Kamis, 28 September 2017

Kaos Turn Back Allah Laris, Sok Islami Boleh, tapi Harus Cerdas

MusliModerat.net - Heboh kasus acara bertajuk “Turn Back Quran” yang diselenggarakan oleh SMK Negeri 6 Bandung pada akhir Maret 2017 lalu sebetulnya sangat menarik kalau mau dicermati. Setelah kasus ini viral mereka sudah mengungkapkan permintaan maaf dan pernyataan menyadari kesalahan. Salah satunya sang Ketua Panitia, Irfan Nugraha.
“Waktu acara itu, saya memang belum tahu artinya. Saran judul itu dari teman saya. Nah, kalau masalah itu, saya kira Turn Back Quran itu artinya kembali kepada Alquran,”
“Selaku panitia, mungkin karena keteledoran saya ya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin karena kekeliruan saya ini jadi menimbulkan kesalah pahaman,”
Sang Kepala Sekolah, Ramdan, juga mengakui hal yang sama.
“Kalau siswa mau mengadakan kegiatan, alurnya konfirmasi dulu ke pembina. Terus dari situ ke (bagian) kesiswaan. Dari kesiswaan pasti diajukan ke kepala sekolah. Cuma waktu itu saya memang tidak melihat poster dari acara tersebut, saya hanya membaca substansinya saja,”
“Keterangan acaranya itu untuk mengajak teman-teman yang lain kembali mencintai Alquran. Itu kan tujuannya baik, benar, jadi ya saya setuju,”
Iya langsung saya konfirmasi, karena ini masalah yang berhubungan dengan agama, jadi enggak bisa di nanti-nanti. Kita bakal block semua postingan tentang acara tersebut. Intinya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat khususnya di media sosial yang membaca tulisan itu. Ini hanya kesalah pahaman pengertian makna saja,”
Buat saya itu bukan sekedar kesalahpahaman pengertian makna. Tapi menunjukkan rendahnya budaya literasi dan kecenderungan generasi muda (dan yang tua juga) untuk asal menyerap dan mengkopi apa yang sedang trend tanpa mencari tahu seluk beluk sebenarnya. Ditambah lagi tentu berarti ada kecerobohan dan sikap cuek dari pendidik maupun siswa lain di sekolah tersebut. Kok bisa?
  1. Jika budaya literasi sudah bagus anak-anak ini pasti akan mencari tahu dulu apa makna turn back. Bukan mengartikannya sendiri. Kemampuan berbahasa Inggris yang buruk sebetulnya pun tidak bisa dijadikan alasan karena sekarang google sudah menyediakan akses untuk kita banyak mencari tahu.
  2. Mereka hanya mengikuti apa yang sedang in. Sejak penangkapan teroris dan kaos turn back crime menjadi hits frase turn back memang terdengar sangat ear catching. Sehingga hanya dipandang “wah asyik nih kayaknya pakai kata-kata ini” maka mereka serta merta menggunakannya. Tidak ada upaya mencari tahu lebih dulu. Kemana generasi muda yang seharusnya kritis dan haus pengetahuan?
  3. Mengapa bisa dibilang ceroboh dan apatis? Sepengalaman saya mengurus acara yang namanya membuat judul acara, poster, spanduk, proposal, dll itu ada prosedur supervisinya. Sebelum naik cetak akan dicek satu-satu termasuk mungkin ada penulisan yang salah, kata yang kurang tepat, desain yang kurang menarik, kontak yang tak tercantumkan, dll. Kok bisa lolos? Dan saat acara apakah guru Bahasa Inggris tidak merasa janggal? Atau guru-guru dan siswa lainnya? Kan aneh sekali rasanya.
Dan konyolnya ternyata tak hanya acara ini saja yang sudah salah kaprah dalam memaknai kata “turn back”. Di ranah online shop dan akun-akun media sosial yang gemar mengunggah status provokatif juga banyak yang berjualan atau mengupload foto bertuliskan turn back Quran, Turn Back Sunnah  maupun turn back Allah. Ya begini kalau bodoh tapi sok pinter dan sok agamis. Lupa mungkin kalau wahyu yang pertama turun itu bunyinya “Iqra” alias bacalah. Suatu tuntunan dari Allah SWT bahwa umat Nabi Muhammad harusnya banyak membaca (tidak hanya Quran tentunya).
Dari sini saya juga jadi paham pantas saja masyarakat kita itu gampang diprovokasi. Bagaimana tidak? Mereka hanya mengikuti apa yang ramai dibicarakan, percaya mentah-mentah dengan pemahamannya yang kadang dangkal, tidak mau belajar, dan malas mencari tahu serta susah jika diberitahu yang benar. Bisa jadi juga mereka yang kini teriak-teriak komunis dan PKI bangkit itu sebetulnya juga nggak tahu komunis itu apa.
Makanya to kalau Bahasa Inggris acakadut nggak usah sok keminggris…

Dishare dari Seword
Advertisement

Advertisement