Senin, 04 September 2017

Soal Rohingya, Kenapa Fadli Zon Mainkan Sentimen SARA?

MusliModerat.net - “Rezim ini kelihatan tak mendukung masyarakat #rohingya yang jadi korban pengusiran dan pembantaian. Apakah karena kebetulan mereka muslim?”

Itulah Cuitan Pimpina DPR Fadli Zon


Kita harus pahami bahwa opini yang coba dibangun oleh Fadli Zon bukanlah tentang pemerintah yang tak peduli dengan Rohingya, tetapi lebih kepada permainan sentimen agama dan golongan. Yang harus digaris bawahi adalah kalimat terakhir: apakah karena kebetulan mereka muslim?
Tentu saja bukan sebuah kebetulan kalau salah satu narasi besar yang dibangun oleh kelompok oposisi selama ini adalah; pemerintah anti Islam. Semua ini adalah sebuah serangkaian strategi komunikasi politik yang sangat terstruktur. Belakangan kita tahu ada kelompok sindikat Saracen dari kelompok oposisi, yang kerjanya membuat hoax dan ujaran kebencian mengandung SARA. Bukan sebuah kebetulan juga kalau salah satu dari mereka pernah ke kantor DPC Gerindra, dan menjadi tim pemenangan Prabowo pada 2014 lalu.
Terlepas apakah Fadli Zon juga terlibat dalam narasi “pemerintah anti Islam” secara langsung atau tidak, itu bahasan yang panjang dan mungkin tanpa titik. Tapi begini, melihat Fadli Zon menganggap pemerintah tidak mendukung rohingya, kemudian menghubungkannya dengan muslim, bagi saya ini sudah terlalu berlebihan.
Sebagai rakyat biasa, saya sadar bahwa sejauh ini pemerintah dinarasikan anti Islam, saya paham betul bahwa isu agama dimainkan begitu liciknya oleh politisi oposisi. Tapi saya tidak pernah berpikir seorang pimpinan DPR yang katanya terhormat, harus ikut turun tangan memainkan sentimen SARA di balik air mata dan penderitaan masyarakat Rohingya.
Sepertinya musibah yang dialami oleh masyarakat Rohingya terlalu seksi untuk tidak dimanfaatkan. Terlalu menarik untuk dilewatkan. Sehingga sang pimpinan DPR harus ikut berkomentar menyulut api provokasi, mendukung narasi besar yang selama ini dibangun “pemerintah anti Islam.” Luar biasa.
Kenyatannya, Presiden sudah memerintahkan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, untuk berkomunikasi dengan pemerintah Myanmar. Bahkan sore tadi Bu Retno sudah berangkat ke Myanmar. Berkomunikasi dengan National Security Advisor Myanmar, Menlu Bangladesh mantan sekjen PBB yang sekarang menjadi ketua Advisory Commision on Rakhine State. Melakukan koordinasi agar aksi kekerasan bisa segera dihentikan, memberikan perlindungan keamanan secara inklusif, menghormati hak asasi manusia masyarakat di Rakhine State dan terakhir agar Indonesia bisa memberikan bantuan kemanusiaan untuk jangka menengah dan panjang senilai 2 juta US dollar. Menlu juga sudah aktif melakukan komunikasi dengan Sekjen PBB, Antoni Guterres, untuk segera mengatasi situasi kemanusiaan di Myanmar.
Tapi semua kerja keras serta kenyataan tersebut tidak penting untuk dibahas. Bahkan kalaupun kelompok oposisi tau hal itu, mereka akan tutup mata. Sebab apa? sebab narasi besar mereka adalah “pemerintah anti Islam.”
Sebuah fitnah yang terstruktur, sistematis dan massif, yang dibentuk oleh narasi besar dan disebarkan melalui strategi perkumpulan, tidak perlu fakta-fakta dan data. Yang terpenting hanyalah satu suara. Mau contoh? Isu kebangkitan PKI. Sekalipun di jaman ini sudah tidak ada PKI, dengan narasi yang disebar secara massif, isu tersebut berhasil menakut-nakuti banyak orang. Bahkan untuk membantah fitnah-fitnah tersebut, Presiden harus mengeluarkan pernyataan “jika ada PKI, kita gebuk!”
Yang membuat saya prihatin, seorang pimpinan DPR, ikut larut dalam narasi besar “pemerintah anti Islam” dengan memanfaatkan konflik di Myanmar. Secara terang-terangan Fadli Zon ikut memainkan sentimen SARA.
Jika sudah begini, kemungkinannya hanya dua. Pertama, Fadli Zon yang merupakan wakil ketua Gerindra adalah bagian dari pembentuk narasi besar “pemerintah anti Islam.” Sehingga yang dituliskannya hari ini adalah cara untuk menyulut api provokasi dari dalam negeri. Kedua, Fadli Zon termakan isu atau fitnah dari narasi “pemerintah anti Islam” yang dibuat secara terstruktur, sistematis dan massif.
Sebab pernyataan “Apakah karena kebetulan mereka muslim?” adalah sebuah pernyataan yang memiliki dasar sangat kuat (pemerintah anti Islam). Saya, pembaca dan seluruh masyarakat Indonesia tidak akan pernah mengeluarkan pertanyaan seperti itu jika kita tidak memiliki anggapan bahwa pemerintah Indonesia saat ini anti Islam. Tidak akan pernah.
Sleh karena itu, saya pikir hal ini perlu dipahami oleh kita semua, agar ke depan lebih dewasa dan tidak bisa dibodoh-bodohi oleh sekelompok orang yang berhati busuk. Tentang apakah Fadli Zon bagian dari pembentuk narasi “pemerintah anti Islam” ataukah hanya korban fitnah yang dibangun oleh Saracen dan sejenisnya, itu semua perlu pembuktian lebih lanjut. Tapi bagi saya, itu tidak terlalu penting lagi dibahas. Sebab jika Fadli Zon bagian dari pembentuk narasi, berarti dia adalah tipe politisi yang tak segan memainkan sentimen SARA demi kepentingan politiknya. Tapi kalau Fadli Zon hanya orang yang kemakan isu serta fitnah dari narasi “pemerintah anti Islam” berarti kita sedang memiliki pimpinan DPR yang sangat tidak dewasa.
Bagaimanapun kita berduka atas konflik yang terjadi di Myanmar. Namun jangan sampai konflik yang terjadi di luar negeri itu dijadikan alat propaganda, dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. 
Dikutip dari Seword
Advertisement

Advertisement