Kamis, 28 September 2017

Jakarta Mulai Panas, Pak Dhe Jokowi Butuh Gerakan Pemuda Ansor

MusliModerat.net - Sejak keluarnya Perppu pembubaran ormas Agustus kemarin, saya terus memantau pergerakan HTI..
Dimana mereka ? Apa yang sedang mereka lakukan ? Mereka tidak mungkin diam begitu saja. Terlalu berharga jaringan yang mereka bangun selama bertahun-tahun lamanya, untuk kemudian hilang begitu saja.

Memang plang-plang nama tempat kantor mereka berdiri sudah ditutupi, bahkan ada yang dicabut. HTI harus menarik mundur dulu pasukannya, karena bergerak di tempat terbuka tentu tidak menguntungkan.
Saya memprediksi, bahwa HTI sedang menyusup masuk ke ormas2 agama yang mempunyai "musuh" yang sama dengan mereka. Baju mereka dilepas sementara, dan bergabung dalam barisan yang bersimpati maupun yang terancam keberadaannya karena juga berpotensi dibubarkan.

Nah ketika isu PKI ini semakin meruncing, barulah mereka keluar dari sarangnya. Isu ini terlalu seksi untuk dibiarkan begitu saja. Momentum yang bagus sekali untuk mengerahkan sumber daya mereka yang selama ini tiarap dan menunggu perintah.

Bisa kita lihat, bahwa dalam demo Jumat nanti - aksi 299 - ada penggabungan tema, "Tolak Perppu Ormas dan kebangkitan PKI". HTI menumpang isu PKI untuk mengerahkan massanya.
Kabarnya HTI akan menurunkan kader2nya sejabodetabek, jabar, jateng dan jatim ke Jakarta. Mereka akan memperkuat barisan dengan kelompok2 agamis dan politik yang mempunyai kepentingan berbeda tetapi mempunyai musuh yang sama.

Target mereka adalah menguasai DPR dan menuntut adanya sidang istimewa. Situasi akan dibangun supaya umat-umat awam juga bergerak dan bergabung dengan mereka.
Modelnya persis gerakan 411 yang gagal kemaren. Isu ada PKI di istana ini sama seksinya dengan isu penistaan agama. Umat awam akan terprovokasi bahwa mereka akan melawan PKI.

Itulah kenapa nobar-nobar dibangun di beberapa wilayah untuk menaikkan tensinya. Ada step-stepnya..
Logistik mereka kali ini kuat. Karena mereka melakukan negosiasi dengan partai politik yang berseberangan dengan Jokowi.

Dengan logistik gabungan - HTI, parpol, pengusaha hitam, bahkan dana dari luar - mereka akan lebih mudah memobilisasi peserta demo dari luar Jakarta.
Yang mengkhawatirkan adalah adanya provokasi-provokasi supaya terjadi benturan antara aparat dan pendemo. Dengan terjadinya benturan, maka mereka akan memainkan permainan "terzolimi" yang biasa mereka lakukan. Benturan itu akan menaikkan tensi untuk menggerakkan demo selanjutnya yang lebih besar.

Dengan adanya "kekuatan" itu, maka mereka akan melakukan negosiasi dengan pemerintah. Negosiasi yang jelas menguntungkan mereka, termasuk bagaimana bang thoyib - yang berbulan2 hilang - bisa pulang ke Indonesia tanpa harus mendapat hukuman.
Menarik melihat apa yang akan dilakukan pemerintah kali ini. Apakah harus bernegosiasi dengan mereka atau mengambil jalan berbeda ?

Jakarta semakin panas menuju Pilpres 2019. Gelombang demo besar kedua - yang pertama karena kasus penistaan agama - akan dimainkan untuk menekan kewibawaan pemerintah.

Sambil seruput kopi, saya hanya ingin sedikit mengingatkan Presiden Joko Widodo..
Pak, jangan lupa bahwa umat Islam bukan mereka saja. Ada NU, ada Ansor dan ada Banser di tengah kita. Total jumlah kekuatan mereka jauh lebih besar dari kelompok yang mengatas-namakan agama itu.
Undang mereka untuk berbagi pemikiran. Bapak butuh kekuatan baru selain apa yang bapak punya sekarang. Setidaknya, kehadiran mereka akan menggentarkan orang-orang berjubah yang terus menerus menjual agama itu..
Semoga pemikiran saya sampai ke meja dimana Bapak sedang mengatur strategi langkah apa yang harus dilakukan sekarang ini..
Seruput dulu, pakde...

Disahre dari Denny Siregar
Advertisement

Advertisement