Kamis, 14 September 2017

Kalian Menyebutnya ‘Si Buta’ Tapi Kalian Tak Berhati Mulia Sepertinya

MusliModerat.net - Anda boleh sepakat atau tidak dengan sosok Gus Dur yang fenomenal. Tapi yang jelas bagi saya, Gus Dur adalah bapak bangsa yang  langka, unik, dan dikagumi oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Gus Dur juga memang dikenal sebagai sosok yang kontroversial (bagi kaum bumi datar) lantaran pemikiran-pemikirannya. Oleh sebab itu, banyak yang bilang membicarakan Gus Dur , itu seperti tidak ada habisnya.
Tujuh puluh tujuh tahun silam, pasangan Wahid Hasyim dan Solichah dikaruniai seorang anak pertamanya di Jombang, Jawa Timur.
Anak lelaki ini tentunnya menjadi kebanggaan keluarga, siapa sangka jika kelak menjadi orang besar di Indonesia dan bahkan memimpin negeri ini. Dia lah cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hasyim Asy’ari yang dinamai Abdurrahman Wahid atau yang kemudian hari dikenal dengan Gus Dur.
Apa saja yang menjadi pembicaraannya selalu menjadi berita bagi kalangan awak media, Gus Dur sosok yang unik dan humanis. Bahkan banyak kisah-kisah menarik yang terkadang tak terpikirkan oleh kita malah jadi sebuah kisah unik dari seorang sosok kebanggan kita ini.
Enam belas tahun lalu, tepatnya Jumat, 4 Agustus 2000, Gus Dur yang waktu itu masih menjabat sebagai presiden RI ke-4 menerima ucapan selamat ulang tahun dari kerabat dan kawan-kawannya di Istana Bogor, Jawa Barat.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ulang tahun Gus Dur memang selalu diperingati pada tanggal itu. Padahal, sebenarnya tanggal lahir Gus Dur salah, bukan 4 Agustus 1940.
Lalu kenapa tanggal lahir Gus Dur bisa salah?Nah, mungkin Greg Barton bisa jadi rujukan kali ini sebab ia adalah penulis Biografi Abdurrahman Wahid. Ternyata sebenarnya presiden ke-4 RI itu dilahirkan pada hari keempat bulan kedelapan. Namun tanggal lahir Gus Dur itu berdasar pada kalender Islam, yakni bulan kedelapan maksudnya adalah Sya’ban.
Dengan demikian, Gus Dur sebenarnya dilahirkan pada 4 Sya’ban 1359 Hijriyah, yang sebenarnya dalam kalender Masehi tepat pada Sabtu, 7 September 1940. Gus Dur dilahirkan di rumah kakek dari pihak ibunya, Kiai Bisri Syansuri, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Tak pastinya tanggal lahir Gus Dur ini karena buku doa yang berisi tanggal lahirnya hilang saat perang. Gus Dur juga pernah  ambil pusing soal waktu pasti dia lahir.
Bercerita tentang Gus Dur memang tak ada habisnya, saya jadi teringat dengan  tulisan Mahfud MD dalam salah satu bab di buku berjudul ‘Setahun Bersama Gus Dur’.
“Kalau ingin membuat Gus Dur marah, berilah dia informasi bahwa ada orang lemah yang diperlakukan sewenang-wenang. Jika mendengar ada orang kecil atau rakyat jelata diperlakukan secara tidak adil, biasanya Gus Dur langsung marah dan bereaksi sangat keras,” Tulis, Mahfud MD.
Sebagian besar perjalanan hidup Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur, dihabiskan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Menurut Mahfud, Gus Dur memiliki perasaan yang sangat peka jika mendengar seseorang diperlakukan secara tidak adil.
Memilih Baharuddin Loppa sosok penegak hukum yang fenomenal, mendandakan Gus Dur dalam memilih pejabat, yang pertama-tama dijadikan ukuran adalah informasi tentang kejujuran atau rekam jejaknya. Kemudian kepekaan dan keberpihakannya terhadap rakyat kecil. Nah, tak heran juga jika Gus Dur bongkar pasang kabinet.
Kisah mantan Kapolda Metro Jaya Mulyana Sulaiman bisa menjadi salah contoh bagaimana Gus Dur mempertahankan orang yang dipandangnya baik. Menurut Mahfud, ketika masa jabatan Mulyana sebagai Kapolda Metro Jaya berakhir, Gus Dur ingin agar masa jabatan Kapolda tersebut diperpanjang.
Gus Dur juga kita kenal sebagai pembela kelompok minoritas, ia tak ingin ada diskriminasi sebab bagi Gus Dur “mencintai Tuhan itu dengan cara mencintai ciptaannya” lihat saja bagaimana marahnya Gus Dur ketika segerombolan massa membubarkan aksi di Monas, bahkan beliau berkata “organisasi bajingan”.
Walaupun sering dihina oleh kaum bumi datar, Gus Dur tetaplah Gus Dur ia tak bakal membenci orang lain, ia sosok yang sederhana berhati mulia. Gus tak pernah pergi ia hanya pulang dan pemikiran-pemikirannya tetap hidup dalam benak kita. Matanya boleh terpejam dan dihina oleh mereka tapi hatinya jauh lebih mullia dari mereka.
Mungkin Gus Dur memang buta matanya, tapi tidak dengan hatinya. Gus Dur selalu ada dengan orang-orang tertindas tanpa memilah berdasarkan latar belakang agama. Doa kami selalu menyertaimu Gus.
Dishare dari Seword
Advertisement

Advertisement