Kamis, 14 September 2017

Ceramah Habib Luthfi bin Yahya: Sumber Kehancuran Bangsa dan Kunci Perdamaiannya

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera, salam kedamaian, salam kebahagiaan untuk kita semuanya. Selamat malam. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmatNya pada malam hari ini kita bisa duduk bersama. Mustahil tanpa pertolongan Yang Maha Kuasa kita bisa duduk bersama.
Yang saya hormati dan yang saya banggakan, para sesepuh, para pini sepuh, tokoh-tokoh agama yang selalu kami banggakan. Mengapa tidak, karena beliau-beliau tidak terlepas daripada benteng-benteng Pancasila yang ada di Indonesia. Yang mem-backup kekuatan Pancasila adalah agama-agama, khususnya yang ada di Indonesia ini.

Dan yang saya hormati dan saya banggakan, Bapak Danrem atau yang mewakilinya, Bapak Dandim, Bapak Kapolres, Bapak-bapak dari Muspika, Bapak-bapak dari instansi pemerintahan, sipil, TNI, Polri, yang selalu kami banggakan. Dan yang saya hormati, koor dari Gereja Santo Petrus, dan yang lain. Maaf kalau saya tidak menyebut yang lain-lainnya, karena yang saya hapal cuma satu. Kalau saya hapal semua akan saya sebut satu persatu. Dan yang saya hormati Bapak Danramil, Bapak Kapolsek Utara, Pak Camat beserta jajarannya, panitia penyelenggara dalam rangka Doa Bersama pada malam hari ini.
Hadirin yang berbahagia. Di dalam kita berkumpul yang demikian ini, adalah ada satu kekuatan yang sangat mahal untuk kami semuanya. Diantaranya, karena kita kumpul di sini didorong oleh kekuatan ajaran agama masing-masing, yang pada dasar intinya untuk mensyiarkan kedamaian yang berasaskan kedamaian itu sendiri dengan kasih sayang sesama kita. Itu intinya yang paling mengena.

Maka ketika kita telah menjelma kasih sayang di antara sesama kita pasti kedamaian itu akan semakin kokoh, semakin kuat, semakin melejit. Dan cahaya kedamaian itu tidak dirasakan untuk kami Bangsa Indonesia saja. Karena cahaya kedamaian itu akan ditiru, mungkin oleh lain bangsa sponsor Indonesia. Saya yakin itu. Lain daripada itu, dengan kasih sayang dan kedamaian akan semakin melekat pada diri kita semuanya. Kita melihat tokoh-tokoh sesepuh kita, dari Budha, Hindu, Kristiani, Katolik, Protestan, dan lain sebagainya, yang Muslim juga. Kita melihat secara langsung, ternyata semuanya koq Indonesia. Beda memang, ok, beda. Tapi saya kira tidak ada kalimat ‘Beda Indonesia’. Sependapat ndak kira-kiranya itu? Sependapat. You Muslim, yes. You Kristiani, yes. Tapi Indonesia, Ooo Yes! One Indonesia, no Two Indonesia. “One Indonesia!” Kalau bisa begini kelihatannya kan enak, bahagia sekali.

Rahmat Yang Maha Kuasa itu cepat turun karena kedamaian. Coba ribut terus, berkah dicabut, isinya hanya permusuhan, curiga, dan lain sebagainya. Ya ndak ada habisnya. Kalau orang selalu mencari kejelekan, saya jadi teringat nasihat guru saya, “Luth, Luth...”
“Dos pundi Yai?” (Ada apa Kiai?)
“Koe nek ndelok uwong, irungmu kui kekno minyak wangi. Plethoki. Ngambung sopo wae wangi engkone. Wis, bojomu kuwi sing isih masak mambune kompor, sing nganggo kayu mambune kayu, ning sedep wae mergo ning isor irunge ono minyak wangine. Sepira ayune, nek ono teleke (irunge), lhah… wadhuh… Wis ayu-ayu, aduse tenanan mambune telek. Lha ora weruh sing ditlethoki telek ingsor irunge dewek.” (Kamu kalau melihat orang lain, hidungmu itu dikasih minyak wangi, dioleskan. Nantinya mencium siapa pun akan wangi. Jika istrimu saat memasak maka akan berbau kompor, yang memakai kayu bakar maka berbau kayu, tapi tetap sedap karena di bawah hidungmu ada minyak wanginya. Secantik apapun jika di bawah hidungmu ada kotorannya maka jadi tak karuan. Sudah tampil cantik, mandinya sungguhan, ternyata bau kotoran. Dia tidak melihat, ternyata yang ada kotoran di bawah hidungnya sendiri).

Itulah kalau kita selalu memandang tidak baik, curiga terus, saya mengingat; ‘Eh di hidungku ada kotorannya tidak!’. Nah ini suatu ajaran dari sesepuh-sesepuh kita. Dari sinilah kekuatan yang tanpa kita prediksi.
Dengan doa bersama ini melambangkan dan menunjukkan suatu kekuatan Indonesia yang tidak main-main. Saya sedikit memperingatkan untuk kita semuanya, kalau Indonesia ini umpanya ditekan oleh oknum-oknum politik entah luar negeri atau siapapun, saya sebut sebagai oknum tanpa menyebutkan bangsaya, kita ndak mempan. Digoyahkan tentang faktor ekonomi, Indonesia masih tetap kuat. Ujungnya yang paling berbahaya adalah, ‘benturkan antar-umat beragama’. Itulah kehancuran Indonesia. Maka dengan adanya malam hari ini kita kumpul, termasuk dari Bela Negara, Bela Indonesia! Buktikan!

Saya itu kalau jalan-jalan di pelabuhan, jadi malu. Sepele sebetulnya. Kalau jalan-jalan ke pelabuhan ketika melihat ikan laut itu menjadi malu, bagi pribadi saya, entah orang lain saya ndak ngerti. Malunya di mana? Filosofi yang ada di dalam laut itu kita hanya memandang keindahan laut, ikannya besar-besar, kapalnya besar-besar dan lain sebagainya. Tapi ada kandungan filosofi yang sebetulnya mata pelajaran untuk Bangsa ini yang sangat berharga, tiada ternilai harganya.
Diantaranya (yang pertama), se-Pekalongan ini yang namanya sungai ada berapa jumlahnya, yang kecil hingga yang besar, semua lari ke lautan. Belum kalau kita hitung se-Jawa, sungai yang kecil hingga yang besar semua larinya ke lautan. Kalau musim hujan per-detik itu berapa milyar kubik (air) tak terhitung jumlahnya, membawa limbah dari mulai bangkai hingga kayu, sampah dan macam-macam (lainnya). Tapi anehnya, koq tidak mampu mengotori laut. Pasti dibawa gelombang, outs, minggir. Maka pantai itu jarang ada yang bersih, mesti kotor. Karena lautnya tidak mau menerima kotor. Jadi kalau kita berpikir, lautnya tidak mau menerima kotor berarti apa yang ada di dalam laut mesti sehat.

Yang kedua, ketika air bah musim penghujan semua masuk ke laut, berapa per-detik? Berjuta-juta kubik bahkan milyaran. Namun sampai sekarang sudah sebegini tuanya, belum pernah mendengar asin air laut berubah, melentur gara-gara air banjir masuk ke laut. ‘Koq hebat!’ saya pikir. Laut punya jatidiri yang tidak mudah digoyahkan, yang tidak mudah dibenturkan. Saya sampai bertanya, ‘Hei laut, aku ini malu sama kamu, sebenarnya yang jatidirinya kuat itu kamu atau saya?’ Kalau jatidiri Bangsa ini seperti contoh ini, disebut-sebut Tanah Air, sungguh luar biasa.
Belum ikan-ikan yang ada di laut. Secara logika, ikan-ikan yang di laut karena berasal dari air yang asin mestinya cukup dijemur sudah menjadi ikan asin. Lha koq malah (masih perlu) dibelah-belah dan diberi garam lagi. Akalku menolak sebenarnya; ‘Berasal dari air asin koq digarami lagi!’ Ternyata rasanya tawar. Kalau dipikir-pikir, ikannya tawar bertempat di air yang asin tapi tidak berebutan (saling mengintervensi) kamu harus ikut aku!. Kedua-duanya hidup bersama antara air yang asin dengan ikan yang tawar. Kira-kira kita kalah dengan hal itu atau tidak?

Para hadirin yang saya banggakan dan yang saya hormati. Maka dari itu, dengan contoh-contoh yang cukup dari apa yang dijadikan oleh Yang Maha Kuasa untuk kami semuanya, bukan suatu tontonan, sebetulnya menjadi tuntunan. Filosofi-filosofi di sini sangat banyak, bukan hanya lautan. Sampai wayang pun menjadi pelajaran yang sangat tinggi. Maaf, masa dulu belum ada SD, tapi SR. Usia saya sudah 72 hitungan Hijriah, dan 70 tahun hitungan Masehi. Anak-anak seusia saya dulu bacanya itu komik, mulai dari Mahabharata, Arjuno Sosrobau, Krisno Buto, dan lain sebagainya. Rata-rata hapal ratusan nama, seperti Pandawa Lima dan ibu dari masing-masing pandawa, bahkan hapal silsilahnya.
Kandungan filosofi yang sangat luar biasa, saya hanya memetik tiga saja. Diantaranya yang pertama Krisna, kulitnya hitam. Kedua Werkudara, kulitnya juga hitam. Dan yang ketiga Semar, juga berkulit hitam. Ketiga-tiganya berkulit hitam. Apa makna hitam tersebut? Warna hitam itu sulit untuk diwarnai. Krisna didesain untuk menata. Bukan cukup di situ saja, kalau kita tafsirkan secara modern kekuatan Pancasila itu kental sekali sangat mewarnai. Karena Krisna memiliki ilmu yang ‘mandhita’, ilmunya para ulama, ilmunya para agama, dan sangat menguasai. Titisan nata (menata) yang memiliki ilmunya orang yang mandhita.

Yang kedua, Krisna memiliki kacabenggala. Cara Jawa-nya, weruh sakdurunge winara, yang jika diterangkan secara ilmiah tidak akan mampu. Digambarkan secara sederhananya oleh Sunan Kalijaga dengan kacabenggala. Kalau kita lihat itu hanya sebagai alat kesaktian, ternyata tidak, melainkan pendidikan untuk kita. Mendidik anak bangsa ini supaya mempunyai kewaspadaan, mendidik intelegensi kita yang tinggi. Mau tau apa yang akan datang (berpikir maju ke depan). Bagaimana dengan gelombang, dianalisis dengan tepat, tidak mudah terpengaruh oleh gelombang dan badai. Karena pandai membaca benggala tersebut. Jika ada berita-berita dia mampu menganalisa mana yang akan memecah-belah bangsa, antar-umat beragama, insya Allah tidak akan mempan jika daya intelegensinya tinggi.
Itulah kacabenggala peninggalan Betara Krisna dan ini diejawantahkan dari mulai Mahabharata menjadi wayang carangan yang digali oleh Kanjeng Sunan Kalijaga dan diejawantahkan lagi menjadi karangan. Dari mahabharata, carangan, menjadi karangan, ini sebagian pakemnya para dalang dan lainnya.

Yang ketiga Krisna memiliki senjata cupumanik, yang mampu menyimpan (memasukkan) orang sebesar apapun (kesaktiannya). Artinya kita dididik oleh para pendiri bangsa ini bisa menyimpan rahasianya bangsa (Negara). Tidak membuka aib saudara sendiri. Akhirnya jika ada oknum bangsa lain yang melihat kita jangan salahkan jika bertepuk tangan, sebab yang membuka pintunya adalah diri kita sendiri. Seperti ketika ada berita (buruk) oknum tertentu, baik TNI, Polri atau ustadz tertentu, selalu di-blowup, diangkat terus. Sehingga rasa kepercayaan kita kepada tulang punggung bangsa ini digerogoti sedikit demi sedikit. Bahkan semakin terpojok dan terpojok. Padahal kekuatan Indonesia saat ini adalah ulama, kekuatan tokoh agama, kekuatan TNI dan kekuatan Polri.
Bukan berarti untuk menutupi cacat bangsa sendiri, tetapi untuk ke luar kita tutupi dan ke dalam kita nasihati. Maaf saja, jika kampanye tidak usah menyinggung-nyinggung agama dan kebangsaan (ras). Tidak perlu membawa-bawa keturunan. Mau diapakan pun yang mata sipit, hidungnya mancung, lahirnya sama di Indonesia, dan lain sebagainya. Ayo bikin kerukunan dan kekompakan. Al-Islam is Peace, agama Islam itu damai. Mungkin agama lain juga akan mengatakan Nasrani is Peace, Budhis is Peace, Hindu is Peace. Tidak ada yang mengajak permusuhan dan perpecahan. Damai.

Contoh Wali Sanga hidup di jaman Hindu, bisa hidup bersama. Waktu masuk di Jawa tengah jaman Budha, hidup bersama. Masuk di Pajajaran juga Hindu, hidup bersama. Indonesia menjadi percontohan luar biasa. Sampokong umurnya sudah berapa ratus tahun, koq bisa tumbuh dan hidup, belum yang lainnya. Itu percontohan yang harus kita belajar kepada para beliau.
Yang keempat Krisna memiliki wijayakusuma. Bukan untuk menghidupkan orang yang sudah mati, melainkan menghidupkan atau menyuburkan tanah yang gundul, membuat pintar yang bodoh. Itu maksudnya, membangun kekompaan dan keilmuan. Indonesia ini bangsa yang cerdas. Maaf, Indonesia tahun 900 Hijriah sudah melahirkan tokoh ulama yang luar biasa dan mengajar jadi mahaguru di Masjidil Haram. Itu bangsa kita.

Ditarik lebih ke atas lagi semisal Gajah Mada. Bagaimana memberikan satu patriotisme dan kesatriaan dengan Sumpah Palapa-nya membentengi Nusantara dari mulai Madagaskar, Sri Langka, sampai Indo-Cina, beliau masuk untuk memagari. Secara bahasa halusnya, “Kamu jangan coba-coba dengan Indonesia atau jangan mengobok-obok Nusantara.” Inilah Gajah Mada Indonesia bisa menguasai Nusantara.
Yang kelima Krisna memiliki cakra, senjata pamungkas. Bisa mengatasi dengan segala kearifan dan kebijakan.
Tokoh kedua Bima, tulang punggung bangsa yang juga memiliki ilmu yang mandhita. Kalau sekarang, Pancasilanya kuat yang di-backup oleh kekuatan agama. Sehingga bisa melahirkan tiga tokoh. Pertama Gatotkaca yang ahli antariksa, ahli astronomi, ahli perbintangan, ahli elektro dan IT, bukan melihat kesaktiannya bisa terbang saja. Kedua Ontorejo yang ahli geologi, vulkanologi, pertanian dan pertambangan, bukan melihat kesaktiannya bisa menghilang di bumi saja. Pendidikan terdahulu sudah mengajak kita maju, intelektual ke depan bukan malah mundur. Putra Bima yang ketiga ahli kelautan.
Tokoh ketiga Semar, ada jambulnya, bisa mendem njero, bisa ngambung kahanan, perutnya besar. Melambangkan orang yang berilmu, bisa bercocok tanam, mempunyai lumbung padi, jagung, kacang hijau dan lain sebagainya.
Ini sudah menunjukan tiga komponen kekuatan yang diajarkan para sesepuh dan pendahulu kita. Tinggal kita mau mencernanya atau tidak. Dengan itu saya yakin Indonesia tetap jaya, tetap kuat dan semakin kokoh. Dengan semakin kokohnya ketahanan nasional maka semakin kokohnya NKRI, Harga mati, bukan basa-basi, bukan berarti mati melainkan ideologi NKRI ini harus kita jaga dengan kekuatan Pancasila. Jangan sampai kita melupakan sejarah. Pertanyaan terakhir, “Kita sudah andil apa untuk bangsa ini?”

Advertisement

Advertisement