Jumat, 22 September 2017

Karomah Shalawat Badar Karya Kyai NU Mengalahkan Lagu Genjer-Genjer Gerwani PKI

MusliModerat.net - Bagi Warga NU, termasuk Muslimat pasti tidak asing dengan berbagai bacaan shalawat nabi yang beraneka ragam. Mulai dari shalawat nariyah, shalawat burdah, shalawat munjiyat, shalawat   kamaliyah, shalawat kubro, shalawat badar, hingga shalawat badawiyah.
Shalawat badar adalah diantara shalawat yang paling popular di kalangan warga NU. Shalawat yang berisi puji-pujian  kepada Rasulullah SAW dan para mujahidin, khususnya para pejuang Badar ini bisa dibilang selalu dibaca dalam majelis taklim, forum pengajian dan istigotsah yang dislenggarakan oleh warga nahdiyyin. Shalawat Badar banyak sekali hikmah dan faedahnya, diantaranya bisa menjadi sumber kekuatan untuk memohon pertolongan Allah, serta  washilah kepada Rasulullah SAW sebagai manusia paling dikasihi oleh Allah SWT.

Keistimewaan shalawat badar tak hanya pada syair teks dan maknanya yang sangat sakral, tetapi juga terdapat pada ikatan historis dengan warga NU. Tak heran shalawat badar seolah menjadi  “lagu wajib” bagi warga NU.Bahkan, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa pada Raker Pengurus PP Muslimat NU di Jakarta (19/10/2012) mengumumkan bahwa shalawat badar wajib dibaca untuk mengiringi pembacaan ayat suci al-Quran di setiap kegiatan seremonial Muslimat. Saking sakralnya, Muslimat akan memasukkan shalawat badar dalam peraturan Organisasi Muslimat NU.

Asal Mula Shalawat Badar
Mungkin banyak yang tidak menyangka, bahwa Shalawat Badar merupakan “produk asli dalam negeri”. Sebab, syairnya dibuat oleh ulama asli Indonesia, yaitu Kiai Ali Mansur dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kiai Ali Mansur adalah cucu KH Muhammad Shiddiq Jember dan keponakan dari ulama besar pengarang kitab Tanwir al-Hijja, yaitu KH Ahmad Qusyairi.

Pada saat itu, sekitar tahun 1960-an, Indonesia dalam situasi mencekam karena kekejaman pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). KH Ali Mansur yang saat itu menjadi pengurus NU dan menjabat sebagai Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, merasa gundah dan gelisah memikirkan semakin gawatnya fitnah dan kekejaman. Bahkan, banyak kiai NU yang terbunuh karena kekejaman PKI.Keadaan yang mencekam tersebut mendorong Kiai Ali Mansur yang dikenal ahli dalam membuat syair, menulis bait shalawat Nabi sebagai sarana bermunajat dan mohon pertolongan Allah SWT. Konon, di tengah menulis syair, Kiai Ali tertidur dan bermimpi didatangi orang-orang berjubah putih-hijau.

Pada malam yang sama, isteri beliau bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad SAW. Kiai Ali kemudian menanyakan perihal mimpinya tersebut kepada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi mengatakan, bahwa orang-orang berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang sangat dimuliakan  tersebut, Kiai Ali semakin bersemangat dan  bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut.
Lalu malam harinya, Kiai Ali menyelesaikan karya  syair yang kemudian  dikenal dengan sebagai "Sholawat al-Badriyyah" atau "Sholawat Badar”. Keesokan harinya, rumah Kiai Ali Mansur tiba-tiba didatangi oleh tetangganya dengan membawa beras dan  berbagai bahan makanan yang sangat banyak.

Kepada Kiai Ali, mereka bercerita bahwa telah didatangi oleh orang-orang berjubah putih dan menyuruh mereka membantu Kiai Ali Mansur, karena besok  akan ada acara besar dan kedatangan banyak tamu. Karena itulah mereka datang membawa bahan makanan.  Tanpa disuruh, ibu-ibu langsung sibuk memasak makanan di dapur hingga larut malam.
Menjelang pagi, tiba-tiba datang serombongan habaib yang diketuai oleh Habib Ali bin Abdur Rahman al-Habsyi atau dikenal dengan  Habib Ali Kwitang dari Jakarta. Kiai Ali sangat terkejut sekaligus gembira menerima kedatangan banyak tamu istimewa. Belum hilang rasa herannya atas kedatangan para habib yang mendadak, tiba-tiba Habib Ali Kwitang bertanya mengenai syair shalawat yang ditulis oleh Kiai Ali Mansur.

Tentu saja Kiai Ali Mansur terkejut karena karangan yang beliau tulis itu belum sempat diberitahukan kepada siapapun, yang tahu hanya dirinya sendiri. Namun, Kiai Ali Mansur segera menyadarai bahwa ini adalah satu karomah Habib Ali yang terkenal sebagai waliyullah sehingga tanpa banyak bertanya, Kiai Ali Mansur segera menunjukkan syair karyanya itu dan   membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu.
Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk, dan banyak yang meneteskan air mata. Habib Ali lantas menyerukan kepada jamaah yang hadir agar sholawat badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Shalawat badar ini juga dimaksudkan untuk membangkitkan semangat warga NU untuk memerang meng-counter  “Genjer-genjer” yang dijadikan sebagai lagu proraganda oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), ormas wanita anderbow PKI.  

Selanjutnya, Habib Ali mengundang para ulama dan habaib ke Kwitang untuk menghadiri pertemuan, termasuk Kiai Ali Mansur bersama pamannya Kiai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiai Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya. Sejak saat itu bertambah terkenallah sholawat badar di kalangan masyarakat dan menjadi  menjadi bacaan populer dalam majelis-majelis ta'lim dan pertemuan hingga sekarang.
Semoga  shalawat Badar  terus berkumandang sepanjang zaman, seiring dengan semangat perjuangan warga NU, serta menjadi amal jariah bagi Kiai Ali. Amin.(berbagai sumber)

Penulis Oleh: Ariyana Wahidah (Pengurus Bidang organisasi PP Muslimat NU)
Advertisement

Advertisement