negeri sendiri.

Selain itu, yang paling fenomenal dalam ingatan sejarah kita, dengan berani dan lantang Mbah Hasyim mengatakan, sama sekali tidak bertentangan antara agama dan nasionalisme, nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan.Hukum membela negara dan melawan penjajahan bagian dari kewajiban, dan tidak bertentangan dengan hukum manapun, termasuk hukum agama.

Dari situlah terlahir Resolusi Jihad, pada titik ini semangat Indonesia terbangun untuk melawan penjajahan. Fatwa beliau dalam hal membela negara merupakan bukti nyata kecintaan dan penghayatannya terhadap jiwa keindonesiaan seorang Kiai.

Masih banyak kisah dan bukti dari kecintaan Mbah Hasyim terhadap “Keindonesiaan-nya”, apalagi Mbah Hasyim adalah guru para kiai. Begitu banyak yang beliau warisi dan tularkan terhadap generasi sekarang, khususnya generasi-generasi NU.

Satu hal lagi, tidak kalah pentingnya, Mbah Hasyim di dalam karya-karyanya, dan pengajian-pengajiannya selalu menekankan, bahwa dalam hidup berbangsa, bernegara, dan beragama, hal utama yang harus ditanamkan adalah sikap toleransi dan hidup berdampingan secara damai.

Pesan beliau yang sangat terkenal, “Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja.”

Keindonesiaan KH Wahid Hasyim

KH. Wahid Hasyim lahir dengan nama lengkap Abdul Wahid Hasyim, adalah putra dari KH. Muhammad Hasyim Asy’ari seorang pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama).

Kiai Wahid lahir pada tanggal 1 Juni 1914 di Tebuireng. Pada saat itu, Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Usia 7 tahun, Kiai Wahid belajar agama langsung kepada ayahnya. Setelah berusia 10 tahun, Kiai Wahid mulai berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain di sekitar Tebuireng. Usia 17 tahun Kiai Wahid berangkat ke Mekah untuk menimba ilmu. Kiai Wahid adalah sosok intelektual yang cerdas dan pintar, beliau menguasai tiga bahasa, Arab, Inggris, dan Belanda. Bekal itulah yang membawa beliau bergaul dengan berbagai macam literasi, proses otodidak membawa beliau tidak diragukan kapasitas pengetahuannya. (Lihat buku, Intelektualisme Pesantren, seri 3: 2003, hlm. 81)

Tidak berselang lama, di usia beliau yang masih sangat muda, 24 tahun, beliau sudah berusaha melakukan perubahan. Fokus pembaharuan beliau diarahkan pada empat bidang; keagamaan, politik, sosial, dan pendidikan. Beliau menyerukan mengenai pentingnya melawan para penjajah, melalui jalur pendidikan politik dan pembaharuan pemikiran. Bagi beliau cita-cita bangsa, dari segi apapun dan manapun akan tertunaikan dengan baik, jika Indonesia merdeka. Dengan itu, beliau terus menerus melakukan peningkatan terhadap sumber daya manusia.

Setelah satu tahun beliau berkiprah, nama Kiai Wahid semakin meroket, didaulatnya Kiai Wahid sebagai Ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Dan Kiai Wahid juga pernah menjabat sebagai Mentri Agama.

Banyak hal menarik dari Kiai Wahid, khususnya pada saat perumusan dasar Negara Indonesia. Di mana Kiai Wahid menjadi salah satu anggota bentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Kiai Wahid pada posisinya memiliki peranan penting, khususnya dalam menyumbat pertentangan demi pertentangan mengenai dasar negara. 
Beliau di setiap rapat mampu mengimbangi rekan-rekannya (walaupun dari latar belakang berbeda). Namun, lumrah hal tersebut terjadi bagi Kiai Wahid, karena beliau adalah pemakan literasiyang rakus. Seperti apa yang pernah diutarakan Gus Dur, bahwa di rumahnya perpustakaan pribadi Kiai Wahid begitu banyak koleksinya, dari mulai buku, koran, dan data/laporan-laporan penting.

Singkat cerita, melalui perundingan sengit, akhirnya dasar negara oleh BPUPKI disepakti, M. Yamin menamainya sebagai “Piagam Jakarta”. Yang melahirkan tujuh kata, “Ketuhanan dengan Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya”.Ditambah dengan empat sila lainnya.Nantinya, butir-butir tersebut termaktub dalam pembukaan konstitusi Negara Republik Indonesia.

Akan tetapi, hasil itu melahirkan polemik baru bagi kesatuan Indonesia. Tujuh kata tidak mewakili dan tidak menggambarkan Indonesia yang beraneka ragam. Sehingga pada satu momen tertentu, perwakilan Islam dikumpulkan, salah satunya adalah Kiai Wahid (sebagai perwakilan Islam dan NU), dengan pemikiran matang, beliau mengusulkan, harus ada perubahan, khususnya yang menjadi garis sengketa antar kelompok nasionalis Islam, nasionalis sekuler, dan non-Islam, beliau mengusulkan, “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sebagai pengganti dari tujuh kata yang akan membawa malapateka.

Di lihat dari seklumit narasi di atas, menunjukan, Kiai Wahid adalah seorang Indonesia Sejati. Keindonesiaannya telah membawa beliau pada keputusan yang arif dan bijaksana, untuk memikirkan kesatuan dan persatuan manusia Indonesia. Sangat pantas jika banyak yang menyebutnya sebagai penggerak motor nasionalisme. Inilah ijtihad kebangsaan Kiai Wahid, yang memahami jika dasar Islam/negara Islam terlalu beresiko untuk masa depan Indonesia.

Keindonesiaan KH Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Addakhil demikian nama lengkapnya. Namun, belakangan kata “Addakhil” tidak cukup dikenal diganti nama “Wahid”, Abdurrahman Wahid, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. “Gus” adalah panggilan kehormatan khas Pesantren kepada seorang anak kiai, yang berarti “abang” atau “mas”. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara yang dilahirkan di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 4 Desember 1940, anak dari KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholehah.

Berbincang Gus Dur tak akan pernah punya ujung, ia adalah makhluk dari berbagai paradigma. Meminjam istilah Herbert Marcuse, One-Dimensional Man, dan Gus Dur adalah narasi besar tentang itu. Banyak hal menarik mengkaji Gus Dur; seninya, kecintaannya terhadap musik klasik eropa, humornya, dan sebagainya. Masalah keindonesiaan, jangan sekali-kali meragukan Gus Dur.

Ada dua sisi menarik dari keindonesiaan Gus Dur, di satu sisi paham kebangsaannya dan di sisi lain pehamamannya mengenai tradisi Islam begitu mendalam. Dan Gus Dur mempunyai kemampuan untuk memadukan kedua hal tersebut. Dan tidak hanya teoritis atau sekedar wacana, dalam praksis Gus Dur selalu konsisten membela kaum-kaum yang tertindas. Tidak berlebihan jika banyak orang yang menyebutnya sebagai Bapak Pluralisme.

Dalam hal ini saya hanya ingin berbicara beberapa hal yang pernah dilakukan oleh Gus Dur sebagai bukti keindonesiaannya. Seperti halnya di Papua, bagi orang Papua Gus Dur adalah Bapak Perdamaian, kesaksian hal ini di amini oleh orang-orang Papua. Menurut mereka Gus Dur lah yang mengembalikan nama Papua, yang awalnya pada saat Orba menyebut diri sebagai Papua adalah tabu, mereka diberi nama Irian. Dan pada saat tahun 2000 ketika Gus Dur menjadi Presiden, beliau merestui Papua menggelar kongres dan memberikan bantuan dana, bagi mereka inilah ruang demokrasi sesungguhnya, hak identitas secara suku, budaya, politik diakui.

Selain itu, Gelar Bapak Tionghoa diterima oleh Gus Dur, sebagai rasa terima kasih mereka terhadap jasa-jasa Gus Dur, yang telah memberikan hak terhadap etnis Tionghoa secara politik maupun sosial. Di sinilah jasa Gus Dur menjadikan warga negara setara, Gus Dur membebaskan diskriminasi warga Tionghoa.

Itulah dua contoh agung yang dicontohkan Gus Dur, jika kita bedah, masih banyak lagi jasa-jasa Gus Dur terhadap kaum minoritas yang tertindas. Gus Dur yang terlahir dari kultur Pesantren, mempunyai prinsip kemanusiaan universal; hak beragama/berkeyakinan (hifzh al-din), hak berpikir/berpendapat (hifzh al-‘Aql), hak atas kehormatan tubuh dan kesehatan reproduksi (hifzh al-‘Irdh wa al-nasl), dan hak kepemilikan atas harta/benda (hifz al-mal). Untuk lebih jelas bagaina wacana Gus Dur dalam persoalan HAM, karena hal ini menjadi concern perhatian Gus Dur. Kita bisa temukan dalam tulisannya bertajuk “Hukum Pidana Islam dan Hak-hak Asasi Manusia”. Banyak yang menarik dari tulisan tersebut.

Akhir kata

Sebenarnya, masih banyak narasi-narasi menarik yang ingin disuguhkan dan harus ribuan bahkan puluhan ribu halaman untuk menerangkan ketiga tokoh itu. Akan tetapi, gambaran singkat tersebut bisa menjadi inspirasi yang bermanfaat untuk menggugah kesadaran keindonesiaan kita.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari Mbah Hasyim, “Adapun amal shalih adalah sifat yang umum pada setiap perbuatan yang memberi faedah kepada sesama hamba dan negara, dan memberi manfaat kepada masyarakat, baik individu, sekarang dan masa akan datang”. 

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber: NU Online

Advertisement