Rabu, 20 September 2017

Karomah Kiai NU Blitar, Menginsyafkan dan Memuallafkan Kawanan PKI

MusliModerat.net - Pada awalnya, kekondangan Kiai Yasin Yusuf sebagai muballigh hanya di daerah Blitar. Pada saat itu, PKI masih berkuasa di tempat beliau mengajar dan berdakwah.

Suatu hari ada empat orang pemuda yang dikabarkan telah bersiap membunuh Kiai Yasin. Mereka berada di tempat persembunyian dan akan memanah saat Kiai menyampaikan ceramah. Kiai Yasin berpesan kepada Ibrohim, seorang pendamping setianya untuk selalu bertawakal dan sabar atas segala yang akan terjadi. Ketika Kiai Yasin sedang menyampaikan ceramahnya di tengah-tengah warga NU, Ibrohim melihat keempat pemuda tadi menarik busur panah yang lancip dan beracun itu tepat mengarah kepada sang kiai. Begitu takutnya beliau apabila busur panah itu akan lepas dan mengenai Kiai Yasin, tapi apalah daya dia yang teringat pesan Kiai. Ibrohim hanya mampu berdoa untuk keselamatan teman sekaligus gurunya itu.
Tiba-tiba, keanehan pun terjadi. Meski telah lama menarik busur panahnya, namun keempat orang itu tidak ada satupun yang dapat melepaskannya. Tapi tidak juga ada yang membatalkan sasaran anak panahnya. Mereka tetap saja menarik anak panahnya masing-masing dengan kuat-kuat tapi posisi mereka berdiri mematung tak bergerak. Sampai pada akhirnya Kiai Yasin turun panggung dan mendekati mereka. Setelah disentuh oleh Kiai, barulah mereka tersadar, ketakutan dan minta maaf. Di depan Kiai Yasin mereka mengaku sebagai anggota PKI yang bertugas membunuh Kiai Yasin. Mereka langsung bertobat dan mengucapkan kalimat syahadat di depan Kiai Yasin dan para jamaah. Sejak itu mereka aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan rajin menjaga keselamatan para kiai NU.
Banyak kisah misteri yang menyelimuti perjalanan Kiai Yasin sebagai seorang muballighkondang ini. Salah satunya, menurut sebuah cerita, apabila mikrophon yang digunakan untuk ceramah terkena sabotase orang sehingga rusak, biasanya beliau langsung melepaskan sepatunya untuk digunakan sebagai ganti mikrophon. Dan, ternyata dapat berfungsi dengan baik, seperti mikrophon sungguhan: dengan suara yang nyaring dan menggema sebagaimana mikrophon pada umumnya.
Dalam satu kisah lain disebutkan, ketika nyawa Kiai Yasin diancam orang, ia tidak pernah melakukan perlawanan secara fisik. Namun anehnya, pengancam itu malah seringkali mematung. Semua gerakannya terkunci. Tidak dapat bergerak, tapi tetap dalam kondisi sadar. Kuncian itu baru bisa lepas kalau sudah disentuh oleh Kiai Yasin.

Baca Lengkap tentang KH Yasin Yusuf Klik Disini
Advertisement

Advertisement