Selasa, 19 September 2017

Jika ingin Publik Percaya Bangkitnya PKI, Ulangi Berita Bohong itu Berkali-kali

PKI MENURUT KH. HASYIM MUZADI

Oleh: Mblo Makmun Rasyid Al-Hafidz
Duishare dari : Blo Syaroni Asyamfuri

MusliModerat.net - Foto abah Hasyim Muzadi saat berbicara di depan massa Front Pembela Islam (FPI) di Gedung Gradika, Kota Pasuruan, Kamis (7/1/2016). Beberapa media yang pernah meliput berita ini, kembali di share oleh barisan sumbu pendek. Ditambah dengan menyandingkan abah dengan Habib Rizieq tentang isu PKI dan anak-anak eks PKI.

Abah dalam ceramahnya yang berjam-jam ini tidak sedikitpun menyuruh agar membenci anak-anak eks PKI. Justru abah memberikan ujaran, "Mereka kan sudah bebas. Sudah bisa jadi menteri, jadi dewan, jadi gubernur dan bupati, kok masih minta supaya Presiden minta maaf. Itu kan berlebihan". Artinya, silahkan menikmati di suasana baru tapi jangan menuntut lebih. Tapi jangan artikan bahwa abah mendukung anak-anak eks PKI atau gagasan komunisme tumbuh kembali. Sebab, jika abah berbicara tentang konsep "kewaspadaan", abah menggunakan patokan ke Piagam Madinah. Ringkasnya, bersama membangun negara bukan berarti melepaskan sikap kewaspadaan kita. Pihak eksternal kemungkinan bisa menyerang dan pihak internal kemungkinan bisa bertikai.

Kesimpulan saya, jika dikumpulkan semua dokumentasi abah yang berbicara, khususnya yang saya transkip, abah hanya menyuruh untuk mewaspadai tumbuhnya kembali neo-komunisme yang disetir dari Belanda, tapi menyikapinya harus proporsional. Menyikapi secara berlebihan bisa membuat luka lama muncul kembali dan membuat suasana menjadi tidak stabil.

Saat diliputnya berita antara apa yang diucapkan abah dengan Habib Rizieq itu berbeda. Jadi tidak perlu menyandingkannya atau menjustifikasi ungkapan abah untuk Habib Rizieq. Sebab penekanannya berbeda. Saat itu Habib Rizieq berbicara tentang gagasan komunisme dan neo-komunisme yang disuntik dalam film-film seperti Sang Penari dll. Sedangkan abah menjelaskan cara dan sikap kita terhadapnya. Jika berani berkata bahwa PKI akan bangkit dengan sederetan nama-nama, serahkan data itu ke pihak yang berwewenang. Jangan hanya mengumbar dan ceramah di kalangan awam yang mudah terprovokasi. Seperti yang diujarkan Alfian Tanjung, pernah ada rapat di atas jam 8 di Istana. Buktikan saja, agar masyarakat tau. Siapa yang benar dan siapa yang "asbun".

Sebagaimana perkataan populer, "Jika Anda ingin publik percaya dengan berita bohong, maka rutin ulangi berita bohong tersebut berkali-kali, hingga publik percaya bahwa itu adalah berita benar" (Joseph Goebbels, Pakar Propaganda Nazi). Maka pertanyaan yang ada di benak saya adalah "manakah yang berbahaya, antara PKI dengan HTI-Wahabi?". Jangan sampai isu ini menjadi "komoditas politik". Dan ingat, siapa yang kerap melempar balon yang tidak cocok dengan khas Indonesia, maka balon itu akan kembali kepada dirinya sendiri.

Tanggapan bagus Mblo Khairul Surya: Kalau anak keturunan PKI yang tak bersalah pun dimusuhi, seharusnya Islam oleh Rasulullah Saw. tak mengakui keislaman Wahsyi dan Hindun, karena sudah membunuh paman Nabi. Atau kita juga ajami (non-Arab) seharusnya juga dimusuhi karena ketika Islam masuk malah memeranginya. Kalau berbicara konteks negara, maka bukan hanya keturunan PKI tapi keturunan DII atau Teroris Nurdin M. Top pun harus dibasmi kalau gitu. Stress atau phobia orang-orang ini?
Advertisement

Advertisement