Rabu, 06 September 2017

Berjiwa Besar Seperti Gus Dur, Alissa Wahid tak Marah Ketika Dicaci Maki

MusliModerat.net - Gus Dur boleh saja tiada, namun jiwa dan pemikiran Gus Dur ternyata bernar-benar terpatri dalam jiwa anak-anaknya. Kesabaran, sikap toleransi dan mau meminta maaf walau pun tidak salah yang sering ditunjukan oleh Presiden ke-4 Indonesia itu menjadi warisan terbaik yang diberikan kepada anak-anaknya.
Salah satu anaknya, Alissa Wahid telah membuktikan kalau apa yang diajarkan oleh Gus Dur tidak sia-sia. Alissa Wahid dibully karena mencuit pemikirannya tentang kasus di Rohigya, Myanmar.
Dalam sebuah cuitan yang dipublish Alissa Wahid ini menulis :
Alissa Wahid‏ @AlissaWahid : Dikirimi screencap instagram ini. Katanya: Anak si Buta. YES I AM AND PROUD OF IT!
Dibagian bawah cuitan itu dimuat gambar Alissa Wahid yang nampaknya sedang diwawancarai media. Ada tulisan : ANAK SI BUTA berwarna putih di gambar tersebut. Melihat itu, saya hanya bisa mengelus dada. Kok berani orang yang menulis kata itu. Apakah dia tidak tahu Gus Dur itu siapa? Ah… Rasanya tidak mungkin kalau tidak tahu. Sayang tidak ditampilkan utuh screenshoot tersebut. Andaikan utuh, mungkin akun si pengirim gambar itu sudah diserbu dengan oleh nitizen.
Tulisan YES I AM AND PROUD OF IT! Membuktikan betapa berbesar hatinya Alissa Wahid menerima hinaan itu. Bahkan dia menunjukan kebangaannya meskipun memiliki ayah yang disebut buta.
Cuitan tersebut mendapat banyak tanggapan. Salah satunya dari Gus Mus. Dalam komentarnya pemilik nama lengkap KH Ahmad Mustofa Bisri ini menulis :
A.Mustofa Bisri ‏@gusmusgusmu : Tak ada yang bisa menyakiti anakku Alissa Wahid. Apalagi hanya pecundang yang sakit jiwa. Dia adalah puteri Gus Dur yang perkasa. 💞
Berbeda Tetap Saudara
Meski telah dibully, bukan berarti Alissa menganggap si pembully adalah musuhnya. Baginya, justru walau pun berbeda dia menganggap tetap masih bersaudara dalam bumi pertiwi. Alissa Wahid mempublish beberapa cuitannya yang menunjukan bahwa dia sangat menghargai perbedaan.
Alissa Wahid @AlissaWahid : Pagi, tuips.Sekali lagi terimakasih atas limpahan doa, kasih sayang & dukungannya. Bagi saya ini tanda bahwa banyak kawan seperjuangan.
Alissa Wahid @AlissaWahid : Saya tak bisa membalas selain mengirimkan doa untuk tuips semua. Semoga berkah Tuhan melimpahi saya, tuips, & bangsa ini.
Alissa Wahid @AlissaWahid : Kepada tuips yg merasa tersakiti oleh twit saya, saya meminta maaf dari dasar hati. Beda pendapat memang rentan emosi, saya sadar.
Alissa Wahid‏ @AlissaWahid : Saya percaya itikad kita sama-sama baik, hanya kita punya ukuran yang berbeda soal kebaikan itu: untuk siapa, bagaimana caranya, mengapa.
Alissa Wahid @AlissaWahid : Untuk tuips yang memang membenci saya, iz OK. Anda berhak atas perasaan anda. Anda tetap saudara sebangsa saya di bumi Pertiwi ini.
Alissa Wahid @AlissaWahid : Bagi anda mungkin alasan membenci saya itu rasional. Ndak apa. Hak merasa itu hak asasi. Dan rasa toh tidak abadi. Bisa berubah.
Alissa Wahid‏ @AlissaWahid : Bagi saya, insya Allah kebencian Anda tak berpengaruh. Tetap sodara. Semoga kebencian Anda bisa menjelma menjadi kebaikan untuk rakyat.
Pelakunya Buta Hati
Sebenarnya mudah saja untuk menebak siapa pelaku pembuat tulisan ANAK SI BUTA di foto tersebut. Ya, siapa lagi pelaku kalau bukan kaum titik-titik. Kaum yang merasa paling benar sendiri. Kaum yang seenak udelnya saja menghina ulama yang berseberangan dengannya.
Mungkin saja si pelaku memancing pihak NU, Ansor dan Banser untuk mencarinya. Setelah ditemukan, maka pelaku akan berteriak-teriak telah dipersekusi. Dengan begitu, mudah pula pelaku membalikan cerita kalau dia telah jadi korban. Semoga saja NU, Ansor dan Banser bisa menghadapi ini dengan kepala dingin, walau sebenarnya hati bisa panas juga.
Si penulis sudah pasti buta hatinya. Jika saja tidak buta hati dia akan berpikir panjang menulis kata seperti itu di foto yang jelas-jelas anak orang yang dimaksud dengan kata si buta itu. Karenanya saya setuju dengan komentar Gus Mus, pelakunya hanyalah pecundang yang sakit jiwa.
Mungkin kalimat Gitu aja kok repot masih tergiang di telinga kita. Kalimat yang terdengar sepele itu, justru menurun ke anak-anaknya. Cuitan Alissa Wahid ini membuktikan kalua dia tidak terlalu repot dengan hinaan orang walau itu sangat menyakitkan. Jika saja Gus Dur masih ada saya membayangkan dia akan menanggapi ini dengan kalimat saktinya, “Biar aja, buat apa ditanggapin. Gitu aja kok repot,”.
Dishare dari Seword
Advertisement

Advertisement